Monday, December 6, 2010

Petualangan di Giant Warehouse Booksale

Kalau hari Jumat, biasanya saya malas baca koran. Maklumlah, udah weekend mode....tapi berhubung ini holiday season, biasanya iklan sale berderet-deret di koran-koran, malah lengkap sama special offers-nya. Cukuplah buat bikin saya rajin baca koran tiap hari Jumat....

Hari Jumat kemarin, ada yang lain. Di tengah-tengah iklan sale berbagai department store dan toko-toko elektronik yang nggak begitu banyak pengaruhnya buat saya, dalam ukuran yang lebih kecil tapi cukup eye-catching bertengger iklan "Giant Warehouse Booksale, 70% off!" Oh la la....apa pula ini?

 Iklan itu langsung saya scan lengkap sama radar bookoholic saya. Hmmm...TKP di satu tempat yang namanya Fairmount Books, lokasi di Markham. Udah masuk Toronto coret, sih, tapi mestinya masih terjangkau sama angkot. Setelah saya ber-google-ria, ternyata Fairmount Books itu salah satu distributor buku utama di Toronto, dan lokasinya juga masih accessible pakai angkot, biarpun mesti jalan sedikit. Dengan kondisi cuaca di Toronto yang udah defisit ( minus, maksudnya....), jarak penting banget. Kalau kejauhan, saya terpaksa nyiapin budget khusus naik taksi yang- dengan jarak segitu- bisa dipakai makan 3 kali di restoran satu atau dua kelas di atas KFC.

Berhubung si sale raksasa ini cuma 3 hari- Jumat, Sabtu, Minggu- saya pilih hari Sabtu karena jam buka yang cukup panjang dan jadwal angkot yang masih sama kayak hari kerja. Soalnya sekali lagi, kelamaan nunggu angkot di tengah-tengah cuaca a la Frosty the Snowman bukan ide bagus, apalagi saya belum familiar sama TKP-nya. Akhirnya, setelah nggak sengaja ber-slow-travel- ria karena sempet kelewatan tempat turun ( cerita lain, yaaa....), sampai juga saya di TKP.

Selama ini saya selalu dibuat surprise sama segala macam booksale, bookfair, dan literary festival yang ada di Toronto. Nah, si Giant Warehouse Booksale ini juga sukses bikin saya 'panik'. Pertama, sesuai sama terjemahan harfiah kata 'warehouse' yang artinya 'gudang', booksale ini bener-bener mengambil tempat di gudang! Tentunya gudang si Fairmount Books itu.

Setting-nya sederhana sekali. Jauh lebih sederhana dari Boekenfestijn yang nggak pernah absen saya datangi di Belanda dulu. Buku-buku cuma ditata vertikal dalam keranjang-keranjang plastik yang ditaruh berderet-deret di atas rangkaian meja yang diatur memanjang. Pengaturannya juga acak, nggak dikategorisasi, kecuali buku anak-anak yang dipisahkan dari buku untuk dewasa. Di deket pintu masuk, udah ada tumpukan kardus besar yang boleh diambil buat tempat buku yang dipilih. Setelah itu, silakan, happy hunting!

Wah, book hunting a la pasar loak begini saya memang paling suka! Soalnya seringkali ada 'kejutan'. Seperti biasa kalau ke bookfair, saya scanning dulu sebelum mulai 'beraksi'. Di sini, saya dapet surprise yang kedua. Ternyata lumayan banyak buku-buku yang selama ini saya lihat di Chapters-Indigo, major chain-nya toko buku di Kanada! Dan seperti juga yang saya lihat di Indigo, rata-rata masih dalam bentuk hardcover. Bedanya, yang ini diskon 70%!

Karena menjelang Natal, banyak banget pengunjung yang hunting dengan 'ganas'. Setiap saat kedengaran suara kardus diseret, pertanda yang punya kardus udah keberatan karena isinya udah penuh.Sebagai bookoholic, buat saya itu pemandangn indah. Biarpun (katanya) ini era digital, ternyata masih banyak aja tuh yang pada beli buku, malah dijadiin hadiah Natal! Ada juga beberapa pengunjung yang lebih kreatif: bawa dorongan sendiri dari rumah. Iiih....nyesel deh saya nggak bawa dorongan yang biasa saya pakai belanja ke supermarket!

Seumur-umur, baru sekali ini saya overwhelmed di bookfair. Masalahnya, gudangnya bener-bener super gede. Setelah sempet hunting di beberapa deretan, saya berkali-kali nemuin judul yang sama. Ini jelas efek buku yang diatur per kategori itu. Tapi, nggak lama kemudian, saya lihat ada beberapa deret rak besi superpanjang di satu sisi gudang. Setelah saya perhatikan, ternyata isinya buku-buku yang ada di meja-meja itu! Saya langsung ganti strategi karena biarpun penataannya juga nggak seteratur di toko buku, paling nggak judul buku yang menghadap keluar bikin pengunjung lebih nyaman browsing. 'Korban-korban' saya kali ini, rata-rata memoir dan otobiografi yang harganya di Indigo masih nggak sopan, apalagi harga Kanada-nya! O iya, tentunya sale model begini saya manfaatkan buat beli buku anak-anak. Saya memang penggemar buku anak-anak, cuma buat beli, saya mesti nunggu sale karena harga buku anak-anak justru paling mahal.

Sebenernya, booksale ini bakal 'sempurna' kalau penyelenggaranya menyediakan satu hal 'kecil' seperti yang ada di Boekenfestijn. Di pesta buku a la Belanda itu, selain keranjang dan troli sekalian, disediakan juga setumpukan kertas yang tulisannya "Please Do Not Touch!" dalam 3 bahasa: Belanda, Inggris dan Perancis. Jadi, pengunjung bisa meninggalkan keranjang yang udah penuh, disisipi kertas ajaib itu, terus ambil keranjang baru dan hunting lagi tanpa takut keranjangnya bakal dikosongin petugas. Asal inget aja di mana dia naro keranjang yang sebelumnya!

Sayangnya, di giant booksale ini nggak ada yang seperti itu. Di beberapa tempat dan pojokan, saya memang liat ada kardus yang udah penuh. Mungkin yang punya kardus lagi hunting lagi. Tapi, saya nggak mau ambil resiko ninggalin kardus saya. Kalau tahu-tahu ada petugas yang kerajinan, bisa setengah mati saya nyari-nyari bukunya lagi. Apalagi, buku yang udah saya pilih keren-keren, tuh.....

Setelah melalui seleksi super ketat, akhirnya saya 'menyerah'.'Best buy' saya kali ini: biografi Irene Nemirovsky, penulis asal Perancis yang meninggal setelah dideportasi Nazi ke Auschwitz, biografinya Audrey Hepburn- aktris legendaris dan fashion icon favorit saya- yang ditulis putranya sendiri dan memang lagi saya cari-cari, dan buku keren "Showing Up for Life: Thoughts on the Gifts of A Lifetime", karangan Bill Gates Sr., alias papanya Bill Gates Jr. yang kita "kenal".Dari observasi saya, buku itu nyaris nggak mungkin menyusut jadi paperback, jadi saya happy berat bisa beli dengan harga diskon. Belajar dari pengalaman, saya pastikan juga buku-buku yang saya nyatakan lolos seleksi bisa muat di backpack dan dua tote-bag yang saya bawa, senjata andalan kalo bookhunting. Apalagi mengingat saya mesti jalan kaki dulu ke stop-an bis yang jaraknya sekitar 5 menitan, tapi dengan hawa yang saingan sama freezer saya di rumah, hihihi....

Di kasir, saya mendapat kejutan ketiga.

Diskon ini memang nggak main-main. Para kasir juga jago ngasih 'shock therapy'. Mula-mula, pembelian kita ditotal dengan harga sesungguhnya. Harga sebelum diskon itu terus dikasih tahu ke kita, yang jelas potensial buat bikin pingsan. Tapi setelah itu, si kasir ngasih tau seberapa banyak yang kita save dengan adanya diskon gila-gilaan itu, yang nominalnya juga potensial buat bikin pembeli pingsan kedua kalinya! Sebagai bandingan, angka awal total pembelian saya turun 4 angka setelah didiskon! Nggak ketinggalan, guru SD cantik yang bayar setelah saya juga ketawa-ketawa senang karena bisa saving banyak banget setelah borong buku buat dibacain ke murid-muridnya ( baik amat ya....)

Setelah saya tanya ke si kasir, ternyata giant warehouse booksale ini acara tahunan. Jadi memang selalu diadakan menjelang Natal.

Wow.....see you next year, deh.....
Kayaknya tahun depan saya mau bawa dorongan.......

Monday, November 15, 2010

Watch at your own risk: "127 Hours"

Saya ini paling penakut kalau harus nonton film horor. Apalagi yang setannya nggak keliatan model-model poltergeist gitu. Dan definisi film horor buat saya nggak cuma terbatas yang penuh setan, hantu, tuyul, dan teman-temannya. Tapi, film yang full adegan penyiksaan, atau yang full penderitaan apalagi pembunuhan, juga termasuk film yang saya coret. Saya inget, saya pernah susah tidur selama hampir 3 minggu setelah nonton Life is Beautiful karena kebayang terus sama kamp Nazi-nya. Biarpun saya tahu persis, buat ukuran film bertema holocaust, display yang ada di film itu nggak seberapa. Lucunya, kalau soal bacaan, saya justru paling hobi baca ghost stories, true crime, dan survival. Dan, saya paling suka baca segala macem literatur tentang Hitler, Nazi, dan Holocaust!Kedengeran agak aneh, tapi begitulah adanya. Mungkin nggak terlalu aneh juga sih. Soalnya, salah satu temen saya yang raja horor dan film-film lain yang saya nggak mau nonton, justru sering ketakutan kalau baca bukunya.

Nah, sekarang ini, di Toronto ada satu film 'aduhai' yang mau premier di bioskop-bioskop komersial. Kenapa saya bilang 'aduhai', karena waktu tayang di Toronto International Film Festival 2010, bulan September kemarin, 911 sampai harus dipanggil karena ada beberapa penonton yang pingsan, atau mengalami gejala-gejala nervous dan claustrophobic yang lain. Makanya, menjelang tayang di bioskop-bioskop komersial, koran gratisan Metro Toronto sampai khusus bikin artikel survival kit nonton film ini. Judul filmnya : 127 Hours.

Memang ada apa sih sama film ini?

Melihat 'aftermath'-nya seheboh itu, saya otomatis langsung menyatakan diri WO sebelum tahu ini film tentang apa. Sama kayak waktu saya baca kalau Paranormal Activity bikin Stephen King ketakutan.Plot film ini cukup sederhana. Tentang Aron Ralston, seorang pendaki gunung yang terperangkap sendirian selama 127 jam itu ( hmmm....berapa hari, ya?). Ngomong-ngomong, ini kisah nyata, lho.... Tangannya tertindih batu besar, dan akhirnya dia harus mengamputasi sendiri tangannya pakai pisau gunung sebagai satu-satunya alat. Anastesi? Forget it! Konon, adegan amputasi ini yang bikin penonton pada pingsan, atau minimal claustrophobic, deh. Soalnya, sang sutradara- Danny Boyle- memang sengaja bikin adegan 'sakral' itu sedekat mungkin sama aslinya, nyaris as is, karena pada kenyataannya, Ralston butuh waktu 45 menit buat mengamputasi tangannya. Jadi, memang sengaja adegannya dibuat berjalan lambat. Karena Boyle udah cukup bikin saya merem beberapa kali pas nonton Slumdog Millionaire, makasih deh buat yang satu ini.....Saya serahkan saja pada ahlinya

Mungkin satu-satunya 'sisi terang' dari film ini adalah pada kenyataannya, Ralston selamat dan sampai hari ini masih nggak kapok jadi petualang. Tentunya dibantu tangan palsu. Fakta ini juga yang disarankan ke semua calon penonton buat diingat-ingat, yang diharapkan bisa mengurangi kehebohan aftermath-nya.

