Kota yang begitu dibenci, sekaligus juga dicintai. Dengan segala kompleksitas dan hiruk pikuk khas kota megapolitan dunia, si Apel Besar ini ( yang kalau dilihat petanya jauh lebih mirip sama labu siam) nggak pernah berhenti menarik semua orang buat penasaran pengen ke sana.
Saya termasuk salah satu korban 'mulut manisnya'.
Saya pertama kali pergi ke New York awal tahun 1997, waktu saya baru 17 tahun. Waktu itu, saya sedang ikut program pertukaran pelajar di Iowa. Di kota tempat tinggal saya yang jumlah penduduknya lebih kecil dari satu RW di Jakarta itu, semua orang heboh waktu tahu saya mau ke New York. Saking kecil mungilnya itu kota, semuanya selalu tahu tetangga mau pergi ke mana.Nggak sedikit yang bilang saya nekat karena berani-beraninya pergi ke kota seram itu sendirian. "It's a lot worse than Chicago!," begitu rata-rata komentar para tetangga, dari hasil studi banding sama kota tetangga paling besar. Ya gimana enggak, di kota tempat saya tinggal waktu itu, masih ada orang yang nggak pernah ngunci pintu rumahnya kalau malem. Malah banyak yang takut, karena kalau ada apa-apa, orang nggak bisa masuk buat ngasih bala bantuan tanpa dobrak pintu.
Waktu akhirnya saya menjejakkan kaki di New York, tepatnya di Penn Station, saya langsung....errr...apa ya, mungkin ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Padahal, masih di bawah tanah,tuh. Belum liat kotanya sepotong pun. Memang sih, kelihatan kumuh dibanding Iowa yang adem ayem dan Washington D.C. yang bersih dan teratur. Tapi, di mata saya asyik aja, tuh. Kekumuhan itu malah jadinya 'shabby chic', malah jadi satu style tersendiri. (Ih, padahal waktu itu belum dikenal tuh istilah 'shabby chic').
Setelah saya lihat kotanya, wuih.....jadi lebih terpesona lagi. Saya melihat kehidupan yang sarat dengan gerak yang serba dinamis, dan selalu punya ruang buat individu yang seperti apapun. Banyaknya 'ruang' ini, bisa membuat seseorang memilih jadi 'sesuatu', atau boleh juga sejenak jadi 'anonim'. Mungkin juga karena saya biasa tinggal di Jakarta, jadi kehidupan metropolisnya nggak buat saya kaget. Biasa aja.
Saya menikmati sekali kunjungan pertama saya ke New York itu. Saya ingat, waktu itu kebetulan lagi bulan puasa. Saya tinggal di apartemen sepupu saya di daerah Central Park. Supaya nggak ribet, buat makan malam sekaligus sahur kita pesen beberapa menu dari restoran China langganan sepupu saya. Karena bingung mau pesen apa, akhirnya saya biarkan sepupu saya yang pilih menunya. FYI, sepupu saya adalah seorang vegetarian. Akhirnya, kita sepakat pesen tahu- jamur shiitake saus tiram dan tumis brokoli Besok paginya, saya bangun sendirian buat sahur karena kebetulan sepupu saya lagi nggak puasa. Sambil makan makanan yang sama ( yang ternyata enak sekali!), saya menikmati sekali suasana jam 5 pagi di New York itu. Sepi ( sesepi-sepinya New York), sesekali ada suara anjing, ada orang teriak, ada sirene mobil polisi di kejauhan, sampai sesekali suara subway yang jalurnya persis di bawah apartemen sepupu saya. Harusnya mungkin suara-suara ajaib kayak gitu ( jam 5 subuh pula!) buat saya merasa spooky. Tapi, saya justru merasa 'damai'. Menu sahur saya hari itu bahkan jadi menu kesukaan saya tiap kali saya harus tinggal sendiri- yang di kemudian hari memang sering saya alami.
Waktu besoknya saya diajari sepupu saya baca peta New York, saya langsung berani dilepas jalan sendiri. Nggak ada takut-takutnya, tuh! Saya merasa 'at home' aja. Apalagi, ternyata New York ini petanya gampang!Apalagi buat orang yang mengidap sindrom akut kebalik baca peta kayak saya. Karena jalan-jalannya tinggal dihitung. Jadi, nggak bakal nyasar di New York selama bisa ngitung dari 1 sampai sekian ratus, dan tahu kalau E itu East dan W itu West. Dan kuat jalan kaki.Sepupu saya tinggal kasih guidance, jangan pergi ke jalan nomor sekian sampai sekian, karena itu termasuk daerah rawan. Setelah saya berkesempatan mengunjungi beberapa kota dunia beberapa tahun kemudian, menurut saya kota dengan peta tergampang adalah New York.
