Monday, August 30, 2010

Buku vs E-Reader

Di sebelah kondo saya ada toko buku bekas. Biarpun kecil dan agak ngumpet, tapi tempatnya cozy dan variasi bukunya menarik. Cukup sekali aja ke sana, saya langsung kompak sama pemiliknya, seorang laki-laki setengah umur bernama Joe.

Suatu sore, waktu saya lagi patroli di toko buku itu, kebetulan pengunjung lagi sepi. Emang udah mau tutup juga, sih. Saya juga udah mau cepet-cepet pulang biar bisa baca buku-buku yang udah saya timang-timang dari tadi. Juga biar tangan saya nggak bandel ambil kanan ambil kiri lagi. Di kasir, sambil menghitung total pembelian saya hari itu, Pak Joe tahu-tahu nanya begini, " Do you like having a community bookshop around?"

Untung nggak ada temen-temen saya! Pasti semuanya bakal bilang kalo si bapak salah nanya. Ya iyalah, seneng! Toko buku jauh aja saya jabanin, apalagi yang ada di sebelah kondo. Tapi, perkataan Pak Joe selanjutnya cukup mengejutkan. " Kalo gitu, enjoy aja selagi masih ada. Soalnya, udah banyak toko buku lokal yang tutup!"

Dari situ, kami terlibat obrolan seru ( dan cukup heartbreaking) tentang kaitan kemajuan IT dan dunia perbukuan. Menurut Pak Joe, toko-toko buku biasa sekarang banyak yang bangkrut karena pembeli lebih suka belanja online. Nggak banyak pembaca yang masih butuh sensasi datang, browsing, dan beli langsung dari toko buku kayak saya. Oke, itu sih masalah klasik di pemasaran komoditi apapun. Dan memang konsekuensi logis dari semakin mengguritanya Internet dan teman-temannya. Tapi, masih menurut Pak Joe, lama-lama nanti buku-buku yang kita kenal sekarang akan diganti dengan file digital, dan buku konvensional bakal jadi collector's item!

Nah!

Terawangan ( halah, kok kayak almarhumah Mama Lauren!) ini yang lumayan menampar saya. Dipikir secara logis, ini mungkin banget, lho! In fact, it's happening! Pertengahan tahun 1996, waktu saya ikut pertukaran pelajar di Iowa, AS, guru pembina tim buku tahunan di sekolah saya nunjukin satu artikel tentang kamera digital. Yang lucu, artikel itu dibahas justru waktu kita lagi belajar cuci cetak foto secara manual di kamar gelap. Guru saya dengan yakin bilang, " this will be the end of film rolls." Bisa ditebak, kita semua ketawa terbahak-bahak. Dengan segala kenaifan anak SMA, kita langsung berlomba-lomba menyangkal dengan argumen A sampai Z. Tapi, guru saya bertahan dengan keyakinannya. " Just give it another two decades at the most!," katanya yakin. Kenyataannya? Satu dekade pun nggak nyampe!

Sejauh ini, saya lihat buku dan literatur cetak masih sukses bertahan dari gempuran teknologi digital. Waktu saya kelas 1 SMP, saya pernah panik jaya waktu baca artikel tentang audiobooks yang dalam pikiran saya garing sekali. Emangnya dengerin sanggar cerita! Waktu itu, audiobooks diprediksi bakal menggantikan peran buku, seperti CD yang waktu itu sudah mulai menggeser kaset, atau DVD obesitas (alias Laser Disc) yang sudah mulai menggeser video BETA. Tapi, sampai sekarang, audiobooks cuma populer di kalangan tertentu. User-nya biasanya orang-orang yang memang memerlukan karena udah nggak bisa baca lagi, misalnya orang-orang yang penglihatannya sudah sangat minim karena uzur. Saya pernah nyoba ngupingin audiobooks satu kali, dan langsung kehilangan selera.

