Tuesday, September 7, 2010

Tips Baca Buku a la saya...

 Buat para bookoholics, milih dan baca buku itu sebuah seni. Kalau ke toko buku, bookoholic sejati pasti perlu waktu yang sama lamanya seperti para fashionista milih baju!Milih buku ( dan tentu saja membacanya) perlu ketelitian tingkat tinggi.

Dari saya pribadi, resep dasarnya ini nih:

1. Cek CV Penulisnya 
    terutama buat karya fiksi. Sebagai pembaca, otomatis yang kita cari duluan pasti sinopsisnya, dan memang sinopsis membantu menjelaskan isi buku. Tapi, sinopsis yang cuma satu atau dua paragraf itu lebih membantu menjelaskan plot buku. Jarang sekali ada sinopsis yang bisa menjelaskan style si penulis. Pengalaman pribadi waktu saya beli bukunya Primo Levi, If This Is A Man. Sinopsisnya bilang kalau ini memoir Levi sewaktu dipenjara di Auschwitz. Ternyata, bahasa dan gaya penulisannya sama sekali bukan gaya mengalir dan dari sudut pandang orang pertama seperti umumnya memoir dan otobiografi. Penulisannya filosofis sekali !Kalau saya nggak baca sinopsisnya, saya mungkin nggak tahu kalau Levi lagi kontemplasi soal pengalamannya di Auschwitz! Belum lagi, kayaknya si penerjemah kesulitan menerjemahkan karya asli dalam bahasa Italia ke bahasa Inggris. Sampai sekarang, ini termasuk buku paling ribet yang pernah saya baca.

Kalau kita lebih dulu cek CV penulis, paling nggak kita bisa ngira-ngira seperti apa style penulisannya dari latar belakangnya, entah itu asal-muasal, profesi, atau juga studi. Apalagi buat debut novel alias karya pertama! Lebih bagus lagi kalau bisa ketemu apakah si penulis pakai ghostwriter apa enggak. Tapi biasanya, penulis yang pakai ghostwriter adalah mereka yang sudah nulis beberapa buku. Seringkali kita tahu lho, kapan mereka ganti ghostwriter, apalagi kalo rajin baca semua bukunya!. Kalau bisa ketahuan siapa ghostwriter-nya, lebih bagus lagi! Biarpun para 'pahlawan tanpa tanda jasa' ini baru disebut namanya setelah si penulis meninggal. Yang cukup penting juga, dengan tahu CV penulisnya, kita jadi tahu dari mana si penulis dapat ide buat karyanya. Penulis yang punya ikatan khusus sama sumber inspirasinya, biasanya karyanya jauh lebih bagus! Cari CV penulis bukan kerjaan susah lagi di era internet sekarang, karena hampir semua penulis punya website. Yang 'beruntung' punya Blackberry atau I-phone atau smartphone lainnya, bisa langsung cek CV penulis saat itu juga.

2. Cek Penerjemah
Buat karya-karya terjemahan, ini aspek super penting! Menurut saya, sebuah karya itu paling afdol dibaca dalam bahasa aslinya. Tapi kalo kebetulan kita nggak menguasai bahasa asli itu, ya masa kita mau ketinggalan kereta baca buku-buku bagus? Makanya, jangan males cari CV penerjemah.

Menerjemahkan itu memang bukan pekerjaan gampang. Yang lebih susah dari sekedar menerjemahkan kata adalah menerjemahkan budaya. Terjemahan paling bagus  ke dalam bahasa Indonesia, menurut saya adalah terjemahan karya-karyanya Enid Blyton, Astrid Lindgren, dan Laura Ingalls jaman dulu, jaman saya masih SD-SMP. Kalo saya nggak salah inget, penerjemahnya cuma beberapa orang, salah satu yang paling sering nongol namanya Djokolelono. Selain jago cari padanan kata, para penerjemah ini jago sekali masukin info-info singkat tentang detail-detail yang nggak ada di Indonesia, tanpa sedikit pun merusak jalan cerita. Misalnya, penjelasan tentang 'waktu minum teh' di Inggris, atau hari-hari libur anak sekolah di Swedia. Belum lagi cari padanan tokoh-tokoh dongengnya Enid Blyton yang namanya lucu-lucu itu! Malah, waktu belum lama ini saya nemu buku-buku Astrid Lindgren ( dan juga Totto-chan!) dalam bahasa Inggris, saya tetap lebih suka terjemahan Indonesia 80-an-nya karena dapet 'joke'-nya. Makanya, saya sempat lama berburu  buku 'Madita'  edisi terjemahan lama, karena terjemahan barunya kurang asyik. Waktu akhirnya ketemu, senengnya setengah mati sampai saya bawa tiap kali saya harus mutasi.