Survival kit yang dibikin METRO Toronto  gak tanggung-tanggung. Nggak kalah sama survival kit orang yang mau naik gunung beneran! Mulai dari saran bawa barf bag ( buat yang kepaksa muntah), squeeze ball( buat yang claustrophobic), smelling salts (buat yang gampang pingsan), tablet anti pusing dan anti mual, sampai lampu senter kecil ( buat yang mau kabur dari ruang bioskop biar ga kesandung-sandung). Yang terakhir itu saya banget. Belum lagi sederetan warning ajaib yang udah mirip sama warning di antrian roller coaster. Kalo bisa jangan nonton sendirian. Ibu hamil disarankan jangan nonton. Yang punya penyakit jantung sama asma hati-hati. Pastikan HP ga low batt biar sewaktu-waktu bisa nelepon 911. Astaga.....

Kalo hari-hari ini saya liat ada ambulans parkir di depan bioskop-bioskop kayaknya saya bisa nebak deh ada kejadian apa.....

Jadi, siapa yang mau nonton.....? 

Saya nanti nunggu ceritanya aja....

Friday, October 22, 2010

Saya dan New York

Siapa yang nggak tahu kota ini?

Kota yang begitu dibenci, sekaligus juga dicintai. Dengan segala kompleksitas dan hiruk pikuk khas kota megapolitan dunia, si Apel Besar ini ( yang kalau dilihat petanya jauh lebih mirip sama labu siam)  nggak pernah berhenti menarik semua orang buat penasaran pengen ke sana.

Saya termasuk salah satu korban 'mulut manisnya'.

Saya pertama kali pergi ke New York awal tahun 1997, waktu saya baru 17 tahun. Waktu itu, saya sedang ikut program pertukaran pelajar di Iowa. Di kota tempat tinggal saya yang jumlah penduduknya lebih kecil dari satu RW di Jakarta itu, semua orang heboh waktu tahu saya mau ke New York. Saking kecil mungilnya itu kota, semuanya selalu tahu tetangga mau pergi ke mana.Nggak sedikit yang bilang saya nekat karena berani-beraninya pergi ke kota seram itu sendirian. "It's a lot worse than Chicago!," begitu rata-rata komentar para tetangga, dari hasil studi banding sama kota tetangga paling besar. Ya gimana enggak, di kota tempat saya tinggal waktu itu, masih ada orang yang nggak pernah ngunci pintu rumahnya kalau malem. Malah banyak yang takut, karena kalau ada apa-apa, orang nggak bisa masuk buat ngasih bala bantuan tanpa dobrak pintu.

Waktu akhirnya saya menjejakkan kaki di New York, tepatnya di Penn Station, saya langsung....errr...apa ya, mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal, masih di bawah tanah,tuh. Belum liat kotanya sepotong pun. Memang sih, kelihatan kumuh dibanding Iowa yang adem ayem dan Washington D.C. yang bersih dan teratur. Tapi, di mata saya asyik aja, tuh. Kekumuhan itu malah jadinya 'shabby chic', malah jadi satu style tersendiri. (Ih, padahal waktu itu belum dikenal tuh istilah 'shabby chic').

Setelah saya lihat kotanya, wuih.....jadi lebih terpesona lagi. Saya melihat kehidupan yang sarat dengan gerak yang serba dinamis, dan selalu punya ruang buat individu yang seperti apapun. Banyaknya 'ruang' ini, bisa membuat seseorang memilih jadi 'sesuatu', atau boleh juga sejenak jadi 'anonim'. Mungkin juga karena saya biasa tinggal di Jakarta, jadi kehidupan metropolisnya nggak buat saya kaget. Biasa aja.

Saya menikmati sekali kunjungan pertama saya ke New York itu. Saya ingat, waktu itu kebetulan lagi bulan puasa. Saya tinggal di apartemen sepupu saya di daerah Central Park. Supaya nggak ribet, buat makan malam sekaligus sahur kita pesen beberapa menu dari restoran China langganan sepupu saya. Karena bingung mau pesen apa, akhirnya saya biarkan sepupu saya yang pilih menunya. FYI, sepupu saya adalah seorang vegetarian. Akhirnya, kita sepakat pesen tahu- jamur shiitake saus tiram dan  tumis brokoli Besok paginya, saya bangun sendirian buat sahur karena kebetulan sepupu saya lagi nggak puasa. Sambil makan makanan yang sama ( yang ternyata enak sekali!), saya menikmati sekali suasana jam 5 pagi di New York itu. Sepi ( sesepi-sepinya New York), sesekali ada suara anjing, ada orang teriak, ada sirene mobil polisi di kejauhan, sampai sesekali suara subway yang jalurnya persis di bawah apartemen sepupu saya. Harusnya mungkin suara-suara ajaib kayak gitu ( jam 5 subuh pula!) buat saya merasa spooky. Tapi, saya justru merasa 'damai'. Menu sahur saya hari itu bahkan jadi menu kesukaan saya tiap kali saya harus tinggal sendiri- yang di kemudian hari memang sering saya alami.

Waktu besoknya saya diajari sepupu saya baca peta New York, saya langsung berani dilepas jalan sendiri. Nggak ada takut-takutnya, tuh! Saya merasa 'at home' aja. Apalagi, ternyata New York ini petanya gampang!Apalagi buat orang yang mengidap sindrom akut kebalik baca peta kayak saya. Karena jalan-jalannya tinggal dihitung. Jadi, nggak bakal nyasar di New York selama bisa ngitung dari 1 sampai sekian ratus, dan tahu kalau E itu East dan W itu West. Dan kuat jalan kaki.Sepupu saya tinggal kasih guidance, jangan pergi ke jalan nomor sekian sampai sekian, karena itu termasuk daerah rawan. Setelah saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota dunia beberapa tahun kemudian, menurut saya kota dengan peta tergampang adalah New York.

Pengalaman tak terlupakan lain waktu pertama kali saya ke New York itu nggak lain dan nggak bukan adalah soal uang. Namanya juga anak SMA, uangnya ya cuma uang saku dari ortu. Dan memang nggak ada sejarahnya ortu saya ngasih credit card buat saya. Padahal, setelah berbulan-bulan tinggal di kota super mini di Iowa yang supermarket aja nggak ada, mau ke toko buku mesti diacarakan spesiall(secara toko buku terdekat jauhnya 50 kilo!) di New York semua favorit saya ada! Mulai dari pertunjukan Broadway, toko Disney, apalagi toko buku!Di situ buat pertama kalinya saya 'kenalan' sama Barnes & Nobles dan Strand Bookstore. Akhir 90-an itu, Strand Bookstore fisiknya bener-bener kayak pasar loak buku. Semua stok ditumpuk begitu aja biarpun dibagi per kategori. Tapi justru tambah bikin napsu buat ngubek-ngubek. Iiiih....pengen nangis deh rasanya kalo inget nominal yang saya punya! Yang namanya ngatur uang sampai dipepet-pepetin banget....
Karena itu kunjungan perdana, jadi ya saya utamakan buat sightseeing.  Ke Liberty, Brooklyn Bridge, South Street Seaport, WTC yang waktu itu masih ada, jalan-jalan di Central Park, Times Square, cuci mata di Fifth Avenue, dan nggak lupa ikut tur Markas Besar PBB. Sisa uang yang ada saya pakai buat beli beberapa buku dan sedikit suvenir. Saya inget banget, yang saya beli waktu itu ( atas rekomendasi sepupu saya--thanks ya, Mbak! always owe you that one!) "The Alchemist"-nya Paulo Coelho yang waktu itu baru keluar. Dan, novel itu baru booming beberapa tahun kemudian. Jadi, mulai dari situ saya percaya memang toko-toko buku di New York oke punya buat bikin prediksi trend sastra ke depan, sama seperti para fashion designer-nya yang selalu jadi kiblat para fashionista. Sampai sekarang, novel "The Alchemist" itu masih ada.

Selama bertahun-tahun setelah itu, saya selalu minta sama Yang Di Atas supaya saya dikembalikan ke New York, tapi dalam keadaan "young and single and happy"Dan punya uang sedikit lebih dari sebelumnya. Ternyata, jalan Tuhan memang penuh misteri. Bisa dibilang, ini doa saya yang dikabulkan sampai ke titik komanya.


Tuhan memang mengembalikan saya ke New York akhir tahun 2009. Kali ini, saya berangkat untuk keperluan dinas selama 2 minggu. Bayangan akan menghadiri sidang di Gedung PBB aja- setelah 12 tahun sebelumnya ikut jadi peserta tur- udah bikin saya excited.  Dari segi usia, bolehlah saya bilang masih muda. Tapi,  Tuhan juga membuat saya jadi single dulu! Suatu masalah menyita saya secara emosional sejak tahun 2007. Selama hampir 2 tahun, saya terpaksa menjalani hari-hari saya dengan bantuan tranquilizer dan terapi khusus dari psikiater saya. Biarpun saya sudah memaksakan diri lepas dari tranquilizer sejak awal 2009, bukan berarti masalahnya menghilang begitu aja.

Nggak tahu kenapa, begitu sampai di New York, saya seperti merasa 'lepas'. Terutama waktu saya mengikuti jejak para New Yorker yang hobi jalan kaki di jalan-jalan yang membelah kotanya. Juga waktu saya duduk santai di cafe toko-toko buku setelah tugas hari itu selesai. Dan waktu akhirnya saya bisa nonton 3 musikal Broadway klasik yang 12 tahun sebelumnya cuma bisa saya pandangi posternya dari jalanan di Times Square. Sekarang, saya bisa nonton Mary Poppins, Phantom of the Opera, dan West Side Stroy dengan uang saya sendiri. Pada kunjungan saya yang kedua ke New York ini saya punya pikiran lain: kesendirian itu gunanya untuk dinikmati. Dan, kota ini adalah tempat yang paling pas buat menyendiri!

Pasca Lebaran 2010, kembali lagi saya pergi ke New York. Seperti biasa, keberangkatan saya ke New York selalu unik. Kalau sebelumnya saya ke sana untuk tugas, kali ini bener-bener murni liburan! Teman seangkatan saya yang tugas di sana berbaik hati menampung saya di apartemennya. Saya sudah merasa exhilarated begitu bis Greyhound yang membawa saya dari Toronto memasuki Manhattan. Padahal, bisa dibilang Toronto itu 'adik kecilnya' New York. Tapi, 'feel'-nya sangat berbeda.