Waktu saya S2 di Belanda, Universitas Leiden berlangganan e-journal secara kolektif yang bisa diakses mahasiswa. Semua bahan kuliah juga dikirim dalam bentuk digital lewat intranet khusus. Yang pernah ngalamin pastinya tahu sendiri, bahan bacaan program master itu seabrek-abrek. Mestinya, dengan fasilitas seperti itu, mahasiswa nggak perlu nge-print lagi. Tapi, itu nggak berlaku buat saya. Saya tetap lebih suka ngabisin jatah copy card saya buat nge-print semuah bahan jurnal itu, sambil minta maaf ke pohon-pohon yang ada di taman kampus. Kalo udah di-print kan enak. Bisa dicoret-coret sesuka hati dan mata saya juga nggak pegel.

Sekarang, udah lahir e-reader. Di Toronto sini, udah mulai jamak orang-orang nongkrong di cafe atau di subway sambil baca dari e-reader. Temen-temen dan juga beberapa boss saya juga ada yang udah kedapetan nenteng-nenteng e-reader. Pertimbangannya memang praktis. Cukup bawa satu gadget, dapet puluhan atau nantinya mungkin ratusan buku. Layarnya juga beda sama screen komputer. Lapisannya lebih mirip layar kalkulator, jadi lebih nyaman buat mata.

Tapi, mikirin ratusan buku ada dalam satu gadget malah bikin saya ngeri. Kalo si e-reader itu jatuh atau rusak atau error, langsung bye-bye charlie dong ratusan buku saya? Kalaupun bisa di-recover, sampai seberapa? Kalo batere-nya habis dan saya lupa bawa charger, saya jadi nggak bisa baca, dong? Belum lagi kalo e-reader-nya ilang. Masa saya harus beli satu set e-reader lagi terus download buku dari awal lagi?

Apalagi sampai sekarang, belum ada e-reader yang bisa cross seller. Amazon punya Kindle, Barnes & Noble ngeluarin Nook, dan di Kanada, Chapters- Indigo bikin Kobo. Kalo ini, saya yakin cuma masalah waktu. Dulu juga kirim-kiriman SMS nggak bisa antar provider, kan? Tapi, saya sendiri belum tergerak buat beli benda ajaib itu- tunggu sampai bener-bener nggak ada pilihan lagi. Biarpun, harganya normal aja buat ukuran gadget.Mungkin nanti kali, kalo secara hukum pohon-pohon nggak boleh ditebang lagi buat modal bikin kertas.

Sekarang, dampak gurita digital sama pasar buku mulai 'menggigit', sih. Misalnya, nyari buku mass market paperback di toko-toko buku konvensional susah bener....padahal, itu cetakan favorit saya karena murah meriah dan paling ringan dibawa ke mana-mana. Edisi hardcover juga lebih lama menciut jadi paperback. Dulu paling lama rata-rata 6 bulan- malah seringkali edisi paperback dicetak sekaligus- sekarang bisa setahun lebih. Itu juga paling banter jadi deluxe paperback yang beda harganya nggak terlalu jauh sama hardcover. Mass market paperback sekarang ini lebih banyak dijual di toko-toko buku online.

Dengan saingan dari dunia maya ini, toko-toko buku konvensional tentunya mesti pasang strategi baru buat ngambil keuntungan maksimal dari para konsumen yang juga masih setia dengan cara beli buku konvensional, kayak saya. Dan pastinya bakal makin berat beban toko-toko buku kalau menggantungkan potensi profit sama konsumen yang masih punya kebutuhan 'sentimentil' belanja langsung di toko buku.

Berapa lama lagi ya, buku bisa bertahan?

Yang saya maksud tentunya buku yang kita kenal sekarang. Yang bahan bakunya kertas. Kalaupun nanti terawangan Pak Joe bener- bahwa buku akan jadi collector's item- mungkin nggak ya ada masanya orang kembali ke bentuk buku yang sekarang?  Ini kejadian di musik. Setelah CD berjaya, penikmat musik justru berlomba-lomba kembali ke vinyl alias...piringan hitam! Kan jadul banget tuh! Karena menurut mereka, biarpun mesti dirawat kayak bayi, bentuk rekaman ini kualitas suaranya paling bening.

