Monday, August 23, 2010

Saya, si Perempuan

Waktu saya kelas 2 SMP, saya tinggal di sebuah kota di Jawa Barat yang hitungannya waktu itu termasuk kota kecil. Awal tahun 90-an dulu, di kota itu belum ada yang namanya kursus bahasa Inggris. Tapi, ada seorang bapak yang profesinya guru bahasa Inggris privat. Bahasa Inggrisnya memang bagus banget! Daripada harus bolak-balik ke Bandung cuma buat kursus, akhirnya orang tua saya mendaftarkan saya buat kursus sama si bapak saja. Setelah diinterview dan ikut placement test kecil-kecilan a la si bapak, saya dimasukkan ke satu grup yang kebetulan pesertanya laki-laki semua, sebanyak 4 orang.

Saya enjoy saja. Sampai sekarang saya masih inget kok, kita kursus tiap hari Kamis malam dan biarpun bahan kursusnya termasuk minim ( waktu itu di Jakarta sekalipun masih agak susah dapetin buku bacaan bahasa Inggris), kursusnya cukup dinamis. ( Malah sampai sekarang saya masih keep in touch sama 2 dari 4 teman kursus saya, thanks to Facebook!).

Satu hari di sekolah ( saya masih pakai putih-biru), seorang teman perempuan saya tiba-tiba tanya," Kamu nggak malu, jadi perempuan sendiri?," Saya jelas kaget. Kok, saya harus malu jadi perempuan?

Saya kebetulan cuma dua bersaudara sama adik saya, yang juga perempuan. Kebetulan juga, saya berasal dari keluarga besar yang mayoritas perempuan. Entah kenapa, yang namanya cowok hitungannya lumayan sedikit di keluarga besar saya. Kayaknya kromosom X emang dominan banget...:-P

Anyway, sepanjang yang saya ingat, di keluarga saya nggak pernah tuh keluar fatwa " Kamu harus X karena kamu perempuan," atau " Kamu nggak boleh Y karena kamu perempuan." Kebetulan juga, menurut laporan pandangan mata Mama saya, dari kecil saya nggak suka main boneka. Saya lebih suka mainan yang netral, kayak lego, memory game, atau sekalian baca buku. Setelah saya besar pun, justru karena kita perempuan semua, saya dan adik saya harus bisa ngerjain semuanya sendiri. Malah maunya orangtua saya, kita bisa masak tapi juga bisa nyetir. Kenyataannya? Sampai sekarang saya belum terampil dua-duanya, tuh....xixixi...( emm, masak bisa sih buat keadaan super darurat...)

Sampai sekarang, kuping saya paling gatel kalau pertanyaan ajaib itu keluar, apalagi kalau ditujukan ke saya. Reaksi pertama saya pasti," Memangnya kenapa?". Nggak kehitung lagi deh, berapa kali saya berantem atau adu pendapat soal ini. Harapan saya, pertanyaan teman saya waktu saya SMP itu adalah yang terakhir kali saya dengar. Kenyataannya, sampai sekarang masiiiiih......aja ada yang nanya!

Waktu saya kuliah di Bandung, seorang teman saya dari universitas lain pernah tanya siapa sahabat saya. Saya jawab aja seadanya, bilang nama teman saya yang memang sahabat saya. Dia terheran-heran. " Sahabat kamu cowok?" Ternyata, di "dunianya", nggak mungkin dua manusia yang beda jenis kelaminnya bersahabat. Yang mungkin adalah mereka langsung............... ( silakan diisi sendiri jawabannya). Sedangkan "dunia" saya nggak pernah beda-bedain manusia berdasarkan jenis kelamin sampai batas tertentu. Saya punya teman cewek dan cowok dalam jumlah yang kurang lebih sama banyaknya ( nggak pernah ngitung juga, sih!) Kebetulan sekali, sampai sekarang pun, beberapa sahabat baik saya - dengan parameter saya bisa cerita apapun sebebas-bebasnya- laki-laki. Dan ini murni faktor kebetulan!

Antara tahun 2006-2008, saya berkesempatan S2 di Belanda. Di negara yang saya pikir tingkat kebebasan gender-nya sudah lebih advanced ( Belanda geto loooh.....), ternyata masih aja saya denger pertanyaan ini. Sayangnya, kebanyakan dari sesama orang Indonesia juga yang lagi sama-sama ngelmu di sana. Yang paling bikin kuping saya sakit adalah dari seorang kandidat doktor sebuah PTN di Indonesia yang lagi cari literatur di sana. Dia terheran-heran waktu ketemu saya di kereta dari Leiden menuju Den Haag sambil bawa ransel backpacker saya yang gedenya dua kali badan saya. Hari itu, saya memang mau jalan-jalan ke negara tetangga sama teman-teman saya.

"Kamu kan perempuan, kok pergi sendiri?," itu pertanyaan si bapak yang memang nggak berani pergi ke Paris sendiri. Padahal, kalau mau fair, pergi dari Den Haag ke Paris lebih aman daripada pergi dari Jakarta ke Depok.

"Rame-rame kok, Pak!," kata saya pendek.

"Tapi kamu kan perempuan! Nggak lebih baik kalau liburan pulang aja ke rumah orang tua,?"

Busyeeettt....emangnya jarak Amsterdam- Jakarta sama kayak Jakarta- Bandung?

"Kita nggak dapet jatah pulang, Pak!Kecuali emergency," kata saya lagi. Dan memang begitu adanya.