Pengalaman tak terlupakan lain waktu pertama kali saya ke New York itu nggak lain dan nggak bukan adalah soal uang. Namanya juga anak SMA, uangnya ya cuma uang saku dari ortu. Dan memang nggak ada sejarahnya ortu saya ngasih credit card buat saya. Padahal, setelah berbulan-bulan tinggal di kota super mini di Iowa yang supermarket aja nggak ada, mau ke toko buku mesti diacarakan spesiall(secara toko buku terdekat jauhnya 50 kilo!) di New York semua favorit saya ada! Mulai dari pertunjukan Broadway, toko Disney, apalagi toko buku!Di situ buat pertama kalinya saya 'kenalan' sama Barnes & Nobles dan Strand Bookstore. Akhir 90-an itu, Strand Bookstore fisiknya bener-bener kayak pasar loak buku. Semua stok ditumpuk begitu aja biarpun dibagi per kategori. Tapi justru tambah bikin napsu buat ngubek-ngubek. Iiiih....pengen nangis deh rasanya kalo inget nominal yang saya punya! Yang namanya ngatur uang sampai dipepet-pepetin banget....Karena itu kunjungan perdana, jadi ya saya utamakan buat sightseeing. Ke Liberty, Brooklyn Bridge, South Street Seaport, WTC yang waktu itu masih ada, jalan-jalan di Central Park, Times Square, cuci mata di Fifth Avenue, dan nggak lupa ikut tur Markas Besar PBB. Sisa uang yang ada saya pakai buat beli beberapa buku dan sedikit suvenir. Saya inget banget, yang saya beli waktu itu ( atas rekomendasi sepupu saya--thanks ya, Mbak! always owe you that one!) "The Alchemist"-nya Paulo Coelho yang waktu itu baru keluar. Dan, novel itu baru booming beberapa tahun kemudian. Jadi, mulai dari situ saya percaya memang toko-toko buku di New York oke punya buat bikin prediksi trend sastra ke depan, sama seperti para fashion designer-nya yang selalu jadi kiblat para fashionista. Sampai sekarang, novel "The Alchemist" itu masih ada.
Selama bertahun-tahun setelah itu, saya selalu minta sama Yang Di Atas supaya saya dikembalikan ke New York, tapi dalam keadaan "young and single and happy". Dan punya uang sedikit lebih dari sebelumnya. Ternyata, jalan Tuhan memang penuh misteri. Bisa dibilang, ini doa saya yang dikabulkan sampai ke titik komanya.
Tuhan memang mengembalikan saya ke New York akhir tahun 2009. Kali ini, saya berangkat untuk keperluan dinas selama 2 minggu. Bayangan akan menghadiri sidang di Gedung PBB aja- setelah 12 tahun sebelumnya ikut jadi peserta tur- udah bikin saya excited. Dari segi usia, bolehlah saya bilang masih muda. Tapi, Tuhan juga membuat saya jadi single dulu! Suatu masalah menyita saya secara emosional sejak tahun 2007. Selama hampir 2 tahun, saya terpaksa menjalani hari-hari saya dengan bantuan tranquilizer dan terapi khusus dari psikiater saya. Biarpun saya sudah memaksakan diri lepas dari tranquilizer sejak awal 2009, bukan berarti masalahnya menghilang begitu aja.Nggak tahu kenapa, begitu sampai di New York, saya seperti merasa 'lepas'. Terutama waktu saya mengikuti jejak para New Yorker yang hobi jalan kaki di jalan-jalan yang membelah kotanya. Juga waktu saya duduk santai di cafe toko-toko buku setelah tugas hari itu selesai. Dan waktu akhirnya saya bisa nonton 3 musikal Broadway klasik yang 12 tahun sebelumnya cuma bisa saya pandangi posternya dari jalanan di Times Square. Sekarang, saya bisa nonton Mary Poppins, Phantom of the Opera, dan West Side Stroy dengan uang saya sendiri. Pada kunjungan saya yang kedua ke New York ini saya punya pikiran lain: kesendirian itu gunanya untuk dinikmati. Dan, kota ini adalah tempat yang paling pas buat menyendiri!
Pasca Lebaran 2010, kembali lagi saya pergi ke New York. Seperti biasa, keberangkatan saya ke New York selalu unik. Kalau sebelumnya saya ke sana untuk tugas, kali ini bener-bener murni liburan! Teman seangkatan saya yang tugas di sana berbaik hati menampung saya di apartemennya. Saya sudah merasa exhilarated begitu bis Greyhound yang membawa saya dari Toronto memasuki Manhattan. Padahal, bisa dibilang Toronto itu 'adik kecilnya' New York. Tapi, 'feel'-nya sangat berbeda.