Saya memaksimalkan kunjungan saya yang ketiga ini untuk go local, model traveling yang paling saya sukai. Jalan kaki sepanjang Fifth Avenue.Nongkrong di sekitar Rockefeller Centre. Sarapan pagi di deli. Tentunya nggak lupa menghabiskan satu hari khusus di Union Square-' mekkah'-nya saya di New York karena di situ ada Strand Bookstore yang koleksinya justru tambah oke setelah Barnes and Noble menyatakan akan menjual tokonya.Temen-temen saya udah pada hafal, kalau saya sudah sampai Union Square, berarti saya nggak bakalan ke mana-mana lagi dalam satu hari itu. Ini pertama kalinya saya sampai di Strand di bawah jam 10 pagi, sebelum tokonya buka. Biarpun hari itu nggak ada sale atau acara khusus, lumayan banyak lho yang antri nungguin toko buka! Ternyata, Strand memang masih jadi toko buku favorit para New Yorkers!Saya juga nyempetin jadi kakak yang baik dengan ngajak adik-adik angkatan saya di kantor- Gracie yang lagi sekolah di NY, sama Ima yang baru lulus dari Nottingham dan mampirdulu ke NY sebelum pulang ke Jakarta- ngafe di Max Brenner, tetangga depan si Strand. Si Max Brenner ini dengan kreatifnya bikin nama baru buat chocolate milkshake, namanya jadi frozen hot chocolate, menu kesukaan saya. Agak-agak ajaib tapi jadi punya selling point, kan? :-P

Puas ngubek-ngubek Strand, saya nyeberang ke cafe sebelah buat beli sandwich sambil people watching, salah satu aktivitas favorit saya juga kalo lagi traveling. Sempet juga sih mampir ke Barnes & Nobles di 17th Street yang ternyata kondisinya lagi menyedihkan. Gimana enggak, toko buku yang konon pernah ditahbiskan sebagai "the biggest in the world" itu- dan waktu saya datengin kurang dari setahun sebelumnya pun masih oke banget- keliatan kosong melompong! Koleksinya jadi dikiiiit....banget buat space segede itu. Ehhhmmm....jangan-jangan yang paling gede sekarang beneran World's Biggest Bookstore di Toronto atau Waterstone Piccadily di London, nih! Atau malah sekalian si Strand kalo diliat dari jumlah koleksi. Yang dateng juga jauh lebih dikit. Ada enaknya juga, sih. Saya jadi bisa lebih santai duduk sambil baca buku di kursi yang pas deket jendela, jadi bisa sambil people watching juga. 

Tanpa disangka-sangka, saya ternyata sempat nonton musikal juga di Broadway. Padahal, tadinya nggak saya rencanakan karena kan saya cuma 3 hari 2 malem di New York. Yang istimewa, kali ini saya bisa nonton musikal Wicked -prequel-nya Wizard of Oz- bertiga sama temen-temen saya, Rina yang memang posting di NY, dan Noey yang juga lagi kabur dari pos-nya di Caracas. 'Bonus' yang lain juga ditraktir makan di restoran China yang cozy di Chinatown sama temen-temen saya di New York. Seriously, kalau pergi ke kota yang multikultur, nggak bakal lengkap kalau nggak liat 'peradaban' lain yang ada di situ.

Sampai ketiga kalinya saya ke New York, saya selalu menikmati setiap detiknya. Mulai waktu dulu saya jadi turis kere, waktu saya ke sana buat dinas, sampai waktu saya go local sebagai weekender dari negara tetangga. Nggak harus jadi orang kaya buat menikmati New York. Nggak juga harus jadi front pager atau headliner karena siapapun punya tempat di kota ini, somebody or nobody.

Tapi, harus mau jadi adventurer.

Dan buat saya, New York selalu berarti satu kata: reborn.


Dedicated to:

1.Rin-chan: Makasih ya, neng.....nggak boleh bosen, loh....because I'll be back!

2. The other NYers: Mita ( and Little Dhira), Rina, Yanthee & Aldi, thank you all, guys! Love that little Chinese bar...hahaha...

3. Noey: kapan-kapan kita gangguin Rina lagi sambil bernarsis ria sepanjang kota, yak! Tapi kalo lo mau nongkrong di Apple Store itu gue WO! Gue nunggu di B& N aja, ya?

4. Gracie: Luv you, dear.....we'll turn ourselves into gossipers sans frontieres, won't we? :-P You owe me that visit to the students quarter, by the way.....

5. Ima : Totally understand kenapa sampai 2 kali ke Big Apple....because I feel the same way....

6. Kak Ruri: Please hold on to your dream, and you know which one in particular......

Friday, October 15, 2010

The Real Life Billy Elliot



Am always skeptical with the saying," A dancer comes to life when he or she dances". Until I saw this guy performed this very dance live on stage.

Oh.My.God.

And his name is Daniil Simkin.

Now I know what my next search in youtube will be....

Wednesday, October 6, 2010

Danielle Steel Bukan Romance

Dari semua penghuni lemari-lemari buku saya, deretan novel karya Danielle Steel adalah yang paling sering dicela sesama bookoholics. " Lho, kamu baca Danielle Steel? Suka romance juga ternyata?" Hhhh.....sampai situ aja udah cukup diskriminatif sebenernya.Sampai sekarang saya juga masih belum ngerti kenapa novel-novel romance kesannya masih ditempatkan dalam 'kasta rendah', bahkan sama sesama bookoholic sendiri. Padahal, speaking of romance, banyak lho novel genre romance yang berbobot! Tapi, itu nanti cerita lain lagi....

Sekarang saya mau cerita tentang novel-novelnya tante cantik ini.

Tahun 2006, saya pernah ikutan satu milis buku. Waktu itu forum memang belum populer.*Apa saya yang kurang gaul, ya?* Suatu kali, ada salah satu anggota yang minta saran tentang novel-novel Danielle Steel yang rencananya mau dia jadikan penelitian skripsinya. Reaksi pertama, permintaannya ini langsung dicela beberapa anggota lain. Pada sibuk kanan-kiri nyaranin buku-buku lain yang menurut mereka lebih berbobot.


Saya justru salut karena dia paling nggak udah cukup jeli mengambil penulis kontemporer buat penelitian skripsinya. Dengan semangat 45, saya sampaikan opini saya tentang Danielle Steel dan beberapa novel yang bisa dia jadikan pilihan buat observasi awal.*Sayangnya dia nggak jadi neliti novel-novel Danielle Steel karena takut sama kemungkinan dikerjain di ruang sidang....oh come on, girl!Di ruang sidang kita yang jadi expert!*

Saya memang paling 'gatel' dan keganggu kalau ada kritikus yang bilang novel-novel Danielle Steel itu murni romance. Maksudnya romance di sini a la putri-putri Disney gitu, yang tinggal tidur ratusan tahun sebelum ditemukan sama pangeran ganteng (yang tampangnya sama semua....poligami kali pangerannya, ya?) and they live happily ever after.... sedangkan para princess-nya Danielle Steel adalah perempuan-perempuan cerdas dan mandiri dari berbagai jaman, yang selalu siap fight demi mengejar kebahagiaan dan impiannya.

Dalam novel-novelnya, Danielle Steel memang gelisah terhadap posisi perempuan di masyarakat, terutama tentang persamaan hak dengan lawan jenisnya. Nggak cuma hak publik, tapi juga hak privat. Kalau cuma lihat plot ceritanya, oke, memang agak Disney-ish- karena seperti tagline-nya Tante Danielle, "....and I believe in happy endings..." tapi yang lebih penting, 'putri-putrinya' Danielle Steel- yang mayoritas profesinya lawyer (banyak banget nih yang ini!), pengusaha sukses, eksekutif muda, jurnalis tangguh, dokter, banker, sutradara- nggak pernah 'tidur' sebelum mencapai impiannya.

Kekuatan utama novel-novel Danielle Steel bukan pada plot, tapi pada tema dan latar. Steel juga sangat memperhatikan detail, apalagi di banyak novelnya, dia mengambil periode sejarah yang beragam sebagai latar. Saya belajar revolusi Rusia dari 'Zoya', relokasi warga keturunan Jepang di AS pasca Pearl Harbor dari 'Silent Honor', resistensi warga keturunan ras Aria di Eropa terhadap Hitler dari 'The Ring" dan "Echoes", diskriminasi warga kulit hitam di AS dari "Full Circle", belum lagi beberapa novelnya yang mengambil latar belakang Perang Dunia I dan II. Kelebihan Steel adalah dia mampu menjadikan latar belakang historis itu lebih personal. Misalnya, dalam 'Zoya', dia ceritakan gimana keempat anak perempuan Tsar Rusia biasa menandatangani surat-surat pribadi mereka dengan inisial OTMA, huruf awal nama mereka berempat- Olga, Tatiana, Marie, dan Anastasia. Waktu saya cross check di buku-buku sejarah, ternyata fakta ini memang benar.Di novel 'Wanderlust', Steel juga pernah cerita tentang Jenderal Rommel- salah satu jenderal andalan Hitler yang terkenal dengan Afrikakorps-nya- yang hobi fotografi, sampai-sampai saat memimpin  perang pun dia tetap membawa beberapa kamera berikut lensa-lensanya. Belum lagi cerita mengenaskan tentang orang-orang kaya di New York yang pada bunuh diri saat Great Depression tahun 1930, atau tentang kaum ningrat Rusia yang harus bekerja kasar atau jadi supir taksi di berbagai kota besar di Eropa, waktu mereka harus mengungsi dari Rusia karena situasi yang memanas saat revolusi. Itu diceritakan di 'Zoya'.

Danielle juga jago mengangkat isu-isu penting dari lingkungan yang lebih domestik. Topik favoritnya memang tentang posisi perempuan. Dalam hal ini, Danielle jeli dan kritis mengangkat isu-isu yang justru masih jarang dibahas. Misalnya, "The Long Road Home" dan "Malice" mengangkat isu child abuse di kalangan masyarakat ekonomi atas dan berpendidikan tinggi yang biasanya tersembunyi dengan rapi. "Journey" dengan sangat cerdas mengangkat kasus kekerasan non fisik dari suami terhadap istrinya, sesuatu yang masih sangat sangat jarang dibahas dan seringkali terlupakan karena memang nggak ada bekas yang kasat mata. Di novel "Lightning"- menurut saya ini salah satu novel Danielle yang paling kritis- Danielle mengangkat beban mental dan sosial yang harus ditanggung perempuan penderita kanker payudara, dengan fokus kelas menengah ke atas dan terpelajar.

Nggak selamanya 'jagoan' Danielle perempuan. Di novel "Daddy", yang diangkat justru perjuangan seorang ayah menjadi single parent setelah ditinggalin istrinya begitu saja. Di novel "Family Album", Danielle dengan jeli memotret kehidupan satu keluarga di Beverly Hills tahun 1960-an sampai 1970-an, dengan segala kompleksitasnya. "Family Album" bisa dibilang novel Danielle yang paling padat isu, mulai dari masalah feminisme, homoseksualitas, drugs sampai unwanted pregnancies ada semua di situ.

Yang saya kurang suka dari Danielle, biasanya "princess"-nya yang canggih-canggih itu berjodoh sama laki-laki yang beda umurnya 15-30 tahun lebih tua!Ini satu misteri dari Danielle yang belum bisa terpecahkan oleh saya. Kenapa ya beda umurnya mesti sekian belas atau malah sekian puluh tahun lebih tua? Kalo mesti ada jarak, 5-7 tahun aja kan udah cukup sebenernya....*kata Tante Danielle: suka-suka yang nulis, dong...*

Dari gaya penulisan, Danielle punya kecerdasan memilih kalimat-kalimat awal yang sangat captivating, alias mampu mengikat pembaca. Seorang teman yang kebetulan editor pernah bilang, toleransi pembaca itu cuma sampai 10 kalimat pertama, jadi memang 10 kalimat pertama itu sangat penting. Keunikan Danielle yang lain, dia sangat suka memakai kata "and" yang sebetulnya kata penghubung di awal kalimat. Sampai sekarang, saya belum lihat lagi penulis yang berani pakai jurus dekonstruktif seperti ini. Menurut saya, ini justru trademark-nya Danielle. Biarpun saya kebayang di awal-awal dia pasti berantem panjang sama editornya.

