Friday, October 22, 2010

Saya dan New York

Siapa yang nggak tahu kota ini?

Kota yang begitu dibenci, sekaligus juga dicintai. Dengan segala kompleksitas dan hiruk pikuk khas kota megapolitan dunia, si Apel Besar ini ( yang kalau dilihat petanya jauh lebih mirip sama labu siam)  nggak pernah berhenti menarik semua orang buat penasaran pengen ke sana.

Saya termasuk salah satu korban 'mulut manisnya'.

Saya pertama kali pergi ke New York awal tahun 1997, waktu saya baru 17 tahun. Waktu itu, saya sedang ikut program pertukaran pelajar di Iowa. Di kota tempat tinggal saya yang jumlah penduduknya lebih kecil dari satu RW di Jakarta itu, semua orang heboh waktu tahu saya mau ke New York. Saking kecil mungilnya itu kota, semuanya selalu tahu tetangga mau pergi ke mana.Nggak sedikit yang bilang saya nekat karena berani-beraninya pergi ke kota seram itu sendirian. "It's a lot worse than Chicago!," begitu rata-rata komentar para tetangga, dari hasil studi banding sama kota tetangga paling besar. Ya gimana enggak, di kota tempat saya tinggal waktu itu, masih ada orang yang nggak pernah ngunci pintu rumahnya kalau malem. Malah banyak yang takut, karena kalau ada apa-apa, orang nggak bisa masuk buat ngasih bala bantuan tanpa dobrak pintu.

Waktu akhirnya saya menjejakkan kaki di New York, tepatnya di Penn Station, saya langsung....errr...apa ya, mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal, masih di bawah tanah,tuh. Belum liat kotanya sepotong pun. Memang sih, kelihatan kumuh dibanding Iowa yang adem ayem dan Washington D.C. yang bersih dan teratur. Tapi, di mata saya asyik aja, tuh. Kekumuhan itu malah jadinya 'shabby chic', malah jadi satu style tersendiri. (Ih, padahal waktu itu belum dikenal tuh istilah 'shabby chic').

Setelah saya lihat kotanya, wuih.....jadi lebih terpesona lagi. Saya melihat kehidupan yang sarat dengan gerak yang serba dinamis, dan selalu punya ruang buat individu yang seperti apapun. Banyaknya 'ruang' ini, bisa membuat seseorang memilih jadi 'sesuatu', atau boleh juga sejenak jadi 'anonim'. Mungkin juga karena saya biasa tinggal di Jakarta, jadi kehidupan metropolisnya nggak buat saya kaget. Biasa aja.

Saya menikmati sekali kunjungan pertama saya ke New York itu. Saya ingat, waktu itu kebetulan lagi bulan puasa. Saya tinggal di apartemen sepupu saya di daerah Central Park. Supaya nggak ribet, buat makan malam sekaligus sahur kita pesen beberapa menu dari restoran China langganan sepupu saya. Karena bingung mau pesen apa, akhirnya saya biarkan sepupu saya yang pilih menunya. FYI, sepupu saya adalah seorang vegetarian. Akhirnya, kita sepakat pesen tahu- jamur shiitake saus tiram dan  tumis brokoli Besok paginya, saya bangun sendirian buat sahur karena kebetulan sepupu saya lagi nggak puasa. Sambil makan makanan yang sama ( yang ternyata enak sekali!), saya menikmati sekali suasana jam 5 pagi di New York itu. Sepi ( sesepi-sepinya New York), sesekali ada suara anjing, ada orang teriak, ada sirene mobil polisi di kejauhan, sampai sesekali suara subway yang jalurnya persis di bawah apartemen sepupu saya. Harusnya mungkin suara-suara ajaib kayak gitu ( jam 5 subuh pula!) buat saya merasa spooky. Tapi, saya justru merasa 'damai'. Menu sahur saya hari itu bahkan jadi menu kesukaan saya tiap kali saya harus tinggal sendiri- yang di kemudian hari memang sering saya alami.