Lepas dari apakah nantinya buku beneran hilang dari peredaran, ini alasan bagus buat saya puas-puasin 'piknik' ke toko-toko buku. Apalagi di tempat saya tinggal sekarang, buku-buku yang ada di toko buku telanjang semua ( alias nggak ada yang dibungkus plastik!). Jadi, saya bisa puas-puasin browsing sambil people watching. Siapa tahu, suatu hari saya harus nulis artikel yang opening-nya kayak begini, " Once upon a time there was a magical place called a bookstore..."


P.S: Nggak lama setelah post ini ditulis, Pak Joe memutuskan buat menutup toko buku ajaibnya...*sniff sniff* dan beberapa hari yang lalu, di koran lokal yang dibagikan gratis di stasiun-stasiun subway, saya baca artikel mengejutkan kalau Barnes & Nobel- franchise toko buku nomor satu di AS- memutuskan buat menjual kepemilikan chain bookstore-nya dan punya rencana mengoptimalkan online store-nya....*huaaaaa.....*

Friday, August 27, 2010

Taman Rahasia

Post ini bukan tentang salah satu buku klasik karangan Frances Hodgson Burnett yang jadi favorit saya, tapi diilhami seorang teman baik yang tahu-tahu mengganti profile pic BBM-nya dengan gambar Spiderman  
( yes, that spiderman!) Saya sedikit heran, karena setahu saya, dia bukan fans superhero itu. Karena penasaran, akhirnya saya kirimkan message, " Why Spiderman?" Bisa aja kan, tahu-tahu dia nge-fans sama manusia laba-laba itu. Reply-nya ternyata cukup menarik. " Lagi ngerasa kayak spiderman aja....asyik berkutat dengan diri sendiri, kayak spiderman yang lagi 'jumpalitan' di ketinggian..."

Biarpun saya juga nggak termasuk fans-nya Spiderman tapi suka ngeliatin Tobey Maguire, saya cukup familiar dengan kisah si manusia nerd Peter Parker dengan alter ego superhero-nya itu. Dengan sekali-sekali berubah wujud jadi si manusia laba-laba, Peter jadi lebih nyaman menjadi dirinya sendiri. Saya jadi ingat  sama salah satu film favorit saya karena ada si ganteng Zac Efron, High School Musical. Dalam salah satu scene, Gabriela- yang dikasih nickname Einsteinette saking pintarnya- bilang begini sama sahabatnya, " Have you ever felt there's a whole other person inside you, trying to find a way to come out?" Waktu itu, Gabriela yang sehari-harinya terkenal sebagai jago fisika dan kimia sedang mempertimbangkan buat ikut seleksi pertunjukan musikal. Di kemudian hari, dunia barunya ini membantunya lebih menikmati eksistensinya sebagai jagoan ilmu pasti.

 Ada bagusnya lho, kalau kita semua punya semacam 'gua' atau 'taman rahasia' yang bener-bener bisa dibilang 'milik pribadi'. Mine, mine, mine. Ya memang sih, biar gimanapun, manusia itu makhluk sosial. Tapi, kita juga makhluk individu. Setiap orang pasti punya keunikan masing-masing, kesukaan masing-masing, hobi masing-masing. Pasti ada deh, sekaliiiiii....aja dalam satu kurun waktu- bisa satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun- yang kita pengen bisa sendirian. Bukan terus artinya bertapa di pinggir kali lho, tapi kalau istilah kerennya, ' me time'.Kalau boleh saya tambah lagi, ' me-place'