Beberapa tahun belakangan ini (kalo nggak salah sejak akhir tahun 2004), memang ada perubahan di novel-novel Danielle Steel. Saya menduga ghostwriter-nya ganti. Novel-novel Danielle yang terbaru lebih concised. Pace-nya masih tetap cepat. Pilihan tema dan isunya tetap smart dan setting tetap jadi keunggulan utamanya. Tapi, dialog antar tokoh-tokohnya jadi lebih irit kata. Detail- terutama detail fisik-juga nggak serigid dulu. Secara keseluruhan, format penulisan yang lebih to the point ini memang perkembangan positif. Di sisi lain, saya sering kangen sama gaya penulisan Danielle yang lama, yang betul-betul bisa membawa pembaca 'hadir' dalam setting-nya.

Selama ini, saya selalu baca novel-novelnya Danielle dalam edisi asli. Kalau boleh jujur, saya sedih banget baca edisi terjemahan Indonesianya. Pertama, dari sisi jumlah halaman aja udah nggak logis. Danielle nggak pernah nulis kurang dari 300 halaman, spasi rapat, fontsize normal. Logikanya, edisi terjemahan Indonesia harusnya lebih panjang, apalagi saya lihat fontsize-nya dua kali lebih besar. Tapi, terjemahan Indonesianya bisa cuma kurang dari 200 halaman!Pernah sekali saya coba baca, dan saya bener-bener sebel karena terjemahannya sampai mengubah cerita. Makanya saya selalu insist, kalau mau coba baca novel Danielle Steel, BACALAH EDISI ASLINYA!

Monday, October 4, 2010

84, Charing Cross Road

Bukunya kecil, ringan, dan nggak terlalu tebal. Saya temukan di bagian khusus buku diskon di American Book Centre di Den Haag, sekitar tahun 2007. Karena memang saya paling hobby baca memoir/otobiografi/kumpulan surat atau diary, apalagi yang udah didiskon dan kondisinya masih mint, jadi saya angkut buku ini.

Buku ini jadi memorable buat saya justru karena isinya yang sederhana dan apa adanya. Malah, sampai sekarang buku ini masih memegang rekor buku yang saya selesaikan tercepat (selain buku anak-anak). Saya cuma butuh satu kali trayek kereta api NS ( Netherlaands Spoorwagen) Rotterdam-Leiden-Rotterdam yang totalnya kurang lebih 1 1/2 jam ditambah 1 jam lagi.

84, Charing Cross Road adalah kumpulan surat antara Helen Hanff ( sampai sekarang saya masih bingung gimana pelafalan namanya ...:-P ), seorang penulis naskah drama yang tinggal di New York, dengan Frank Doel, pemilik toko buku bekas di London. Tepatnya ya di 84, Charing Cross Road itu. Sederhana banget, kan? Korespondensi antara pemilik toko buku sama pembelinya. Tapi, harap diingat, settingnya pasca Perang Dunia II. Jadi, jauh banget dari era internet, e-bay, amazon.com, craigslist, kijiji, marktplaats, dan sebangsanya. Setahu saya, di masa itu yang paling canggih baru sistem belanja lewat katalog yang tentunya masih serba manual.

Helene Hanff mulai berkorespondensi dengan Frank Doel tahun 1949. Di surat pertamanya, Helene memesan beberapa buku ( yang waktu itu pun sudah susah dicari!) ke Frank yang baru memasang iklan di harian New York Times. Surat pertama Helene ini singkat dan to the point, mirip kalau kita kirim konfirmasi pesanan barang ke e-bay dan temen-temennya itu. Ternyata, itulah awal korespondensi mereka selama 20 tahun selanjutnya!

Makin lama, surat-surat antara Helene dan Frank jadi makin personal. Bukan lagi sekedar surat pesanan dari konsumen ke toko buku favoritnya. Mereka mulai bertukar informasi pribadi. Helene masih sendiri ( dan kayaknya tetap sendirian buat seterusnya), tapi Frank sudah berkeluarga ( malah sudah menikah 2 kali). Nggak cuma Frank, tapi semua staff toko buku di 84, Charing Cross Road itu juga akhirnya ikutan surat-suratan sama Helene. Mereka terkesan dengan style surat-surat Helene yang witty ( penulis, sih!). Biarpun intinya cuma pesan buku, tapi gaya bahasa Helene sangat ramah. Kayak nulis e-mail ke temen baik. Apalagi, saking terkesannya sama servis yang diberikan Frank cs karena selalu sukses menemukan buku-buku yang dicari Helene, juga karena dia memang baik hati, sesekali Helene mengirimkan bingkisan makanan buat staf-staf toko buku itu. Tahun '49 itu, Eropa memang masih belum sepenuhnya recover dari PD II, supply makanan juga masih belum lancar. Helene beberapa kali kirim makanan kaleng, malah sesekali ditambah telur segar! Waktu itu lagi jadi makanan mewah banget di negerinya Ratu Elizabeth gara-gara perang.

Sebagai bookoholic, Helene sangat berkarakter. Dia punya habit yang unik: termasuk 'jarang' beli buku! Tapi, Helene rajin pinjam buku dari perpustakaan. Taste-nya juga sangat spesifik. Dia paling nggak suka baca fiksi. Favoritnya buku-buku filosofis, diary, dan puisi. Dalam salah satu suratnya, dia pernah ngomel-ngomel sama Frank ( kayaknya cuma sekali itu deh Frank gagal nyari buku pesanan Helene) karena cuma ngirimin versi singkat ( concised) diary-nya Samuel Pepys, anggota parlemen slash playboy aristokrat asal Inggris yang memang dianggap 'mbah'-nya diarists. (Sampai sekarang juga nemuin edisi lengkap diary-nya Samuel Pepys yang sampai belasan buku itu susahnya setengah mati!) Helene cuma beli buku yang dia betul-betul suka ( dan sudah pernah dibaca). Tapi, dia bisa baca satu buku berkali-kali! Satu lagi kebiasaan Helene yang tergolong langka bahkan 'dosa besar' buat umumnya bookoholic: nggak semua buku disimpen. Di apartemennya yang kecil, dia cuma punya satu rak buku. Tiap musim semi, isinya dipilih-pilih. Yang udah jarang dibaca dikasih ke temennya yang butuh. * kalo ada lagi bookoholic yang kayak gini saya dengan senang hati jadi keranjang sampah*

Frank sangat paham selera Helene. Nggak jarang, dia juga menawarkan buku-buku yang dia temuin sebelum dipajang di toko bukunya. Sebagai sesama bookoholic, Frank juga mencoba menawarkan sesuatu yang baru buat Helene. Misalnya, menyarankan beberapa novel yang nilai filosofisnya tinggi. Di surat-surat terakhir, Helene malah jadi ngefans sama Jane Austen, gara-gara dikirimin Frank novel "Pride and Prejudice". Malah, di surat yang paling akhir, Frank lagi berusaha nyariin set novel kompletnya Jane Austen buat Helene.

Helene dan Frank nggak pernah ketemu langsung. Tapi, Helene-lah best customer di 84, Charing Cross Road. Sampai-sampai kalau ada teman Helene yang lagi liburan di London dan mampir ke toko buku itu, semua staf pasti ngajak mereka makan malam. Frank meninggal tahun 1969 karena infeksi pasca operasi usus buntu ( sedih banget waktu baca surat yang ditulis salah satu karyawannya buat Helene). Nggak berapa lama, toko bukunya ditutup.

Helene sendiri akhirnya kesampaian pergi ke London tahun '70-an. Satu-satunya kota impian Helene. Di sana, Helene ketemu sama istri dan anak tunggal Frank, plus sebagian besar mantan karyawannya. Helene bahkan sempat pergi ke 84, Charing Cross Road, sendirian masuk dari satu ruang ke ruang lain di gedung bekas toko buku yang udah kosong itu.

Waktu saya sendiri berkesempatan pergi ke London tahun 2008, saya sempetin juga cari 84, Charing Cross Road ini dan bikin bingung temen-temen saya.Memang sih, sampai sekarang di jalan itu berderet toko-toko buku baru dan second. Saya juga tau toko bukunya Frank udah lama almarhum. Tapi penasaran aja, pengen juga ngerasain intimacy antara Helene dan Frank. Ternyata, alamatnya memang masih ada. Tetap 84, Charing Cross Road. Tapi, si toko buku sekarang sudah jadi ....Pizza Hut! Satu-satunya keaslian yang masih ada cuma lampu kuno di atas pintu depan....

Wednesday, September 29, 2010

Sehari di Words On The Street Festival, Bukan Pesta Buku Biasa...

Tiap kali saya bepergian ke satu tempat, yang pertama kali saya tanya ke Oom Google pasti "bookstore","used bookstore", dan "book fairs". Sependek apapun waktu kunjungan saya di satu tempat, saya pasti cari toko buku. Apalagi kalau lama sampai hitungan tahun kayak sekarang, karena itu berkaitan sama 'sanity' saya ....:-P.Buat Toronto, toko buku nggak perlu diragukan. Tapi waktu saya cari informasi tentang book fair- dari guide book dan dari internet- yang cukup sering keluar adalah "Words On The Street Festival."

Karena di banyak guidebook digadang-gadang sebagai "books and magazine festival", bayangan awal saya, WOTS ini kayak Boekenfestijn, pesta buku super murah yang digelar tiap dua bulan sekali di Belanda ( cerita lain, yaaa....). Tapi, setelah saya browse lebih jauh dan official site-nya untuk tahun 2010 keluar, ternyata tagline yang dibawa "Canadian biggest literary festival". Nah, di sini saya baru penasaran. Kalau tagline-nya begitu, harusnya lebih dari sekedar jual buku murah. 

Tahun 2010 ini, WOTS digelar tanggal 26 September. Hari Minggu, cuma satu hari, dan cuma 7 jam, dari jam 11 siang sampai jam 6 sore.Tempatnya di Queen's Park, masih satu area sama Universitas Toronto dan gedung legislatif propinsi Ontario. Queen's Park memang sering dipakai buat event-event publik seperti itu. Jauh-jauh hari, tanggal itu udah saya kasih tanda di kalender. Udah juga nyiapin beberapa alasan lucu kalau-kalau pass....di tanggal keramat itu saya mendadak mau dipergikan dari Toronto . Biarpun belum yakin kayak apa bentuk si WOTS sebenernya, dari kondo saya bawa 'senjata' ransel gede saya, plus 2 tote bag besar yang khusus saya beli di toko buku ( info penting-nggak-penting: tote bag buat buku biasanya jauh lebih kuat). Kebetulan hari itu, para peramal cuaca di Kanada salah tebak lagi soal cuaca di Toronto. Yang digosipin bakal hujan dan dingin, ternyata cerah cenderung panas. Baguslah. Cocok buat festival outdoor. Selain di Toronto, WOTS juga digelar di empat kota besar di Kanada.