Waktu besoknya saya diajari sepupu saya baca peta New York, saya langsung berani dilepas jalan sendiri. Nggak ada takut-takutnya, tuh! Saya merasa 'at home' aja. Apalagi, ternyata New York ini petanya gampang!Apalagi buat orang yang mengidap sindrom akut kebalik baca peta kayak saya. Karena jalan-jalannya tinggal dihitung. Jadi, nggak bakal nyasar di New York selama bisa ngitung dari 1 sampai sekian ratus, dan tahu kalau E itu East dan W itu West. Dan kuat jalan kaki.Sepupu saya tinggal kasih guidance, jangan pergi ke jalan nomor sekian sampai sekian, karena itu termasuk daerah rawan. Setelah saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota dunia beberapa tahun kemudian, menurut saya kota dengan peta tergampang adalah New York.

Pengalaman tak terlupakan lain waktu pertama kali saya ke New York itu nggak lain dan nggak bukan adalah soal uang. Namanya juga anak SMA, uangnya ya cuma uang saku dari ortu. Dan memang nggak ada sejarahnya ortu saya ngasih credit card buat saya. Padahal, setelah berbulan-bulan tinggal di kota super mini di Iowa yang supermarket aja nggak ada, mau ke toko buku mesti diacarakan spesiall(secara toko buku terdekat jauhnya 50 kilo!) di New York semua favorit saya ada! Mulai dari pertunjukan Broadway, toko Disney, apalagi toko buku!Di situ buat pertama kalinya saya 'kenalan' sama Barnes & Nobles dan Strand Bookstore. Akhir 90-an itu, Strand Bookstore fisiknya bener-bener kayak pasar loak buku. Semua stok ditumpuk begitu aja biarpun dibagi per kategori. Tapi justru tambah bikin napsu buat ngubek-ngubek. Iiiih....pengen nangis deh rasanya kalo inget nominal yang saya punya! Yang namanya ngatur uang sampai dipepet-pepetin banget....
Karena itu kunjungan perdana, jadi ya saya utamakan buat sightseeing.  Ke Liberty, Brooklyn Bridge, South Street Seaport, WTC yang waktu itu masih ada, jalan-jalan di Central Park, Times Square, cuci mata di Fifth Avenue, dan nggak lupa ikut tur Markas Besar PBB. Sisa uang yang ada saya pakai buat beli beberapa buku dan sedikit suvenir. Saya inget banget, yang saya beli waktu itu ( atas rekomendasi sepupu saya--thanks ya, Mbak! always owe you that one!) "The Alchemist"-nya Paulo Coelho yang waktu itu baru keluar. Dan, novel itu baru booming beberapa tahun kemudian. Jadi, mulai dari situ saya percaya memang toko-toko buku di New York oke punya buat bikin prediksi trend sastra ke depan, sama seperti para fashion designer-nya yang selalu jadi kiblat para fashionista. Sampai sekarang, novel "The Alchemist" itu masih ada.

Selama bertahun-tahun setelah itu, saya selalu minta sama Yang Di Atas supaya saya dikembalikan ke New York, tapi dalam keadaan "young and single and happy"Dan punya uang sedikit lebih dari sebelumnya. Ternyata, jalan Tuhan memang penuh misteri. Bisa dibilang, ini doa saya yang dikabulkan sampai ke titik komanya.


Tuhan memang mengembalikan saya ke New York akhir tahun 2009. Kali ini, saya berangkat untuk keperluan dinas selama 2 minggu. Bayangan akan menghadiri sidang di Gedung PBB aja- setelah 12 tahun sebelumnya ikut jadi peserta tur- udah bikin saya excited.  Dari segi usia, bolehlah saya bilang masih muda. Tapi,  Tuhan juga membuat saya jadi single dulu! Suatu masalah menyita saya secara emosional sejak tahun 2007. Selama hampir 2 tahun, saya terpaksa menjalani hari-hari saya dengan bantuan tranquilizer dan terapi khusus dari psikiater saya. Biarpun saya sudah memaksakan diri lepas dari tranquilizer sejak awal 2009, bukan berarti masalahnya menghilang begitu aja.

Nggak tahu kenapa, begitu sampai di New York, saya seperti merasa 'lepas'. Terutama waktu saya mengikuti jejak para New Yorker yang hobi jalan kaki di jalan-jalan yang membelah kotanya. Juga waktu saya duduk santai di cafe toko-toko buku setelah tugas hari itu selesai. Dan waktu akhirnya saya bisa nonton 3 musikal Broadway klasik yang 12 tahun sebelumnya cuma bisa saya pandangi posternya dari jalanan di Times Square. Sekarang, saya bisa nonton Mary Poppins, Phantom of the Opera, dan West Side Stroy dengan uang saya sendiri. Pada kunjungan saya yang kedua ke New York ini saya punya pikiran lain: kesendirian itu gunanya untuk dinikmati. Dan, kota ini adalah tempat yang paling pas buat menyendiri!