"Ya kalau begitu kamu harus saving, dong.Biar bisa pulang. Biar gimanapun kamu kan perempuan!"

Sampai sekarang, saya masih mencoba cari koneksi logis antara "saya harus pulang ke rumah orang tua kalau liburan," dengan " saya perempuan. Daaan...hari-hari selanjutnya, tiap kali saya ketiban sial ketemu sama si bapak, pasti setiap obrolan kita berakhir dengan "Kamu kan perempuan!". Hmmm....argumen utama disertasinya itu kali ya?

Seorang teman saya yang kebetulan psikolog pernah bilang, anak-anak dari keluarga "sejenis" ( maksudnya yang punya anak laki-laki semua atau perempuan semua) memang punya kecendurangan memperlakukan semua orang sama, seringkali nggak lihat-lihat gender-nya. Dan memang, setelah saya dewasa, mulai nyadar kalau makhluk Tuhan yang namanya manusia ada dua jenis, mulai suka sama jenis yang satunya, mulai nge-date, dsb dsb,...saya seringkali nggak peka.

Kalau janjian, saya oke-oke aja kalau ketemu langsung di tempat tujuan. Ngapain juga pakai ribet dijemput di rumah? Saya juga nggak keberatan pulang sendiri, kecuali kalau memang searah. Waktu saya punya pacar, saya nggak pernah marah kalau pacar saya bilang dia nggak bisa nganterin atau nemenin saya ke suatu tempat. Yang ngambek biasanya pacar saya, karena maksudnya, dia minta dirayu....ohhhh....gitu....saya mana ngerti! Xixixi....

Saya setuju kalau perempuan dikecualikan dari beberapa fungsi dengan alasan logis. Misalnya nih, di profesi saya nyaris nggak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Semuanya harus bisa ngapain aja. Tapi, ada beberapa pos yang sebaiknya nggak ditempati perempuan, karena memang di pos-pos itu perempuan masih jadi komoditas utama penculikan oleh masyarakatnya yang memang cukup barbar. Sekarang, jumlah pos-pos yang dulunya tertutup buat perempuan juga makin sedikit juga, kok.

Atau, dalam kerangka yang lebih umum, saya setuju kalau perempuan nggak boleh ngangkat beban yang kelewat berat. Saya pernah baca di satu literatur, kalau itu berbahaya buat organ perempuan yang paling berharga: rahim. Apalagi, jumlah otot aktif laki-laki lebih banyak sekitar 100-150 otot dibanding perempuan. Iya dong...perempuan kan, nyimpen kekuatan buat 'misi' tertentu...

Ini mungkin post yang 'kurang ramah' buat post pertama ya....tapi memang entah kenapa topik ini yang kepikiran tadi waktu saya makan siang sendirian di luar kantor ( ups...ketahuan deh lagi libur puasa....)

Mudah-mudahan topik berikutnya lebih asyik....

Now back to work....

1 comment:

  1. Anggie...

    Postingan yang kereeeeen!!! Hidup perempuan! *eh, apa siiihhhh*

    Aduuuhhhh, kasian deh si Bapak itu, udah jauh-jauh ke Belanda masih cupet aja pikirannya :D Pas mudanya kurang gaul, kali.. atau kurang jauh mainnya :))

    Apalagi gw, nggie.. secara di rumah cuma sendiri ya jadi mesti bisa segala macem sendiri. Kerjaan rumah tangga sih, udah pasti.. karena sejak SMP gak ada ART, jadi gw dibiasain nyetrika, nyuci, nyapu, ngepel, beberes, kemana-mana sendiri aja naek angkot ;p termasuk betulin antene tv kalo 'ngoleang' ketiup angin, which means gw mesti manjat tembok supaya bisa naek ke atap :))

    4-5 tahun lalu waktu pohon mangga gw masih ada, nyokap juga tega-tega aja tuh nyuruh gw naik ke atap rumah untuk nyodok buah mangga LOL.. sekalian bersihin talang air yang ketutupan daunnya.. Dia baru brenti nyuruh gw naik genteng setelah khawatir bobot gw bisa ngerusak genteng-gentengnya :P

    Ya gitu deh, nggie.. untunglah nyokap gw justru ngajarin gw untuk bisa mandiri dan gak tergantung ama orang lain atau cowok-cowok untuk ngerjain sesuatu. Lah mending kalo yang diminta tolongnya ada.. kalau gak ada, masa kita mesti duduk termenung nunggu 'diselamatkan' kayak cerita putri-putrian ala disney??

    Jadi salut juga untuk keluarga lu yang ngedidik lu as a human being :D Masih banyak kan, keluarga di negeri ini yang masih milih-milih apa yang seharusnya/ga seharusnya dikerjakan seseorang hanya karena dia perempuan/laki-laki.

    Nantinya bebe gw juga mesti bisa multi tasking :D gak ada cerita deh, hanya karena dia laki-laki trus ga mau ngepel.. huuuu no way! atau karena dia perempuan jadi ga bisa ganti ban serep *eh, itu mah gw... hihihihih abis ga ada yang ngajarin, nggie..*

    Tau gak, nyokap pernah lho nyuruh gw kursus montir! Katanya supaya gw bisa ngerti kalo ada kejadian macem-macem ama mobil :D sayangnya gak lama gw keterima kerja di Jakarta.. ga jadi deh buka bengkelnya.. *lho*

    ReplyDelete