Tapi, seperti kata Forrest Gump, " life is like a box of chocolate. You never know what you'll get". Nothing's prepared me for what I was gonna find in Queen's Park. Begitu sampai, saya langsung 'ngeh' kalau ini bukan pesta buku biasa. Gini deh, satu toko buku aja- kecil atau gede- udah cukup bikin saya ( dan semua bookoholic) panik. Nah, gimana kalau yang ada di depan mata, SATU taman kota ukuran XL yang penuh sama tenda-tenda yang isinya buku, buku dan buku ?

Ralat! 
Nggak cuma buku, tapi ada juga majalah, jurnal-jurnal yang umumnya jurnal sastra, komik, koran....pokoknya semua yang bisa dibaca! Malah tahun ini ada stand khusus buku digital. 

Sebelum saya kalap ambil kanan ambil kiri, saya memutuskan buat muterin Queen's Park dulu satu lap buat lebih mempelajari medan kayak mau perang ( bener juga sih: perang hawa nafsu khusus para bookoholics !). 

Bedanya sama booksale biasa, nggak semua buku di WOTS ini dijual murah biarpun hampir semuanya didiskon. Rata-rata diskonnya 20-30%. Diskonnya nggak terlalu besar, karena memang bukunya buku baru, mint condition. Diskon segitu juga udah lumayan dibandingin harga toko buku. Tapi, bukan berarti nggak ada 'bonusnya', lho.....

Inti dari WOTS yang tagline-nya jelas-jelas 'literary festival' adalah mempertemukan semua pelaku dan pencinta sastra di satu tempat, satu hari, selama 7 jam itu. Jadi, di sini penerbit berinteraksi langsung sama end-users, tanpa perantara toko-toko buku. Yang istimewa, sebagian besar penerbit yang ada di WOTS ini asli penerbit Kanada, dengan produk literatur asli Kanada. Saya bilang istimewa karena sebagai frequent flyer toko-toko buku komersial di Toronto, saya lihat karya-karya sastra Kanada -klasik ataupun kontemporer-masih dibayang-bayangi tetangga sebelahnya yang memang suka nggak suka masih lebih jago menguasai selera pasar internasional. Jadi, di WOTS saya lihat banyak buku yang nggak pernah saya lihat di toko-toko buku komersial. Waktu saya ngobrol sama beberapa penerbit, mereka mengakui memang biasanya mereka nggak masok banyak ke toko-toko buku, sesuai demand. Atau, ada juga buku-buku yang nggak dijual di toko buku biasa, tapi langsung ke pihak-pihak yang memang butuh, misalnya ke sekolah-sekolah atau universitas.

Yang saya kagum, para "SPG/SPB" penerbit itu bener-bener knowledgeable tentang produk-produk yang mereka jual. Jadi, dialog sama pengunjung yang notabene juga calon pembeli betul-betul tentang isi buku. Pengunjung ditanya sukanya buku apa, terus berdasarkan jawaban itu dikasih saran sebaiknya baca yang mana lagi. Yang paling heboh stand-nya Random House. Major publisher ini bener-bener all out, sampai bawa buku-buku yang belum masuk ke toko-toko buku karena baru selesai dicetak setelah diterjemahin, atau buku-buku yang sehari-harinya malah belum dipasarkan di Kanada. Dan para SPG/SPB-nya juga 'jujur', jadi nggak asal promosi supaya bukunya dibeli. Waktu saya ambil dua buku karya Hans Fallada ( penulis Jerman yang karya-karyanya baru saya baca tahun ini), saya ditanya apa bener saya mau beli dua-duanya, apalagi harganya juga lumayan mahal ( biarpun udah didiskon). Saya jawab apa adanya, kalau memang saya suka historical setting-nya Hans Fallada, yang selalu mengambil setting era Third Reich di Jerman. Apalagi saya tahu persis kalau satu dari dua buku itu belum ada di toko buku.Si Bapak SPB yang penampilannya lebih mirip profesor itu lantas bilang kalau karya-karya Hans Fallada itu content-nya beda satu sama lain, biarpun setting-nya sama. Ada yang cenderung historis-filosofis, ada yang mengarah ke romance, ada yang rebellious. Nah, ini informasi berharga buat saya.

Ada juga beberapa toko buku secondhand yang udah punya nama di Toronto yang buka stand buku murah di sini. Tapi, kali ini stand-stand itu saya skip dulu, karena bisa saya datangi sewaktu-waktu. 

Selain stand-stand para penerbit dan toko buku, yang nggak kalah menarik stand-stand komunitas sastra. Dengan dateng langsung ke WOTS, saya jadi tahu kalau komunitas sastra di Toronto sangat hidup. Soalnya ada Toronto Romance Writers Association, ada komunitas penulis horor, sampai komunitas penulis sci-fi. Nggak cuma itu, ternyata ada juga beberapa LSM khusus sastra. Salah satu yang paling aktif, yang bergerak di bidang 'challenged books', alias buku-buku yang pernah dilarang. 

Perpustakaan-perpustakaan di Toronto juga nggak ketinggalan, tampil nggak kalah heboh dari stand-stand komersial. Dari sini saya baru tahu kalo ada satu cabang public library di Toronto yang punya wing khusus buku cerita anak-anak edisi perdana, donasi dari seorang pustakawan asal Inggris yang  jaman dahulu kala ceritanya terkesan  sama koleksinya Toronto Public Library. Stand ini tampil atraktif banget dengan merchandise cerita-cerita klasik yang based on ilustrasi klasik. Hmmm....TKP berikut yang perlu diinspeksi, nih....

Highlight dari WOTS, nggak lain dan nggak bukan ya sesi book reading dan book signing langsung dari para penulisnya. Dua aktivitas ini berlangsung sehari penuh. Di tenda-tenda khusus di bagian tengah Queen's Park, para penulis gantian buat sesi book reading, jadi mereka share bagian-bagian tertentu dari bukunya, disambung meet and greet sama audience dan tentunya book signing. Tapi, karena penulis yang punya sesi khusus ini jumlahnya sampai puluhan, ya nggak mungkinlah saya ikutin semuanya! Nanti nggak bisa shopping. Jadi, saya hop on hop off aja dari satu tenda ke tenda yang lain. Yang paling seru adalah book reading di tenda khusus buku anak-anak, karena penulisnya harus bisa baca sesuai karakter-karakter yang ada di bukunya.

Penulis yang datang ke WOTS ini banyak banget, dan jangan salah, rata-rata penulis papan atas yang sudah punya nama internasional! Tapi memang namanya penulis, secara fisik mereka seringkali 'nggak kasat mata' di tengah publik. Dan di WOTS ini, para penulis nggak selamanya ada di 'podium'. Justru mereka bener-bener mingle.Di beberapa stand, para penulis turun tangan langsung melayani pembeli.  Malah, ada beberapa penulis yang langsung ngajak ngobrol calon pembaca yang lagi mikir-mikir mau beli bukunya, atau tanya-tanya pendapat pembaca yang sudah pernah baca buku yang mereka tulis. Kayaknya buat riset pasar langsung, ya. Jadi, jangan kaget kalau di WOTS ini, tahu-tahu kita diajak ngobrol sama orang yang fotonya ada di cover belakang buku yang lagi kita pegang. Buat saya yang bisa lebih heboh kalau ketemu penulis favorit saya daripada kalau ketemu bintang film kecuali mungkin Zac Efron, ini jelas pengalaman seru! Saya juga sempet liat kok beberapa pengunjung yang sampai nyaris histeris ketemu penulis favoritnya....

Yang lucu, kelakuan para 'literary red carpetters' ini juga beda-beda. Ada yang banci tampil. Dengan super pede promosiin bukunya terus bilang, " Saya penulisnya. Mau ditandatangan nggak bukunya?" Ada yang malu-malu. Biasanya malah temennya yang buka rahasia, " Dia lho yang nulis buku ini. Mau ditandatangan sekalian, nggak?" Hihihi....

Yang paling 'seleb' Yann Martel, penulis 'The Life of Pi". Dia yang terakhir signing menjelang WOTS selesai. Antriannya panjaaaang....a la antrian sembako. Tapi yang jelas, semua penulis ramah dan seneng banget kalau diajak ngobrol sama pembaca yang antusias sama bukunya.Satu lagi yang buat saya terkesan, waktu ngomong, mau itu public speaking atau one-on-one, pilihan kata mereka sangat elegan! 

Setelah kenal 'medan', akhirnya saya putuskan buat beli buku-buku yang nggak pernah atau jarang banget saya liat di toko buku. O ya, sama buku-buku yang selama ini saya pandangin dengan muka mupeng di toko buku tapi belum kebeli--dan bisa ditandatangan langsung sama penulisnya! Kalau ada 'bonus' kayak gini, nggak apa-apa deh bayar penuh. Semua bookoholics pasti tahu dong, value-nya buku yang sudah ditandatangan penulisnya!

Waktu mulai 'belanja', saya sempet panik. Habis, sampai jam 1/2 5 sore atau cuma 1 1/2 jam sebelum WOTS selesai, saya baru ngiterin setengah lap! Bookoholics milih buku kan sama rigidnya kayak fashionista milih baju. 

Berapa buku yang saya ajak pulang? Hihihi....you don't wanna know.....pokoknya cukup bikin saya terseok-seok jalan ke stasiun subway terdekat yang untungnya deket banget, bareng-bareng sama pengunjung lain yang semuanya pada jadi Mr & Miss Jinjing kanan kiri, plus backpack gede yang udah super bulky.

Nggak semua buku itu saya beli, lho. Soalnya banyak penerbit yang ngasih bonus. Yang umum, beli satu boleh pilih satu buku gratis ( dari kumpulan buku tertentu). Tapi ada juga yang spektakuler. Di satu stand penerbit yang spesialisasinya buku tentang Toronto, pengunjung yang beli satu buku dapet bonus satu goody bag yang isinya 4-5 buku, GRATIS! Syaratnya cuma satu: goody bag-nya nggak boleh diintip dulu. Jadi bener-bener lucky draw. Tapi nggak masalah karena buku-buku yang ada di goody bag itu pun buku-buku pilihan yang bagus-bagus. Seumur-umur beli buku, baru sekarang nih saya beli satu dapet bonus 5 buku gratis!

Cuma sekali setahun, satu hari, dan 7 jam....tapi ini literary festival paling glamor yang pernah saya temui. Buat para bookoholics di mana aja, WOTS is definitely a must-see.....





Tuesday, September 7, 2010

Tips Baca Buku a la saya...

 Buat para bookoholics, milih dan baca buku itu sebuah seni. Kalau ke toko buku, bookoholic sejati pasti perlu waktu yang sama lamanya seperti para fashionista milih baju!Milih buku ( dan tentu saja membacanya) perlu ketelitian tingkat tinggi.

Dari saya pribadi, resep dasarnya ini nih:

1. Cek CV Penulisnya 
    terutama buat karya fiksi. Sebagai pembaca, otomatis yang kita cari duluan pasti sinopsisnya, dan memang sinopsis membantu menjelaskan isi buku. Tapi, sinopsis yang cuma satu atau dua paragraf itu lebih membantu menjelaskan plot buku. Jarang sekali ada sinopsis yang bisa menjelaskan style si penulis. Pengalaman pribadi waktu saya beli bukunya Primo Levi, If This Is A Man. Sinopsisnya bilang kalau ini memoir Levi sewaktu dipenjara di Auschwitz. Ternyata, bahasa dan gaya penulisannya sama sekali bukan gaya mengalir dan dari sudut pandang orang pertama seperti umumnya memoir dan otobiografi. Penulisannya filosofis sekali !Kalau saya nggak baca sinopsisnya, saya mungkin nggak tahu kalau Levi lagi kontemplasi soal pengalamannya di Auschwitz! Belum lagi, kayaknya si penerjemah kesulitan menerjemahkan karya asli dalam bahasa Italia ke bahasa Inggris. Sampai sekarang, ini termasuk buku paling ribet yang pernah saya baca.