Waktu saya iseng baca buku-buku yang sama dengan terjemahan baru, ternyata memang style-nya sudah berubah. Jadi 'kurang sedap' bacanya karena ceritanya jadi seperti kehilangan 'roh-nya'. 

Biarpun kita nggak belajar satu bahasa asing secara serius, sebelum beli buku terjemahan ada bagusnya juga mempelajari karakter bahasa asli vs bahasa kita. Samanya di mana, bedanya di mana.Perubahan yang terjadi harusnya seperti apa.  Misalnya, biarpun strukturnya lebih sederhana, tapi dari kosa kata, bahasa Indonesia itu lebih kompleks dibandingkan bahasa Inggris. Satu kata dalam bahasa Inggris bisa jadi beberapa kata atau malah satu kalimat utuh dalam bahasa Indonesia. Kalau dipikir secara logis, berarti karya terjemahan dari bahasa Inggris harusnya jadi lebih panjang  dalam bahasa Indonesia. Kalau inget terjemahan seri 'Petualangan' Enid Blyton yang sampai 400 halaman, itu memang normal, apalagi font size-nya dibuat lebih besar. Karya aslinya cuma 160 halaman. Makanya saya nggak pernah percaya sama novel terjemahan Danielle Steel yang maksimal cuma 200-an halaman (hurufnya gede-gede, lagi!), karena Danielle Steel nggak pernah nulis buku yang kurang dari 300 halaman! Jadi bisa dibayangin gimana tebelnya novel Gone With the Wind kalo diterjemahkan dengan 'benar' ke bahasa Indonesia, karena karya aslinya sampai 10010 halaman spasi sangat rapat!

Cek juga apakah si penulis memasukkan dialek atau bahasa lokal dalam karya aslinya. Ini juga bisa bikin penerjemah pusing kepala. Tahun 2007, saya pernah ngasih hadiah ulang tahun terjemahan buku Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer ke teman saya orang Amerika, yang memang hobinya baca buku-buku yang pernah dilarang. Penerbitnya udah salah satu yang paling oke di dunia,tuh. Yang ibaratnya tinggal merem aja ambil buku apapun keluaran penerbit itu, jaminan mutu pasti bagus! Sebagai pembaca cerdas, teman saya bisa merasakan kejanggalan novel itu. Setelah selesai baca, dia bilang sama saya kalau dia berharap bisa baca edisi aslinya, karena dia tahu ada sesuatu yang spesial tapi terpaksa hilang karena kesulitan teknis penerjemahan. Saya langsung tahu apa yang dia maksud, karena memang Pram banyak masukin dialek-dialek lokal dalam edisi asli, terutama dialek Jawa kuno.

Karya-karya Perancis lain lagi. Dua atau tiga buku dalam bahasa Perancis, bisa jadi cuma satu buku dalam bahasa Inggris!Kalau ini, bukan karena dipotong kanan-kiri, tapi memang bahasa Perancis terkenal dengan 'bunga-bunganya'. Malah ada joke, kalau orang Perancis ngomong 2 menit, orang Inggris cukup setengah menit.Begitu juga dengan bahasa tulisan. Tiga halaman dalam bahasa Perancis bisa jadi cuma satu atau malah cukup setengah halaman dalam bahasa Inggris.