Pasca Lebaran 2010, kembali lagi saya pergi ke New York. Seperti biasa, keberangkatan saya ke New York selalu unik. Kalau sebelumnya saya ke sana untuk tugas, kali ini bener-bener murni liburan! Teman seangkatan saya yang tugas di sana berbaik hati menampung saya di apartemennya. Saya sudah merasa exhilarated begitu bis Greyhound yang membawa saya dari Toronto memasuki Manhattan. Padahal, bisa dibilang Toronto itu 'adik kecilnya' New York. Tapi, 'feel'-nya sangat berbeda.

Saya memaksimalkan kunjungan saya yang ketiga ini untuk go local, model traveling yang paling saya sukai. Jalan kaki sepanjang Fifth Avenue.Nongkrong di sekitar Rockefeller Centre. Sarapan pagi di deli. Tentunya nggak lupa menghabiskan satu hari khusus di Union Square-' mekkah'-nya saya di New York karena di situ ada Strand Bookstore yang koleksinya justru tambah oke setelah Barnes and Noble menyatakan akan menjual tokonya.Temen-temen saya udah pada hafal, kalau saya sudah sampai Union Square, berarti saya nggak bakalan ke mana-mana lagi dalam satu hari itu. Ini pertama kalinya saya sampai di Strand di bawah jam 10 pagi, sebelum tokonya buka. Biarpun hari itu nggak ada sale atau acara khusus, lumayan banyak lho yang antri nungguin toko buka! Ternyata, Strand memang masih jadi toko buku favorit para New Yorkers!Saya juga nyempetin jadi kakak yang baik dengan ngajak adik-adik angkatan saya di kantor- Gracie yang lagi sekolah di NY, sama Ima yang baru lulus dari Nottingham dan mampirdulu ke NY sebelum pulang ke Jakarta- ngafe di Max Brenner, tetangga depan si Strand. Si Max Brenner ini dengan kreatifnya bikin nama baru buat chocolate milkshake, namanya jadi frozen hot chocolate, menu kesukaan saya. Agak-agak ajaib tapi jadi punya selling point, kan? :-P

Puas ngubek-ngubek Strand, saya nyeberang ke cafe sebelah buat beli sandwich sambil people watching, salah satu aktivitas favorit saya juga kalo lagi traveling. Sempet juga sih mampir ke Barnes & Nobles di 17th Street yang ternyata kondisinya lagi menyedihkan. Gimana enggak, toko buku yang konon pernah ditahbiskan sebagai "the biggest in the world" itu- dan waktu saya datengin kurang dari setahun sebelumnya pun masih oke banget- keliatan kosong melompong! Koleksinya jadi dikiiiit....banget buat space segede itu. Ehhhmmm....jangan-jangan yang paling gede sekarang beneran World's Biggest Bookstore di Toronto atau Waterstone Piccadily di London, nih! Atau malah sekalian si Strand kalo diliat dari jumlah koleksi. Yang dateng juga jauh lebih dikit. Ada enaknya juga, sih. Saya jadi bisa lebih santai duduk sambil baca buku di kursi yang pas deket jendela, jadi bisa sambil people watching juga. 

Tanpa disangka-sangka, saya ternyata sempat nonton musikal juga di Broadway. Padahal, tadinya nggak saya rencanakan karena kan saya cuma 3 hari 2 malem di New York. Yang istimewa, kali ini saya bisa nonton musikal Wicked -prequel-nya Wizard of Oz- bertiga sama temen-temen saya, Rina yang memang posting di NY, dan Noey yang juga lagi kabur dari pos-nya di Caracas. 'Bonus' yang lain juga ditraktir makan di restoran China yang cozy di Chinatown sama temen-temen saya di New York. Seriously, kalau pergi ke kota yang multikultur, nggak bakal lengkap kalau nggak liat 'peradaban' lain yang ada di situ.

Sampai ketiga kalinya saya ke New York, saya selalu menikmati setiap detiknya. Mulai waktu dulu saya jadi turis kere, waktu saya ke sana buat dinas, sampai waktu saya go local sebagai weekender dari negara tetangga. Nggak harus jadi orang kaya buat menikmati New York. Nggak juga harus jadi front pager atau headliner karena siapapun punya tempat di kota ini, somebody or nobody.