Kalau kita lebih dulu cek CV penulis, paling nggak kita bisa ngira-ngira seperti apa style penulisannya dari latar belakangnya, entah itu asal-muasal, profesi, atau juga studi. Apalagi buat debut novel alias karya pertama! Lebih bagus lagi kalau bisa ketemu apakah si penulis pakai ghostwriter apa enggak. Tapi biasanya, penulis yang pakai ghostwriter adalah mereka yang sudah nulis beberapa buku. Seringkali kita tahu lho, kapan mereka ganti ghostwriter, apalagi kalo rajin baca semua bukunya!. Kalau bisa ketahuan siapa ghostwriter-nya, lebih bagus lagi! Biarpun para 'pahlawan tanpa tanda jasa' ini baru disebut namanya setelah si penulis meninggal. Yang cukup penting juga, dengan tahu CV penulisnya, kita jadi tahu dari mana si penulis dapat ide buat karyanya. Penulis yang punya ikatan khusus sama sumber inspirasinya, biasanya karyanya jauh lebih bagus! Cari CV penulis bukan kerjaan susah lagi di era internet sekarang, karena hampir semua penulis punya website. Yang 'beruntung' punya Blackberry atau I-phone atau smartphone lainnya, bisa langsung cek CV penulis saat itu juga.

2. Cek Penerjemah
Buat karya-karya terjemahan, ini aspek super penting! Menurut saya, sebuah karya itu paling afdol dibaca dalam bahasa aslinya. Tapi kalo kebetulan kita nggak menguasai bahasa asli itu, ya masa kita mau ketinggalan kereta baca buku-buku bagus? Makanya, jangan males cari CV penerjemah.

Menerjemahkan itu memang bukan pekerjaan gampang. Yang lebih susah dari sekedar menerjemahkan kata adalah menerjemahkan budaya. Terjemahan paling bagus  ke dalam bahasa Indonesia, menurut saya adalah terjemahan karya-karyanya Enid Blyton, Astrid Lindgren, dan Laura Ingalls jaman dulu, jaman saya masih SD-SMP. Kalo saya nggak salah inget, penerjemahnya cuma beberapa orang, salah satu yang paling sering nongol namanya Djokolelono. Selain jago cari padanan kata, para penerjemah ini jago sekali masukin info-info singkat tentang detail-detail yang nggak ada di Indonesia, tanpa sedikit pun merusak jalan cerita. Misalnya, penjelasan tentang 'waktu minum teh' di Inggris, atau hari-hari libur anak sekolah di Swedia. Belum lagi cari padanan tokoh-tokoh dongengnya Enid Blyton yang namanya lucu-lucu itu! Malah, waktu belum lama ini saya nemu buku-buku Astrid Lindgren ( dan juga Totto-chan!) dalam bahasa Inggris, saya tetap lebih suka terjemahan Indonesia 80-an-nya karena dapet 'joke'-nya. Makanya, saya sempat lama berburu  buku 'Madita'  edisi terjemahan lama, karena terjemahan barunya kurang asyik. Waktu akhirnya ketemu, senengnya setengah mati sampai saya bawa tiap kali saya harus mutasi.

Waktu saya iseng baca buku-buku yang sama dengan terjemahan baru, ternyata memang style-nya sudah berubah. Jadi 'kurang sedap' bacanya karena ceritanya jadi seperti kehilangan 'roh-nya'. 

Biarpun kita nggak belajar satu bahasa asing secara serius, sebelum beli buku terjemahan ada bagusnya juga mempelajari karakter bahasa asli vs bahasa kita. Samanya di mana, bedanya di mana.Perubahan yang terjadi harusnya seperti apa.  Misalnya, biarpun strukturnya lebih sederhana, tapi dari kosa kata, bahasa Indonesia itu lebih kompleks dibandingkan bahasa Inggris. Satu kata dalam bahasa Inggris bisa jadi beberapa kata atau malah satu kalimat utuh dalam bahasa Indonesia. Kalau dipikir secara logis, berarti karya terjemahan dari bahasa Inggris harusnya jadi lebih panjang  dalam bahasa Indonesia. Kalau inget terjemahan seri 'Petualangan' Enid Blyton yang sampai 400 halaman, itu memang normal, apalagi font size-nya dibuat lebih besar. Karya aslinya cuma 160 halaman. Makanya saya nggak pernah percaya sama novel terjemahan Danielle Steel yang maksimal cuma 200-an halaman (hurufnya gede-gede, lagi!), karena Danielle Steel nggak pernah nulis buku yang kurang dari 300 halaman! Jadi bisa dibayangin gimana tebelnya novel Gone With the Wind kalo diterjemahkan dengan 'benar' ke bahasa Indonesia, karena karya aslinya sampai 10010 halaman spasi sangat rapat!

Cek juga apakah si penulis memasukkan dialek atau bahasa lokal dalam karya aslinya. Ini juga bisa bikin penerjemah pusing kepala. Tahun 2007, saya pernah ngasih hadiah ulang tahun terjemahan buku Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer ke teman saya orang Amerika, yang memang hobinya baca buku-buku yang pernah dilarang. Penerbitnya udah salah satu yang paling oke di dunia,tuh. Yang ibaratnya tinggal merem aja ambil buku apapun keluaran penerbit itu, jaminan mutu pasti bagus! Sebagai pembaca cerdas, teman saya bisa merasakan kejanggalan novel itu. Setelah selesai baca, dia bilang sama saya kalau dia berharap bisa baca edisi aslinya, karena dia tahu ada sesuatu yang spesial tapi terpaksa hilang karena kesulitan teknis penerjemahan. Saya langsung tahu apa yang dia maksud, karena memang Pram banyak masukin dialek-dialek lokal dalam edisi asli, terutama dialek Jawa kuno.

Karya-karya Perancis lain lagi. Dua atau tiga buku dalam bahasa Perancis, bisa jadi cuma satu buku dalam bahasa Inggris!Kalau ini, bukan karena dipotong kanan-kiri, tapi memang bahasa Perancis terkenal dengan 'bunga-bunganya'. Malah ada joke, kalau orang Perancis ngomong 2 menit, orang Inggris cukup setengah menit.Begitu juga dengan bahasa tulisan. Tiga halaman dalam bahasa Perancis bisa jadi cuma satu atau malah cukup setengah halaman dalam bahasa Inggris.

3. Jangan keseringan liat kamus
waktu baca karya asli. Pastinya ada banyaaaak....sekali kata-kata yang kita enggak ngerti, tapi kalau tiap kali ngintip kamus, kita malah kehilangan plot-nya. Lebih baik dibaca sampai tamat satu bab atau satu sub bab ( kan biasanya ada tandanya,tuh!), terus kita coba tangkap inti plot-nya. Kalau sudah dapet plot-nya dan kita buka lagi bab itu dari awal, kita pasti bisa mengira-ngira arti kata-kata yang tadinya 'gelap' buat kita, karena kita sudah tahu konteksnya. Boleh dicatat kalo rajin. Kalau pernah denger nama Anton Hilman, pengajar bahasa Inggris di TVRI jaman baheula, cara ini sangat disarankan, terutama buat pembaca yang memang sedang melancarkan bahasa asingnya. JANGAN pernah ngapalin kosa kata satu per satu, karena dijamin bakal langsung lupa kalau nggak pernah tahu penggunaannya dalam kalimat seperti apa.

4. Cek CV Penerbit
Ini juga penting.Kalau satu karya diterjemahkan sama lebih dari dua penerbit, ada kemungkinan style-nya berbeda. Inget waktu Kahlil Gibran booming sampai overstock awal tahun 2000-an? Untuk pangsa pasar pembaca berbahasa Inggris, persaingan antar major publishers cenderung keras, tapi justru menguntungkan buat kita pembaca. Iyalah, karena penerbit-penerbit itu berlomba-lomba pasang harga murah tapi dengan feature tambahan. Misalnya, ada yang kasih bonus historical timeline, jadi kita bisa tahu peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi pada setting cerita ini. Ada juga yang kasih reading group guide, isinya biasanya sinopsis super singkat tiap bab sama beberapa pertanyaan yang bisa jadi bahan diskusi. 

Last but not least, penerbit menentukan harga buku. Buku-buku dari penerbit yang sama, biasanya harganya sama atau nggak jauh beda. Ini tergantung juga dari jenis kertas atau tinta yang dipakai, dan desain cover. Kalo diperhatikan, buku-buku dengan cover movie tie in - maksudnya buku-buku yang dijadikan film dan majang gambar si bintang film di covernya- harganya lebih murah dibanding buku-buku yang cover-nya digambar khusus. Dalam keadaan normal, saya jarang musingin gambar cover dan lebih milih yang harganya paling murah, tapi memang saya paling nggak suka kalau cover-nya movie tie-in. Selama masih ada pilihan lain, biasanya saya ambil yang gambar cover-nya bukan movie tie-in, tentunya dengan selisih harga yang nggak jauh beda. Pernah sih, waktu beli buku Revolutionary Road, saya bayar dua kali lipat harga cover movie tie-in, karena saya males banget beli yang gambar covernya Leonardo DiCaprio! Yang saya beli kebetulan memang gambar cover-nya vintage bagus banget, jadi nggak rugi biarpun saya bayar lumayan mahal.

Yang paling murah adalah buku-buku terbitan India. Negara Bollywood ini memang punya ijin re-print dari banyak penerbit di negara-negara barat, jadi India mencetak ulang banyak buku terbitan negara-negara barat dengan kualitas produk yang diturunin, sesuai daya beli warganya. Asal tahu aja, orang India itu yang penting bisa beli buku murah, kualitas produk belakangan. Walhasil, kualitas cetakannya ada yang mirip fotokopian! Kertasnya kasar, font-nya mirip huruf ketik manual, dan yang paling 'juara' font-size-nya yang bener-bener segede footnote dan spasi super duper rapat! Sebelnya, India sempet-sempetnya ekspor buku re-print-nya ini ke Indonesia!

Ada beberapa penerbit yang pilihan buku-bukunya sudah jaminan mutu. Ibaratnya, saya berani pilih buku sambil merem, dan saya yakin nggak bakal menyesal. Penerbit-penerbit ini antara lain Penguin, Vintage, dan Scholastic ( khusus buat buku-buku young adults).

Happy shopping and....

                                    Happy reading!

Monday, August 30, 2010

Buku vs E-Reader

Di sebelah kondo saya ada toko buku bekas. Biarpun kecil dan agak ngumpet, tapi tempatnya cozy dan variasi bukunya menarik. Cukup sekali aja ke sana, saya langsung kompak sama pemiliknya, seorang laki-laki setengah umur bernama Joe.

Suatu sore, waktu saya lagi patroli di toko buku itu, kebetulan pengunjung lagi sepi. Emang udah mau tutup juga, sih. Saya juga udah mau cepet-cepet pulang biar bisa baca buku-buku yang udah saya timang-timang dari tadi. Juga biar tangan saya nggak bandel ambil kanan ambil kiri lagi. Di kasir, sambil menghitung total pembelian saya hari itu, Pak Joe tahu-tahu nanya begini, " Do you like having a community bookshop around?"