3. Jangan keseringan liat kamus
waktu baca karya asli. Pastinya ada banyaaaak....sekali kata-kata yang kita enggak ngerti, tapi kalau tiap kali ngintip kamus, kita malah kehilangan plot-nya. Lebih baik dibaca sampai tamat satu bab atau satu sub bab ( kan biasanya ada tandanya,tuh!), terus kita coba tangkap inti plot-nya. Kalau sudah dapet plot-nya dan kita buka lagi bab itu dari awal, kita pasti bisa mengira-ngira arti kata-kata yang tadinya 'gelap' buat kita, karena kita sudah tahu konteksnya. Boleh dicatat kalo rajin. Kalau pernah denger nama Anton Hilman, pengajar bahasa Inggris di TVRI jaman baheula, cara ini sangat disarankan, terutama buat pembaca yang memang sedang melancarkan bahasa asingnya. JANGAN pernah ngapalin kosa kata satu per satu, karena dijamin bakal langsung lupa kalau nggak pernah tahu penggunaannya dalam kalimat seperti apa.

4. Cek CV Penerbit
Ini juga penting.Kalau satu karya diterjemahkan sama lebih dari dua penerbit, ada kemungkinan style-nya berbeda. Inget waktu Kahlil Gibran booming sampai overstock awal tahun 2000-an? Untuk pangsa pasar pembaca berbahasa Inggris, persaingan antar major publishers cenderung keras, tapi justru menguntungkan buat kita pembaca. Iyalah, karena penerbit-penerbit itu berlomba-lomba pasang harga murah tapi dengan feature tambahan. Misalnya, ada yang kasih bonus historical timeline, jadi kita bisa tahu peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi pada setting cerita ini. Ada juga yang kasih reading group guide, isinya biasanya sinopsis super singkat tiap bab sama beberapa pertanyaan yang bisa jadi bahan diskusi. 

Last but not least, penerbit menentukan harga buku. Buku-buku dari penerbit yang sama, biasanya harganya sama atau nggak jauh beda. Ini tergantung juga dari jenis kertas atau tinta yang dipakai, dan desain cover. Kalo diperhatikan, buku-buku dengan cover movie tie in - maksudnya buku-buku yang dijadikan film dan majang gambar si bintang film di covernya- harganya lebih murah dibanding buku-buku yang cover-nya digambar khusus. Dalam keadaan normal, saya jarang musingin gambar cover dan lebih milih yang harganya paling murah, tapi memang saya paling nggak suka kalau cover-nya movie tie-in. Selama masih ada pilihan lain, biasanya saya ambil yang gambar cover-nya bukan movie tie-in, tentunya dengan selisih harga yang nggak jauh beda. Pernah sih, waktu beli buku Revolutionary Road, saya bayar dua kali lipat harga cover movie tie-in, karena saya males banget beli yang gambar covernya Leonardo DiCaprio! Yang saya beli kebetulan memang gambar cover-nya vintage bagus banget, jadi nggak rugi biarpun saya bayar lumayan mahal.

Yang paling murah adalah buku-buku terbitan India. Negara Bollywood ini memang punya ijin re-print dari banyak penerbit di negara-negara barat, jadi India mencetak ulang banyak buku terbitan negara-negara barat dengan kualitas produk yang diturunin, sesuai daya beli warganya. Asal tahu aja, orang India itu yang penting bisa beli buku murah, kualitas produk belakangan. Walhasil, kualitas cetakannya ada yang mirip fotokopian! Kertasnya kasar, font-nya mirip huruf ketik manual, dan yang paling 'juara' font-size-nya yang bener-bener segede footnote dan spasi super duper rapat! Sebelnya, India sempet-sempetnya ekspor buku re-print-nya ini ke Indonesia!

Ada beberapa penerbit yang pilihan buku-bukunya sudah jaminan mutu. Ibaratnya, saya berani pilih buku sambil merem, dan saya yakin nggak bakal menyesal. Penerbit-penerbit ini antara lain Penguin, Vintage, dan Scholastic ( khusus buat buku-buku young adults).

Happy shopping and....

                                    Happy reading!

No comments:

Post a Comment