Friday, August 27, 2010

Taman Rahasia

Post ini bukan tentang salah satu buku klasik karangan Frances Hodgson Burnett yang jadi favorit saya, tapi diilhami seorang teman baik yang tahu-tahu mengganti profile pic BBM-nya dengan gambar Spiderman  
( yes, that spiderman!) Saya sedikit heran, karena setahu saya, dia bukan fans superhero itu. Karena penasaran, akhirnya saya kirimkan message, " Why Spiderman?" Bisa aja kan, tahu-tahu dia nge-fans sama manusia laba-laba itu. Reply-nya ternyata cukup menarik. " Lagi ngerasa kayak spiderman aja....asyik berkutat dengan diri sendiri, kayak spiderman yang lagi 'jumpalitan' di ketinggian..."

Biarpun saya juga nggak termasuk fans-nya Spiderman tapi suka ngeliatin Tobey Maguire, saya cukup familiar dengan kisah si manusia nerd Peter Parker dengan alter ego superhero-nya itu. Dengan sekali-sekali berubah wujud jadi si manusia laba-laba, Peter jadi lebih nyaman menjadi dirinya sendiri. Saya jadi ingat  sama salah satu film favorit saya karena ada si ganteng Zac Efron, High School Musical. Dalam salah satu scene, Gabriela- yang dikasih nickname Einsteinette saking pintarnya- bilang begini sama sahabatnya, " Have you ever felt there's a whole other person inside you, trying to find a way to come out?" Waktu itu, Gabriela yang sehari-harinya terkenal sebagai jago fisika dan kimia sedang mempertimbangkan buat ikut seleksi pertunjukan musikal. Di kemudian hari, dunia barunya ini membantunya lebih menikmati eksistensinya sebagai jagoan ilmu pasti.

 Ada bagusnya lho, kalau kita semua punya semacam 'gua' atau 'taman rahasia' yang bener-bener bisa dibilang 'milik pribadi'. Mine, mine, mine. Ya memang sih, biar gimanapun, manusia itu makhluk sosial. Tapi, kita juga makhluk individu. Setiap orang pasti punya keunikan masing-masing, kesukaan masing-masing, hobi masing-masing. Pasti ada deh, sekaliiiiii....aja dalam satu kurun waktu- bisa satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun- yang kita pengen bisa sendirian. Bukan terus artinya bertapa di pinggir kali lho, tapi kalau istilah kerennya, ' me time'.Kalau boleh saya tambah lagi, ' me-place'

Salah satu selebritis kita- initialnya TG- punya ruangan khusus di rumahnya. Fisiknya ruang kerja biasa, sih. Tapi, TG yang punya hobi menulis ini merasa, ruang kerja itulah 'kerajaannya'. Di situ dia bisa bebas memuaskan hobi menulisnya ( intermezzo: cerpen-cerpennya memang keren justru karena idenya yang bizarre dan nggak standar ). Selain menikmati teritorial pribadinya, TG juga sangat menikmati hobi menulisnya. Karena dengan menulis, dia bisa jadi 'penguasa'. " Saya bisa jadi pembunuh, bisa juga punya pacar sekaligus tiga," begitu kata TG. Tapi yang lebih penting, dengan menulis di 'kerajaannya' itu, TG selalu merasa lebih santai dengan profesinya sehari-hari. Apalagi, sebagai seleb, ibaratnya dia tinggal di akuarium. Bisa jadi cuma di ruangan itu dia bebas dari para wartawan gosip biarpun dia nggak termasuk seleb yang sering digosipin.

Saat blogwalking beberapa tahun yang lalu ( astaganaga, lama amat yaaa...), seorang blogger pernah mengutip perbedaan menarik kebiasaan weekend orang-orang Asia dan orang-orang Eropa. Maaf nih, saya bermaksud nge-quote, tapi saya bener-bener lupa ini blog-nya siapa....anyway, orang-orang Asia cenderung menonjolkan dirinya sebagai makhluk sosial. Jadi, weekend pun maunya berkumpul ria, kalo bisa sekalian sama keluarga besar. Sedangkan orang-orang Eropa, cenderung punya kebutuhan individu yang lebih kuat. Weekend - paling enggak satu hari weekend- jelas waktu buat pribadi, biarpun sekedar baca buku di taman.


Saya termasuk orang yang lumayan menikmati kesendirian.Taman rahasia? Sudah pasti saya punya. Ada aja...biarpun nggak rahasia-rahasia amat, kok. Tanpa dikasih tahu pun, orang-orang yang kenal saya pasti tahu saya menghilang ke mana. Ya nggak masalah, selama sekali-sekali saya bisa ke sana sendirian dan betul-betul menikmati setiap detiknya. Karena kebetulan saya memang masih sendirian, saya menikmati kemewahan bisa lebih sering menghilang ke taman rahasia saya. Kadang malah keseringan, hihihi...maklum, fenomena kaum single-happy, kadang-kadang we have nothing but time...tapi di saat lain, tuntutan waktu buat para single fighters justru lebih sadis. Karena kita dianggap nggak punya tanggungan kecuali diri sendiri, seringkali banyak orang, mulai dari ortu, adik-kakak, temen-temen sampai atasan di kantor menuntut kita harus selalu siap sedia kapan aja di mana aja. Jadi ya perlu me-time, me-place juga.


Egois? Buat sebagian besar orang, kata-kata ini haram hukumnya buat didengar. Padahal, sampai kadar tertentu, egois itu normal. Manusia mana sih yang nggak punya ego? Lagi pula masa iya, menghilang satu atau dua jam, ngerjain apa aja yang kita suka, terus kembali ke dunia nyata dalam keadaan 'refreshed' dan 'recharged' sama dengan egois? Apalagi saat kita sendirian dan lagi asyik-asyiknya sama dunia kita sendiri, seringkali di situlah kita sadar gimana pentingnya orang-orang yang ada di sekeliling kita. Tandanya sederhana, kok: tahu-tahu muncul rasa kangen. Nggak perlu merasa bersalah, karena itu salah satu tanda kalau kita sudah 'recharged' dan siap kembali ke dunia nyata...


Jadi....go get your me-time and find your me-place....


I need a place where I can go,
Where I can whisper what I know…
I need a place where I can hide,
Where no one sees my life inside…
A place where I can go when I am lost,
And there I’ll find me


(From Secret Garden: The Musical)

1 comment:

  1. Btw, kenapa ada bagian yg dicoret? Tokh tetep aja bisa kebaca. Hehehe.

    Btw, kadang memang butuh waktu sendiri tapi bukan berarti melupakan waktu bersama. Apalagi orang kayak gua yang susah membelah konsentrasi, mau kerjaan serius ataupun hobby. Jadi kadang pas kerjain hobby, seperti main game atau baca atau nonton, langsung masuk ke dunia yang beda. Bisa diinterupsi sih, kalo orangnya memang dikasih ijin (secara otomatis spt ortu atau optional spt pacar :D - siapa tahu dikasih sesuatu yg lebih baik daripada nonton). Hehehe.

    ReplyDelete