Tapi, harus mau jadi adventurer.

Dan buat saya, New York selalu berarti satu kata: reborn.


Dedicated to:

1.Rin-chan: Makasih ya, neng.....nggak boleh bosen, loh....because I'll be back!

2. The other NYers: Mita ( and Little Dhira), Rina, Yanthee & Aldi, thank you all, guys! Love that little Chinese bar...hahaha...

3. Noey: kapan-kapan kita gangguin Rina lagi sambil bernarsis ria sepanjang kota, yak! Tapi kalo lo mau nongkrong di Apple Store itu gue WO! Gue nunggu di B& N aja, ya?

4. Gracie: Luv you, dear.....we'll turn ourselves into gossipers sans frontieres, won't we? :-P You owe me that visit to the students quarter, by the way.....

5. Ima : Totally understand kenapa sampai 2 kali ke Big Apple....because I feel the same way....

6. Kak Ruri: Please hold on to your dream, and you know which one in particular......

Friday, October 15, 2010

The Real Life Billy Elliot



Am always skeptical with the saying," A dancer comes to life when he or she dances". Until I saw this guy performed this very dance live on stage.

Oh.My.God.

And his name is Daniil Simkin.

Now I know what my next search in youtube will be....

Wednesday, October 6, 2010

Danielle Steel Bukan Romance

Dari semua penghuni lemari-lemari buku saya, deretan novel karya Danielle Steel adalah yang paling sering dicela sesama bookoholics. " Lho, kamu baca Danielle Steel? Suka romance juga ternyata?" Hhhh.....sampai situ aja udah cukup diskriminatif sebenernya.Sampai sekarang saya juga masih belum ngerti kenapa novel-novel romance kesannya masih ditempatkan dalam 'kasta rendah', bahkan sama sesama bookoholic sendiri. Padahal, speaking of romance, banyak lho novel genre romance yang berbobot! Tapi, itu nanti cerita lain lagi....

Sekarang saya mau cerita tentang novel-novelnya tante cantik ini.

Tahun 2006, saya pernah ikutan satu milis buku. Waktu itu forum memang belum populer.*Apa saya yang kurang gaul, ya?* Suatu kali, ada salah satu anggota yang minta saran tentang novel-novel Danielle Steel yang rencananya mau dia jadikan penelitian skripsinya. Reaksi pertama, permintaannya ini langsung dicela beberapa anggota lain. Pada sibuk kanan-kiri nyaranin buku-buku lain yang menurut mereka lebih berbobot.


Saya justru salut karena dia paling nggak udah cukup jeli mengambil penulis kontemporer buat penelitian skripsinya. Dengan semangat 45, saya sampaikan opini saya tentang Danielle Steel dan beberapa novel yang bisa dia jadikan pilihan buat observasi awal.*Sayangnya dia nggak jadi neliti novel-novel Danielle Steel karena takut sama kemungkinan dikerjain di ruang sidang....oh come on, girl!Di ruang sidang kita yang jadi expert!*

Saya memang paling 'gatel' dan keganggu kalau ada kritikus yang bilang novel-novel Danielle Steel itu murni romance. Maksudnya romance di sini a la putri-putri Disney gitu, yang tinggal tidur ratusan tahun sebelum ditemukan sama pangeran ganteng (yang tampangnya sama semua....poligami kali pangerannya, ya?) and they live happily ever after.... sedangkan para princess-nya Danielle Steel adalah perempuan-perempuan cerdas dan mandiri dari berbagai jaman, yang selalu siap fight demi mengejar kebahagiaan dan impiannya.

Dalam novel-novelnya, Danielle Steel memang gelisah terhadap posisi perempuan di masyarakat, terutama tentang persamaan hak dengan lawan jenisnya. Nggak cuma hak publik, tapi juga hak privat. Kalau cuma lihat plot ceritanya, oke, memang agak Disney-ish- karena seperti tagline-nya Tante Danielle, "....and I believe in happy endings..." tapi yang lebih penting, 'putri-putrinya' Danielle Steel- yang mayoritas profesinya lawyer (banyak banget nih yang ini!), pengusaha sukses, eksekutif muda, jurnalis tangguh, dokter, banker, sutradara- nggak pernah 'tidur' sebelum mencapai impiannya.