Untung nggak ada temen-temen saya! Pasti semuanya bakal bilang kalo si bapak salah nanya. Ya iyalah, seneng! Toko buku jauh aja saya jabanin, apalagi yang ada di sebelah kondo. Tapi, perkataan Pak Joe selanjutnya cukup mengejutkan. " Kalo gitu, enjoy aja selagi masih ada. Soalnya, udah banyak toko buku lokal yang tutup!"

Dari situ, kami terlibat obrolan seru ( dan cukup heartbreaking) tentang kaitan kemajuan IT dan dunia perbukuan. Menurut Pak Joe, toko-toko buku biasa sekarang banyak yang bangkrut karena pembeli lebih suka belanja online. Nggak banyak pembaca yang masih butuh sensasi datang, browsing, dan beli langsung dari toko buku kayak saya. Oke, itu sih masalah klasik di pemasaran komoditi apapun. Dan memang konsekuensi logis dari semakin mengguritanya Internet dan teman-temannya. Tapi, masih menurut Pak Joe, lama-lama nanti buku-buku yang kita kenal sekarang akan diganti dengan file digital, dan buku konvensional bakal jadi collector's item!

Nah!

Terawangan ( halah, kok kayak almarhumah Mama Lauren!) ini yang lumayan menampar saya. Dipikir secara logis, ini mungkin banget, lho! In fact, it's happening! Pertengahan tahun 1996, waktu saya ikut pertukaran pelajar di Iowa, AS, guru pembina tim buku tahunan di sekolah saya nunjukin satu artikel tentang kamera digital. Yang lucu, artikel itu dibahas justru waktu kita lagi belajar cuci cetak foto secara manual di kamar gelap. Guru saya dengan yakin bilang, " this will be the end of film rolls." Bisa ditebak, kita semua ketawa terbahak-bahak. Dengan segala kenaifan anak SMA, kita langsung berlomba-lomba menyangkal dengan argumen A sampai Z. Tapi, guru saya bertahan dengan keyakinannya. " Just give it another two decades at the most!," katanya yakin. Kenyataannya? Satu dekade pun nggak nyampe!

Sejauh ini, saya lihat buku dan literatur cetak masih sukses bertahan dari gempuran teknologi digital. Waktu saya kelas 1 SMP, saya pernah panik jaya waktu baca artikel tentang audiobooks yang dalam pikiran saya garing sekali. Emangnya dengerin sanggar cerita! Waktu itu, audiobooks diprediksi bakal menggantikan peran buku, seperti CD yang waktu itu sudah mulai menggeser kaset, atau DVD obesitas (alias Laser Disc) yang sudah mulai menggeser video BETA. Tapi, sampai sekarang, audiobooks cuma populer di kalangan tertentu. User-nya biasanya orang-orang yang memang memerlukan karena udah nggak bisa baca lagi, misalnya orang-orang yang penglihatannya sudah sangat minim karena uzur. Saya pernah nyoba ngupingin audiobooks satu kali, dan langsung kehilangan selera.

Waktu saya S2 di Belanda, Universitas Leiden berlangganan e-journal secara kolektif yang bisa diakses mahasiswa. Semua bahan kuliah juga dikirim dalam bentuk digital lewat intranet khusus. Yang pernah ngalamin pastinya tahu sendiri, bahan bacaan program master itu seabrek-abrek. Mestinya, dengan fasilitas seperti itu, mahasiswa nggak perlu nge-print lagi. Tapi, itu nggak berlaku buat saya. Saya tetap lebih suka ngabisin jatah copy card saya buat nge-print semuah bahan jurnal itu, sambil minta maaf ke pohon-pohon yang ada di taman kampus. Kalo udah di-print kan enak. Bisa dicoret-coret sesuka hati dan mata saya juga nggak pegel.

Sekarang, udah lahir e-reader. Di Toronto sini, udah mulai jamak orang-orang nongkrong di cafe atau di subway sambil baca dari e-reader. Temen-temen dan juga beberapa boss saya juga ada yang udah kedapetan nenteng-nenteng e-reader. Pertimbangannya memang praktis. Cukup bawa satu gadget, dapet puluhan atau nantinya mungkin ratusan buku. Layarnya juga beda sama screen komputer. Lapisannya lebih mirip layar kalkulator, jadi lebih nyaman buat mata.

Tapi, mikirin ratusan buku ada dalam satu gadget malah bikin saya ngeri. Kalo si e-reader itu jatuh atau rusak atau error, langsung bye-bye charlie dong ratusan buku saya? Kalaupun bisa di-recover, sampai seberapa? Kalo batere-nya habis dan saya lupa bawa charger, saya jadi nggak bisa baca, dong? Belum lagi kalo e-reader-nya ilang. Masa saya harus beli satu set e-reader lagi terus download buku dari awal lagi?

Apalagi sampai sekarang, belum ada e-reader yang bisa cross seller. Amazon punya Kindle, Barnes & Noble ngeluarin Nook, dan di Kanada, Chapters- Indigo bikin Kobo. Kalo ini, saya yakin cuma masalah waktu. Dulu juga kirim-kiriman SMS nggak bisa antar provider, kan? Tapi, saya sendiri belum tergerak buat beli benda ajaib itu- tunggu sampai bener-bener nggak ada pilihan lagi. Biarpun, harganya normal aja buat ukuran gadget.Mungkin nanti kali, kalo secara hukum pohon-pohon nggak boleh ditebang lagi buat modal bikin kertas.

Sekarang, dampak gurita digital sama pasar buku mulai 'menggigit', sih. Misalnya, nyari buku mass market paperback di toko-toko buku konvensional susah bener....padahal, itu cetakan favorit saya karena murah meriah dan paling ringan dibawa ke mana-mana. Edisi hardcover juga lebih lama menciut jadi paperback. Dulu paling lama rata-rata 6 bulan- malah seringkali edisi paperback dicetak sekaligus- sekarang bisa setahun lebih. Itu juga paling banter jadi deluxe paperback yang beda harganya nggak terlalu jauh sama hardcover. Mass market paperback sekarang ini lebih banyak dijual di toko-toko buku online.

Dengan saingan dari dunia maya ini, toko-toko buku konvensional tentunya mesti pasang strategi baru buat ngambil keuntungan maksimal dari para konsumen yang juga masih setia dengan cara beli buku konvensional, kayak saya. Dan pastinya bakal makin berat beban toko-toko buku kalau menggantungkan potensi profit sama konsumen yang masih punya kebutuhan 'sentimentil' belanja langsung di toko buku.

Berapa lama lagi ya, buku bisa bertahan?

Yang saya maksud tentunya buku yang kita kenal sekarang. Yang bahan bakunya kertas. Kalaupun nanti terawangan Pak Joe bener- bahwa buku akan jadi collector's item- mungkin nggak ya ada masanya orang kembali ke bentuk buku yang sekarang?  Ini kejadian di musik. Setelah CD berjaya, penikmat musik justru berlomba-lomba kembali ke vinyl alias...piringan hitam! Kan jadul banget tuh! Karena menurut mereka, biarpun mesti dirawat kayak bayi, bentuk rekaman ini kualitas suaranya paling bening.

Lepas dari apakah nantinya buku beneran hilang dari peredaran, ini alasan bagus buat saya puas-puasin 'piknik' ke toko-toko buku. Apalagi di tempat saya tinggal sekarang, buku-buku yang ada di toko buku telanjang semua ( alias nggak ada yang dibungkus plastik!). Jadi, saya bisa puas-puasin browsing sambil people watching. Siapa tahu, suatu hari saya harus nulis artikel yang opening-nya kayak begini, " Once upon a time there was a magical place called a bookstore..."


P.S: Nggak lama setelah post ini ditulis, Pak Joe memutuskan buat menutup toko buku ajaibnya...*sniff sniff* dan beberapa hari yang lalu, di koran lokal yang dibagikan gratis di stasiun-stasiun subway, saya baca artikel mengejutkan kalau Barnes & Nobel- franchise toko buku nomor satu di AS- memutuskan buat menjual kepemilikan chain bookstore-nya dan punya rencana mengoptimalkan online store-nya....*huaaaaa.....*

Friday, August 27, 2010

Taman Rahasia

Post ini bukan tentang salah satu buku klasik karangan Frances Hodgson Burnett yang jadi favorit saya, tapi diilhami seorang teman baik yang tahu-tahu mengganti profile pic BBM-nya dengan gambar Spiderman  
( yes, that spiderman!) Saya sedikit heran, karena setahu saya, dia bukan fans superhero itu. Karena penasaran, akhirnya saya kirimkan message, " Why Spiderman?" Bisa aja kan, tahu-tahu dia nge-fans sama manusia laba-laba itu. Reply-nya ternyata cukup menarik. " Lagi ngerasa kayak spiderman aja....asyik berkutat dengan diri sendiri, kayak spiderman yang lagi 'jumpalitan' di ketinggian..."

Biarpun saya juga nggak termasuk fans-nya Spiderman tapi suka ngeliatin Tobey Maguire, saya cukup familiar dengan kisah si manusia nerd Peter Parker dengan alter ego superhero-nya itu. Dengan sekali-sekali berubah wujud jadi si manusia laba-laba, Peter jadi lebih nyaman menjadi dirinya sendiri. Saya jadi ingat  sama salah satu film favorit saya karena ada si ganteng Zac Efron, High School Musical. Dalam salah satu scene, Gabriela- yang dikasih nickname Einsteinette saking pintarnya- bilang begini sama sahabatnya, " Have you ever felt there's a whole other person inside you, trying to find a way to come out?" Waktu itu, Gabriela yang sehari-harinya terkenal sebagai jago fisika dan kimia sedang mempertimbangkan buat ikut seleksi pertunjukan musikal. Di kemudian hari, dunia barunya ini membantunya lebih menikmati eksistensinya sebagai jagoan ilmu pasti.

 Ada bagusnya lho, kalau kita semua punya semacam 'gua' atau 'taman rahasia' yang bener-bener bisa dibilang 'milik pribadi'. Mine, mine, mine. Ya memang sih, biar gimanapun, manusia itu makhluk sosial. Tapi, kita juga makhluk individu. Setiap orang pasti punya keunikan masing-masing, kesukaan masing-masing, hobi masing-masing. Pasti ada deh, sekaliiiiii....aja dalam satu kurun waktu- bisa satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun- yang kita pengen bisa sendirian. Bukan terus artinya bertapa di pinggir kali lho, tapi kalau istilah kerennya, ' me time'.Kalau boleh saya tambah lagi, ' me-place'

Salah satu selebritis kita- initialnya TG- punya ruangan khusus di rumahnya. Fisiknya ruang kerja biasa, sih. Tapi, TG yang punya hobi menulis ini merasa, ruang kerja itulah 'kerajaannya'. Di situ dia bisa bebas memuaskan hobi menulisnya ( intermezzo: cerpen-cerpennya memang keren justru karena idenya yang bizarre dan nggak standar ). Selain menikmati teritorial pribadinya, TG juga sangat menikmati hobi menulisnya. Karena dengan menulis, dia bisa jadi 'penguasa'. " Saya bisa jadi pembunuh, bisa juga punya pacar sekaligus tiga," begitu kata TG. Tapi yang lebih penting, dengan menulis di 'kerajaannya' itu, TG selalu merasa lebih santai dengan profesinya sehari-hari. Apalagi, sebagai seleb, ibaratnya dia tinggal di akuarium. Bisa jadi cuma di ruangan itu dia bebas dari para wartawan gosip biarpun dia nggak termasuk seleb yang sering digosipin.