Salah satu selebritis kita- initialnya TG- punya ruangan khusus di rumahnya. Fisiknya ruang kerja biasa, sih. Tapi, TG yang punya hobi menulis ini merasa, ruang kerja itulah 'kerajaannya'. Di situ dia bisa bebas memuaskan hobi menulisnya ( intermezzo: cerpen-cerpennya memang keren justru karena idenya yang bizarre dan nggak standar ). Selain menikmati teritorial pribadinya, TG juga sangat menikmati hobi menulisnya. Karena dengan menulis, dia bisa jadi 'penguasa'. " Saya bisa jadi pembunuh, bisa juga punya pacar sekaligus tiga," begitu kata TG. Tapi yang lebih penting, dengan menulis di 'kerajaannya' itu, TG selalu merasa lebih santai dengan profesinya sehari-hari. Apalagi, sebagai seleb, ibaratnya dia tinggal di akuarium. Bisa jadi cuma di ruangan itu dia bebas dari para wartawan gosip biarpun dia nggak termasuk seleb yang sering digosipin.

Saat blogwalking beberapa tahun yang lalu ( astaganaga, lama amat yaaa...), seorang blogger pernah mengutip perbedaan menarik kebiasaan weekend orang-orang Asia dan orang-orang Eropa. Maaf nih, saya bermaksud nge-quote, tapi saya bener-bener lupa ini blog-nya siapa....anyway, orang-orang Asia cenderung menonjolkan dirinya sebagai makhluk sosial. Jadi, weekend pun maunya berkumpul ria, kalo bisa sekalian sama keluarga besar. Sedangkan orang-orang Eropa, cenderung punya kebutuhan individu yang lebih kuat. Weekend - paling enggak satu hari weekend- jelas waktu buat pribadi, biarpun sekedar baca buku di taman.


Saya termasuk orang yang lumayan menikmati kesendirian.Taman rahasia? Sudah pasti saya punya. Ada aja...biarpun nggak rahasia-rahasia amat, kok. Tanpa dikasih tahu pun, orang-orang yang kenal saya pasti tahu saya menghilang ke mana. Ya nggak masalah, selama sekali-sekali saya bisa ke sana sendirian dan betul-betul menikmati setiap detiknya. Karena kebetulan saya memang masih sendirian, saya menikmati kemewahan bisa lebih sering menghilang ke taman rahasia saya. Kadang malah keseringan, hihihi...maklum, fenomena kaum single-happy, kadang-kadang we have nothing but time...tapi di saat lain, tuntutan waktu buat para single fighters justru lebih sadis. Karena kita dianggap nggak punya tanggungan kecuali diri sendiri, seringkali banyak orang, mulai dari ortu, adik-kakak, temen-temen sampai atasan di kantor menuntut kita harus selalu siap sedia kapan aja di mana aja. Jadi ya perlu me-time, me-place juga.


Egois? Buat sebagian besar orang, kata-kata ini haram hukumnya buat didengar. Padahal, sampai kadar tertentu, egois itu normal. Manusia mana sih yang nggak punya ego? Lagi pula masa iya, menghilang satu atau dua jam, ngerjain apa aja yang kita suka, terus kembali ke dunia nyata dalam keadaan 'refreshed' dan 'recharged' sama dengan egois? Apalagi saat kita sendirian dan lagi asyik-asyiknya sama dunia kita sendiri, seringkali di situlah kita sadar gimana pentingnya orang-orang yang ada di sekeliling kita. Tandanya sederhana, kok: tahu-tahu muncul rasa kangen. Nggak perlu merasa bersalah, karena itu salah satu tanda kalau kita sudah 'recharged' dan siap kembali ke dunia nyata...


Jadi....go get your me-time and find your me-place....


I need a place where I can go,
Where I can whisper what I know…
I need a place where I can hide,
Where no one sees my life inside…
A place where I can go when I am lost,
And there I’ll find me


(From Secret Garden: The Musical)

Monday, August 23, 2010

Saya, si Perempuan

Waktu saya kelas 2 SMP, saya tinggal di sebuah kota di Jawa Barat yang hitungannya waktu itu termasuk kota kecil. Awal tahun 90-an dulu, di kota itu belum ada yang namanya kursus bahasa Inggris. Tapi, ada seorang bapak yang profesinya guru bahasa Inggris privat. Bahasa Inggrisnya memang bagus banget! Daripada harus bolak-balik ke Bandung cuma buat kursus, akhirnya orang tua saya mendaftarkan saya buat kursus sama si bapak saja. Setelah diinterview dan ikut placement test kecil-kecilan a la si bapak, saya dimasukkan ke satu grup yang kebetulan pesertanya laki-laki semua, sebanyak 4 orang.