Kekuatan utama novel-novel Danielle Steel bukan pada plot, tapi pada tema dan latar. Steel juga sangat memperhatikan detail, apalagi di banyak novelnya, dia mengambil periode sejarah yang beragam sebagai latar. Saya belajar revolusi Rusia dari 'Zoya', relokasi warga keturunan Jepang di AS pasca Pearl Harbor dari 'Silent Honor', resistensi warga keturunan ras Aria di Eropa terhadap Hitler dari 'The Ring" dan "Echoes", diskriminasi warga kulit hitam di AS dari "Full Circle", belum lagi beberapa novelnya yang mengambil latar belakang Perang Dunia I dan II. Kelebihan Steel adalah dia mampu menjadikan latar belakang historis itu lebih personal. Misalnya, dalam 'Zoya', dia ceritakan gimana keempat anak perempuan Tsar Rusia biasa menandatangani surat-surat pribadi mereka dengan inisial OTMA, huruf awal nama mereka berempat- Olga, Tatiana, Marie, dan Anastasia. Waktu saya cross check di buku-buku sejarah, ternyata fakta ini memang benar.Di novel 'Wanderlust', Steel juga pernah cerita tentang Jenderal Rommel- salah satu jenderal andalan Hitler yang terkenal dengan Afrikakorps-nya- yang hobi fotografi, sampai-sampai saat memimpin  perang pun dia tetap membawa beberapa kamera berikut lensa-lensanya. Belum lagi cerita mengenaskan tentang orang-orang kaya di New York yang pada bunuh diri saat Great Depression tahun 1930, atau tentang kaum ningrat Rusia yang harus bekerja kasar atau jadi supir taksi di berbagai kota besar di Eropa, waktu mereka harus mengungsi dari Rusia karena situasi yang memanas saat revolusi. Itu diceritakan di 'Zoya'.

Danielle juga jago mengangkat isu-isu penting dari lingkungan yang lebih domestik. Topik favoritnya memang tentang posisi perempuan. Dalam hal ini, Danielle jeli dan kritis mengangkat isu-isu yang justru masih jarang dibahas. Misalnya, "The Long Road Home" dan "Malice" mengangkat isu child abuse di kalangan masyarakat ekonomi atas dan berpendidikan tinggi yang biasanya tersembunyi dengan rapi. "Journey" dengan sangat cerdas mengangkat kasus kekerasan non fisik dari suami terhadap istrinya, sesuatu yang masih sangat sangat jarang dibahas dan seringkali terlupakan karena memang nggak ada bekas yang kasat mata. Di novel "Lightning"- menurut saya ini salah satu novel Danielle yang paling kritis- Danielle mengangkat beban mental dan sosial yang harus ditanggung perempuan penderita kanker payudara, dengan fokus kelas menengah ke atas dan terpelajar.

Nggak selamanya 'jagoan' Danielle perempuan. Di novel "Daddy", yang diangkat justru perjuangan seorang ayah menjadi single parent setelah ditinggalin istrinya begitu saja. Di novel "Family Album", Danielle dengan jeli memotret kehidupan satu keluarga di Beverly Hills tahun 1960-an sampai 1970-an, dengan segala kompleksitasnya. "Family Album" bisa dibilang novel Danielle yang paling padat isu, mulai dari masalah feminisme, homoseksualitas, drugs sampai unwanted pregnancies ada semua di situ.

Yang saya kurang suka dari Danielle, biasanya "princess"-nya yang canggih-canggih itu berjodoh sama laki-laki yang beda umurnya 15-30 tahun lebih tua!Ini satu misteri dari Danielle yang belum bisa terpecahkan oleh saya. Kenapa ya beda umurnya mesti sekian belas atau malah sekian puluh tahun lebih tua? Kalo mesti ada jarak, 5-7 tahun aja kan udah cukup sebenernya....*kata Tante Danielle: suka-suka yang nulis, dong...*

Dari gaya penulisan, Danielle punya kecerdasan memilih kalimat-kalimat awal yang sangat captivating, alias mampu mengikat pembaca. Seorang teman yang kebetulan editor pernah bilang, toleransi pembaca itu cuma sampai 10 kalimat pertama, jadi memang 10 kalimat pertama itu sangat penting. Keunikan Danielle yang lain, dia sangat suka memakai kata "and" yang sebetulnya kata penghubung di awal kalimat. Sampai sekarang, saya belum lihat lagi penulis yang berani pakai jurus dekonstruktif seperti ini. Menurut saya, ini justru trademark-nya Danielle. Biarpun saya kebayang di awal-awal dia pasti berantem panjang sama editornya.