Saat blogwalking beberapa tahun yang lalu ( astaganaga, lama amat yaaa...), seorang blogger pernah mengutip perbedaan menarik kebiasaan weekend orang-orang Asia dan orang-orang Eropa. Maaf nih, saya bermaksud nge-quote, tapi saya bener-bener lupa ini blog-nya siapa....anyway, orang-orang Asia cenderung menonjolkan dirinya sebagai makhluk sosial. Jadi, weekend pun maunya berkumpul ria, kalo bisa sekalian sama keluarga besar. Sedangkan orang-orang Eropa, cenderung punya kebutuhan individu yang lebih kuat. Weekend - paling enggak satu hari weekend- jelas waktu buat pribadi, biarpun sekedar baca buku di taman.


Saya termasuk orang yang lumayan menikmati kesendirian.Taman rahasia? Sudah pasti saya punya. Ada aja...biarpun nggak rahasia-rahasia amat, kok. Tanpa dikasih tahu pun, orang-orang yang kenal saya pasti tahu saya menghilang ke mana. Ya nggak masalah, selama sekali-sekali saya bisa ke sana sendirian dan betul-betul menikmati setiap detiknya. Karena kebetulan saya memang masih sendirian, saya menikmati kemewahan bisa lebih sering menghilang ke taman rahasia saya. Kadang malah keseringan, hihihi...maklum, fenomena kaum single-happy, kadang-kadang we have nothing but time...tapi di saat lain, tuntutan waktu buat para single fighters justru lebih sadis. Karena kita dianggap nggak punya tanggungan kecuali diri sendiri, seringkali banyak orang, mulai dari ortu, adik-kakak, temen-temen sampai atasan di kantor menuntut kita harus selalu siap sedia kapan aja di mana aja. Jadi ya perlu me-time, me-place juga.


Egois? Buat sebagian besar orang, kata-kata ini haram hukumnya buat didengar. Padahal, sampai kadar tertentu, egois itu normal. Manusia mana sih yang nggak punya ego? Lagi pula masa iya, menghilang satu atau dua jam, ngerjain apa aja yang kita suka, terus kembali ke dunia nyata dalam keadaan 'refreshed' dan 'recharged' sama dengan egois? Apalagi saat kita sendirian dan lagi asyik-asyiknya sama dunia kita sendiri, seringkali di situlah kita sadar gimana pentingnya orang-orang yang ada di sekeliling kita. Tandanya sederhana, kok: tahu-tahu muncul rasa kangen. Nggak perlu merasa bersalah, karena itu salah satu tanda kalau kita sudah 'recharged' dan siap kembali ke dunia nyata...


Jadi....go get your me-time and find your me-place....


I need a place where I can go,
Where I can whisper what I know…
I need a place where I can hide,
Where no one sees my life inside…
A place where I can go when I am lost,
And there I’ll find me


(From Secret Garden: The Musical)

Monday, August 23, 2010

Saya, si Perempuan

Waktu saya kelas 2 SMP, saya tinggal di sebuah kota di Jawa Barat yang hitungannya waktu itu termasuk kota kecil. Awal tahun 90-an dulu, di kota itu belum ada yang namanya kursus bahasa Inggris. Tapi, ada seorang bapak yang profesinya guru bahasa Inggris privat. Bahasa Inggrisnya memang bagus banget! Daripada harus bolak-balik ke Bandung cuma buat kursus, akhirnya orang tua saya mendaftarkan saya buat kursus sama si bapak saja. Setelah diinterview dan ikut placement test kecil-kecilan a la si bapak, saya dimasukkan ke satu grup yang kebetulan pesertanya laki-laki semua, sebanyak 4 orang.

Saya enjoy saja. Sampai sekarang saya masih inget kok, kita kursus tiap hari Kamis malam dan biarpun bahan kursusnya termasuk minim ( waktu itu di Jakarta sekalipun masih agak susah dapetin buku bacaan bahasa Inggris), kursusnya cukup dinamis. ( Malah sampai sekarang saya masih keep in touch sama 2 dari 4 teman kursus saya, thanks to Facebook!).

Satu hari di sekolah ( saya masih pakai putih-biru), seorang teman perempuan saya tiba-tiba tanya," Kamu nggak malu, jadi perempuan sendiri?," Saya jelas kaget. Kok, saya harus malu jadi perempuan?

Saya kebetulan cuma dua bersaudara sama adik saya, yang juga perempuan. Kebetulan juga, saya berasal dari keluarga besar yang mayoritas perempuan. Entah kenapa, yang namanya cowok hitungannya lumayan sedikit di keluarga besar saya. Kayaknya kromosom X emang dominan banget...:-P

Anyway, sepanjang yang saya ingat, di keluarga saya nggak pernah tuh keluar fatwa " Kamu harus X karena kamu perempuan," atau " Kamu nggak boleh Y karena kamu perempuan." Kebetulan juga, menurut laporan pandangan mata Mama saya, dari kecil saya nggak suka main boneka. Saya lebih suka mainan yang netral, kayak lego, memory game, atau sekalian baca buku. Setelah saya besar pun, justru karena kita perempuan semua, saya dan adik saya harus bisa ngerjain semuanya sendiri. Malah maunya orangtua saya, kita bisa masak tapi juga bisa nyetir. Kenyataannya? Sampai sekarang saya belum terampil dua-duanya, tuh....xixixi...( emm, masak bisa sih buat keadaan super darurat...)

Sampai sekarang, kuping saya paling gatel kalau pertanyaan ajaib itu keluar, apalagi kalau ditujukan ke saya. Reaksi pertama saya pasti," Memangnya kenapa?". Nggak kehitung lagi deh, berapa kali saya berantem atau adu pendapat soal ini. Harapan saya, pertanyaan teman saya waktu saya SMP itu adalah yang terakhir kali saya dengar. Kenyataannya, sampai sekarang masiiiiih......aja ada yang nanya!

Waktu saya kuliah di Bandung, seorang teman saya dari universitas lain pernah tanya siapa sahabat saya. Saya jawab aja seadanya, bilang nama teman saya yang memang sahabat saya. Dia terheran-heran. " Sahabat kamu cowok?" Ternyata, di "dunianya", nggak mungkin dua manusia yang beda jenis kelaminnya bersahabat. Yang mungkin adalah mereka langsung............... ( silakan diisi sendiri jawabannya). Sedangkan "dunia" saya nggak pernah beda-bedain manusia berdasarkan jenis kelamin sampai batas tertentu. Saya punya teman cewek dan cowok dalam jumlah yang kurang lebih sama banyaknya ( nggak pernah ngitung juga, sih!) Kebetulan sekali, sampai sekarang pun, beberapa sahabat baik saya - dengan parameter saya bisa cerita apapun sebebas-bebasnya- laki-laki. Dan ini murni faktor kebetulan!

Antara tahun 2006-2008, saya berkesempatan S2 di Belanda. Di negara yang saya pikir tingkat kebebasan gender-nya sudah lebih advanced ( Belanda geto loooh.....), ternyata masih aja saya denger pertanyaan ini. Sayangnya, kebanyakan dari sesama orang Indonesia juga yang lagi sama-sama ngelmu di sana. Yang paling bikin kuping saya sakit adalah dari seorang kandidat doktor sebuah PTN di Indonesia yang lagi cari literatur di sana. Dia terheran-heran waktu ketemu saya di kereta dari Leiden menuju Den Haag sambil bawa ransel backpacker saya yang gedenya dua kali badan saya. Hari itu, saya memang mau jalan-jalan ke negara tetangga sama teman-teman saya.

"Kamu kan perempuan, kok pergi sendiri?," itu pertanyaan si bapak yang memang nggak berani pergi ke Paris sendiri. Padahal, kalau mau fair, pergi dari Den Haag ke Paris lebih aman daripada pergi dari Jakarta ke Depok.

"Rame-rame kok, Pak!," kata saya pendek.

"Tapi kamu kan perempuan! Nggak lebih baik kalau liburan pulang aja ke rumah orang tua,?"

Busyeeettt....emangnya jarak Amsterdam- Jakarta sama kayak Jakarta- Bandung?

"Kita nggak dapet jatah pulang, Pak!Kecuali emergency," kata saya lagi. Dan memang begitu adanya.

"Ya kalau begitu kamu harus saving, dong.Biar bisa pulang. Biar gimanapun kamu kan perempuan!"

Sampai sekarang, saya masih mencoba cari koneksi logis antara "saya harus pulang ke rumah orang tua kalau liburan," dengan " saya perempuan. Daaan...hari-hari selanjutnya, tiap kali saya ketiban sial ketemu sama si bapak, pasti setiap obrolan kita berakhir dengan "Kamu kan perempuan!". Hmmm....argumen utama disertasinya itu kali ya?

Seorang teman saya yang kebetulan psikolog pernah bilang, anak-anak dari keluarga "sejenis" ( maksudnya yang punya anak laki-laki semua atau perempuan semua) memang punya kecendurangan memperlakukan semua orang sama, seringkali nggak lihat-lihat gender-nya. Dan memang, setelah saya dewasa, mulai nyadar kalau makhluk Tuhan yang namanya manusia ada dua jenis, mulai suka sama jenis yang satunya, mulai nge-date, dsb dsb,...saya seringkali nggak peka.

Kalau janjian, saya oke-oke aja kalau ketemu langsung di tempat tujuan. Ngapain juga pakai ribet dijemput di rumah? Saya juga nggak keberatan pulang sendiri, kecuali kalau memang searah. Waktu saya punya pacar, saya nggak pernah marah kalau pacar saya bilang dia nggak bisa nganterin atau nemenin saya ke suatu tempat. Yang ngambek biasanya pacar saya, karena maksudnya, dia minta dirayu....ohhhh....gitu....saya mana ngerti! Xixixi....

Saya setuju kalau perempuan dikecualikan dari beberapa fungsi dengan alasan logis. Misalnya nih, di profesi saya nyaris nggak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Semuanya harus bisa ngapain aja. Tapi, ada beberapa pos yang sebaiknya nggak ditempati perempuan, karena memang di pos-pos itu perempuan masih jadi komoditas utama penculikan oleh masyarakatnya yang memang cukup barbar. Sekarang, jumlah pos-pos yang dulunya tertutup buat perempuan juga makin sedikit juga, kok.

Atau, dalam kerangka yang lebih umum, saya setuju kalau perempuan nggak boleh ngangkat beban yang kelewat berat. Saya pernah baca di satu literatur, kalau itu berbahaya buat organ perempuan yang paling berharga: rahim. Apalagi, jumlah otot aktif laki-laki lebih banyak sekitar 100-150 otot dibanding perempuan. Iya dong...perempuan kan, nyimpen kekuatan buat 'misi' tertentu...

Ini mungkin post yang 'kurang ramah' buat post pertama ya....tapi memang entah kenapa topik ini yang kepikiran tadi waktu saya makan siang sendirian di luar kantor ( ups...ketahuan deh lagi libur puasa....)

Mudah-mudahan topik berikutnya lebih asyik....

Now back to work....