Saya enjoy saja. Sampai sekarang saya masih inget kok, kita kursus tiap hari Kamis malam dan biarpun bahan kursusnya termasuk minim ( waktu itu di Jakarta sekalipun masih agak susah dapetin buku bacaan bahasa Inggris), kursusnya cukup dinamis. ( Malah sampai sekarang saya masih keep in touch sama 2 dari 4 teman kursus saya, thanks to Facebook!).

Satu hari di sekolah ( saya masih pakai putih-biru), seorang teman perempuan saya tiba-tiba tanya," Kamu nggak malu, jadi perempuan sendiri?," Saya jelas kaget. Kok, saya harus malu jadi perempuan?

Saya kebetulan cuma dua bersaudara sama adik saya, yang juga perempuan. Kebetulan juga, saya berasal dari keluarga besar yang mayoritas perempuan. Entah kenapa, yang namanya cowok hitungannya lumayan sedikit di keluarga besar saya. Kayaknya kromosom X emang dominan banget...:-P

Anyway, sepanjang yang saya ingat, di keluarga saya nggak pernah tuh keluar fatwa " Kamu harus X karena kamu perempuan," atau " Kamu nggak boleh Y karena kamu perempuan." Kebetulan juga, menurut laporan pandangan mata Mama saya, dari kecil saya nggak suka main boneka. Saya lebih suka mainan yang netral, kayak lego, memory game, atau sekalian baca buku. Setelah saya besar pun, justru karena kita perempuan semua, saya dan adik saya harus bisa ngerjain semuanya sendiri. Malah maunya orangtua saya, kita bisa masak tapi juga bisa nyetir. Kenyataannya? Sampai sekarang saya belum terampil dua-duanya, tuh....xixixi...( emm, masak bisa sih buat keadaan super darurat...)

Sampai sekarang, kuping saya paling gatel kalau pertanyaan ajaib itu keluar, apalagi kalau ditujukan ke saya. Reaksi pertama saya pasti," Memangnya kenapa?". Nggak kehitung lagi deh, berapa kali saya berantem atau adu pendapat soal ini. Harapan saya, pertanyaan teman saya waktu saya SMP itu adalah yang terakhir kali saya dengar. Kenyataannya, sampai sekarang masiiiiih......aja ada yang nanya!

Waktu saya kuliah di Bandung, seorang teman saya dari universitas lain pernah tanya siapa sahabat saya. Saya jawab aja seadanya, bilang nama teman saya yang memang sahabat saya. Dia terheran-heran. " Sahabat kamu cowok?" Ternyata, di "dunianya", nggak mungkin dua manusia yang beda jenis kelaminnya bersahabat. Yang mungkin adalah mereka langsung............... ( silakan diisi sendiri jawabannya). Sedangkan "dunia" saya nggak pernah beda-bedain manusia berdasarkan jenis kelamin sampai batas tertentu. Saya punya teman cewek dan cowok dalam jumlah yang kurang lebih sama banyaknya ( nggak pernah ngitung juga, sih!) Kebetulan sekali, sampai sekarang pun, beberapa sahabat baik saya - dengan parameter saya bisa cerita apapun sebebas-bebasnya- laki-laki. Dan ini murni faktor kebetulan!