Beberapa tahun belakangan ini (kalo nggak salah sejak akhir tahun 2004), memang ada perubahan di novel-novel Danielle Steel. Saya menduga ghostwriter-nya ganti. Novel-novel Danielle yang terbaru lebih concised. Pace-nya masih tetap cepat. Pilihan tema dan isunya tetap smart dan setting tetap jadi keunggulan utamanya. Tapi, dialog antar tokoh-tokohnya jadi lebih irit kata. Detail- terutama detail fisik-juga nggak serigid dulu. Secara keseluruhan, format penulisan yang lebih to the point ini memang perkembangan positif. Di sisi lain, saya sering kangen sama gaya penulisan Danielle yang lama, yang betul-betul bisa membawa pembaca 'hadir' dalam setting-nya.

Selama ini, saya selalu baca novel-novelnya Danielle dalam edisi asli. Kalau boleh jujur, saya sedih banget baca edisi terjemahan Indonesianya. Pertama, dari sisi jumlah halaman aja udah nggak logis. Danielle nggak pernah nulis kurang dari 300 halaman, spasi rapat, fontsize normal. Logikanya, edisi terjemahan Indonesia harusnya lebih panjang, apalagi saya lihat fontsize-nya dua kali lebih besar. Tapi, terjemahan Indonesianya bisa cuma kurang dari 200 halaman!Pernah sekali saya coba baca, dan saya bener-bener sebel karena terjemahannya sampai mengubah cerita. Makanya saya selalu insist, kalau mau coba baca novel Danielle Steel, BACALAH EDISI ASLINYA!

Monday, October 4, 2010

84, Charing Cross Road

Bukunya kecil, ringan, dan nggak terlalu tebal. Saya temukan di bagian khusus buku diskon di American Book Centre di Den Haag, sekitar tahun 2007. Karena memang saya paling hobby baca memoir/otobiografi/kumpulan surat atau diary, apalagi yang udah didiskon dan kondisinya masih mint, jadi saya angkut buku ini.

Buku ini jadi memorable buat saya justru karena isinya yang sederhana dan apa adanya. Malah, sampai sekarang buku ini masih memegang rekor buku yang saya selesaikan tercepat (selain buku anak-anak). Saya cuma butuh satu kali trayek kereta api NS ( Netherlaands Spoorwagen) Rotterdam-Leiden-Rotterdam yang totalnya kurang lebih 1 1/2 jam ditambah 1 jam lagi.

84, Charing Cross Road adalah kumpulan surat antara Helen Hanff ( sampai sekarang saya masih bingung gimana pelafalan namanya ...:-P ), seorang penulis naskah drama yang tinggal di New York, dengan Frank Doel, pemilik toko buku bekas di London. Tepatnya ya di 84, Charing Cross Road itu. Sederhana banget, kan? Korespondensi antara pemilik toko buku sama pembelinya. Tapi, harap diingat, settingnya pasca Perang Dunia II. Jadi, jauh banget dari era internet, e-bay, amazon.com, craigslist, kijiji, marktplaats, dan sebangsanya. Setahu saya, di masa itu yang paling canggih baru sistem belanja lewat katalog yang tentunya masih serba manual.

Helene Hanff mulai berkorespondensi dengan Frank Doel tahun 1949. Di surat pertamanya, Helene memesan beberapa buku ( yang waktu itu pun sudah susah dicari!) ke Frank yang baru memasang iklan di harian New York Times. Surat pertama Helene ini singkat dan to the point, mirip kalau kita kirim konfirmasi pesanan barang ke e-bay dan temen-temennya itu. Ternyata, itulah awal korespondensi mereka selama 20 tahun selanjutnya!