Antara tahun 2006-2008, saya berkesempatan S2 di Belanda. Di negara yang saya pikir tingkat kebebasan gender-nya sudah lebih advanced ( Belanda geto loooh.....), ternyata masih aja saya denger pertanyaan ini. Sayangnya, kebanyakan dari sesama orang Indonesia juga yang lagi sama-sama ngelmu di sana. Yang paling bikin kuping saya sakit adalah dari seorang kandidat doktor sebuah PTN di Indonesia yang lagi cari literatur di sana. Dia terheran-heran waktu ketemu saya di kereta dari Leiden menuju Den Haag sambil bawa ransel backpacker saya yang gedenya dua kali badan saya. Hari itu, saya memang mau jalan-jalan ke negara tetangga sama teman-teman saya.

"Kamu kan perempuan, kok pergi sendiri?," itu pertanyaan si bapak yang memang nggak berani pergi ke Paris sendiri. Padahal, kalau mau fair, pergi dari Den Haag ke Paris lebih aman daripada pergi dari Jakarta ke Depok.

"Rame-rame kok, Pak!," kata saya pendek.

"Tapi kamu kan perempuan! Nggak lebih baik kalau liburan pulang aja ke rumah orang tua,?"

Busyeeettt....emangnya jarak Amsterdam- Jakarta sama kayak Jakarta- Bandung?

"Kita nggak dapet jatah pulang, Pak!Kecuali emergency," kata saya lagi. Dan memang begitu adanya.

"Ya kalau begitu kamu harus saving, dong.Biar bisa pulang. Biar gimanapun kamu kan perempuan!"

Sampai sekarang, saya masih mencoba cari koneksi logis antara "saya harus pulang ke rumah orang tua kalau liburan," dengan " saya perempuan. Daaan...hari-hari selanjutnya, tiap kali saya ketiban sial ketemu sama si bapak, pasti setiap obrolan kita berakhir dengan "Kamu kan perempuan!". Hmmm....argumen utama disertasinya itu kali ya?

Seorang teman saya yang kebetulan psikolog pernah bilang, anak-anak dari keluarga "sejenis" ( maksudnya yang punya anak laki-laki semua atau perempuan semua) memang punya kecendurangan memperlakukan semua orang sama, seringkali nggak lihat-lihat gender-nya. Dan memang, setelah saya dewasa, mulai nyadar kalau makhluk Tuhan yang namanya manusia ada dua jenis, mulai suka sama jenis yang satunya, mulai nge-date, dsb dsb,...saya seringkali nggak peka.

Kalau janjian, saya oke-oke aja kalau ketemu langsung di tempat tujuan. Ngapain juga pakai ribet dijemput di rumah? Saya juga nggak keberatan pulang sendiri, kecuali kalau memang searah. Waktu saya punya pacar, saya nggak pernah marah kalau pacar saya bilang dia nggak bisa nganterin atau nemenin saya ke suatu tempat. Yang ngambek biasanya pacar saya, karena maksudnya, dia minta dirayu....ohhhh....gitu....saya mana ngerti! Xixixi....

Saya setuju kalau perempuan dikecualikan dari beberapa fungsi dengan alasan logis. Misalnya nih, di profesi saya nyaris nggak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Semuanya harus bisa ngapain aja. Tapi, ada beberapa pos yang sebaiknya nggak ditempati perempuan, karena memang di pos-pos itu perempuan masih jadi komoditas utama penculikan oleh masyarakatnya yang memang cukup barbar. Sekarang, jumlah pos-pos yang dulunya tertutup buat perempuan juga makin sedikit juga, kok.

Atau, dalam kerangka yang lebih umum, saya setuju kalau perempuan nggak boleh ngangkat beban yang kelewat berat. Saya pernah baca di satu literatur, kalau itu berbahaya buat organ perempuan yang paling berharga: rahim. Apalagi, jumlah otot aktif laki-laki lebih banyak sekitar 100-150 otot dibanding perempuan. Iya dong...perempuan kan, nyimpen kekuatan buat 'misi' tertentu...

Ini mungkin post yang 'kurang ramah' buat post pertama ya....tapi memang entah kenapa topik ini yang kepikiran tadi waktu saya makan siang sendirian di luar kantor ( ups...ketahuan deh lagi libur puasa....)

Mudah-mudahan topik berikutnya lebih asyik....

Now back to work....