Makin lama, surat-surat antara Helene dan Frank jadi makin personal. Bukan lagi sekedar surat pesanan dari konsumen ke toko buku favoritnya. Mereka mulai bertukar informasi pribadi. Helene masih sendiri ( dan kayaknya tetap sendirian buat seterusnya), tapi Frank sudah berkeluarga ( malah sudah menikah 2 kali). Nggak cuma Frank, tapi semua staff toko buku di 84, Charing Cross Road itu juga akhirnya ikutan surat-suratan sama Helene. Mereka terkesan dengan style surat-surat Helene yang witty ( penulis, sih!). Biarpun intinya cuma pesan buku, tapi gaya bahasa Helene sangat ramah. Kayak nulis e-mail ke temen baik. Apalagi, saking terkesannya sama servis yang diberikan Frank cs karena selalu sukses menemukan buku-buku yang dicari Helene, juga karena dia memang baik hati, sesekali Helene mengirimkan bingkisan makanan buat staf-staf toko buku itu. Tahun '49 itu, Eropa memang masih belum sepenuhnya recover dari PD II, supply makanan juga masih belum lancar. Helene beberapa kali kirim makanan kaleng, malah sesekali ditambah telur segar! Waktu itu lagi jadi makanan mewah banget di negerinya Ratu Elizabeth gara-gara perang.

Sebagai bookoholic, Helene sangat berkarakter. Dia punya habit yang unik: termasuk 'jarang' beli buku! Tapi, Helene rajin pinjam buku dari perpustakaan. Taste-nya juga sangat spesifik. Dia paling nggak suka baca fiksi. Favoritnya buku-buku filosofis, diary, dan puisi. Dalam salah satu suratnya, dia pernah ngomel-ngomel sama Frank ( kayaknya cuma sekali itu deh Frank gagal nyari buku pesanan Helene) karena cuma ngirimin versi singkat ( concised) diary-nya Samuel Pepys, anggota parlemen slash playboy aristokrat asal Inggris yang memang dianggap 'mbah'-nya diarists. (Sampai sekarang juga nemuin edisi lengkap diary-nya Samuel Pepys yang sampai belasan buku itu susahnya setengah mati!) Helene cuma beli buku yang dia betul-betul suka ( dan sudah pernah dibaca). Tapi, dia bisa baca satu buku berkali-kali! Satu lagi kebiasaan Helene yang tergolong langka bahkan 'dosa besar' buat umumnya bookoholic: nggak semua buku disimpen. Di apartemennya yang kecil, dia cuma punya satu rak buku. Tiap musim semi, isinya dipilih-pilih. Yang udah jarang dibaca dikasih ke temennya yang butuh. * kalo ada lagi bookoholic yang kayak gini saya dengan senang hati jadi keranjang sampah*

Frank sangat paham selera Helene. Nggak jarang, dia juga menawarkan buku-buku yang dia temuin sebelum dipajang di toko bukunya. Sebagai sesama bookoholic, Frank juga mencoba menawarkan sesuatu yang baru buat Helene. Misalnya, menyarankan beberapa novel yang nilai filosofisnya tinggi. Di surat-surat terakhir, Helene malah jadi ngefans sama Jane Austen, gara-gara dikirimin Frank novel "Pride and Prejudice". Malah, di surat yang paling akhir, Frank lagi berusaha nyariin set novel kompletnya Jane Austen buat Helene.

Helene dan Frank nggak pernah ketemu langsung. Tapi, Helene-lah best customer di 84, Charing Cross Road. Sampai-sampai kalau ada teman Helene yang lagi liburan di London dan mampir ke toko buku itu, semua staf pasti ngajak mereka makan malam. Frank meninggal tahun 1969 karena infeksi pasca operasi usus buntu ( sedih banget waktu baca surat yang ditulis salah satu karyawannya buat Helene). Nggak berapa lama, toko bukunya ditutup.

Helene sendiri akhirnya kesampaian pergi ke London tahun '70-an. Satu-satunya kota impian Helene. Di sana, Helene ketemu sama istri dan anak tunggal Frank, plus sebagian besar mantan karyawannya. Helene bahkan sempat pergi ke 84, Charing Cross Road, sendirian masuk dari satu ruang ke ruang lain di gedung bekas toko buku yang udah kosong itu.

Waktu saya sendiri berkesempatan pergi ke London tahun 2008, saya sempetin juga cari 84, Charing Cross Road ini dan bikin bingung temen-temen saya.Memang sih, sampai sekarang di jalan itu berderet toko-toko buku baru dan second. Saya juga tau toko bukunya Frank udah lama almarhum. Tapi penasaran aja, pengen juga ngerasain intimacy antara Helene dan Frank. Ternyata, alamatnya memang masih ada. Tetap 84, Charing Cross Road. Tapi, si toko buku sekarang sudah jadi ....Pizza Hut! Satu-satunya keaslian yang masih ada cuma lampu kuno di atas pintu depan....