Saya memaksimalkan kunjungan saya yang ketiga ini untuk go local, model traveling yang paling saya sukai. Jalan kaki sepanjang Fifth Avenue.Nongkrong di sekitar Rockefeller Centre. Sarapan pagi di deli. Tentunya nggak lupa menghabiskan satu hari khusus di Union Square-' mekkah'-nya saya di New York karena di situ ada Strand Bookstore yang koleksinya justru tambah oke setelah Barnes and Noble menyatakan akan menjual tokonya.Temen-temen saya udah pada hafal, kalau saya sudah sampai Union Square, berarti saya nggak bakalan ke mana-mana lagi dalam satu hari itu. Ini pertama kalinya saya sampai di Strand di bawah jam 10 pagi, sebelum tokonya buka. Biarpun hari itu nggak ada sale atau acara khusus, lumayan banyak lho yang antri nungguin toko buka! Ternyata, Strand memang masih jadi toko buku favorit para New Yorkers!Saya juga nyempetin jadi kakak yang baik dengan ngajak adik-adik angkatan saya di kantor- Gracie yang lagi sekolah di NY, sama Ima yang baru lulus dari Nottingham dan mampirdulu ke NY sebelum pulang ke Jakarta- ngafe di Max Brenner, tetangga depan si Strand. Si Max Brenner ini dengan kreatifnya bikin nama baru buat chocolate milkshake, namanya jadi frozen hot chocolate, menu kesukaan saya. Agak-agak ajaib tapi jadi punya selling point, kan? :-P
Puas ngubek-ngubek Strand, saya nyeberang ke cafe sebelah buat beli sandwich sambil people watching, salah satu aktivitas favorit saya juga kalo lagi traveling. Sempet juga sih mampir ke Barnes & Nobles di 17th Street yang ternyata kondisinya lagi menyedihkan. Gimana enggak, toko buku yang konon pernah ditahbiskan sebagai "the biggest in the world" itu- dan waktu saya datengin kurang dari setahun sebelumnya pun masih oke banget- keliatan kosong melompong! Koleksinya jadi dikiiiit....banget buat space segede itu. Ehhhmmm....jangan-jangan yang paling gede sekarang beneran World's Biggest Bookstore di Toronto atau Waterstone Piccadily di London, nih! Atau malah sekalian si Strand kalo diliat dari jumlah koleksi. Yang dateng juga jauh lebih dikit. Ada enaknya juga, sih. Saya jadi bisa lebih santai duduk sambil baca buku di kursi yang pas deket jendela, jadi bisa sambil people watching juga.
Tanpa disangka-sangka, saya ternyata sempat nonton musikal juga di Broadway. Padahal, tadinya nggak saya rencanakan karena kan saya cuma 3 hari 2 malem di New York. Yang istimewa, kali ini saya bisa nonton musikal Wicked -prequel-nya Wizard of Oz- bertiga sama temen-temen saya, Rina yang memang posting di NY, dan Noey yang juga lagi kabur dari pos-nya di Caracas. 'Bonus' yang lain juga ditraktir makan di restoran China yang cozy di Chinatown sama temen-temen saya di New York. Seriously, kalau pergi ke kota yang multikultur, nggak bakal lengkap kalau nggak liat 'peradaban' lain yang ada di situ.Sampai ketiga kalinya saya ke New York, saya selalu menikmati setiap detiknya. Mulai waktu dulu saya jadi turis kere, waktu saya ke sana buat dinas, sampai waktu saya go local sebagai weekender dari negara tetangga. Nggak harus jadi orang kaya buat menikmati New York. Nggak juga harus jadi front pager atau headliner karena siapapun punya tempat di kota ini, somebody or nobody.
Tapi, harus mau jadi adventurer.
Tapi, harus mau jadi adventurer.
Dan buat saya, New York selalu berarti satu kata: reborn.
Dedicated to:
1.Rin-chan: Makasih ya, neng.....nggak boleh bosen, loh....because I'll be back!
2. The other NYers: Mita ( and Little Dhira), Rina, Yanthee & Aldi, thank you all, guys! Love that little Chinese bar...hahaha...
3. Noey: kapan-kapan kita gangguin Rina lagi sambil bernarsis ria sepanjang kota, yak! Tapi kalo lo mau nongkrong di Apple Store itu gue WO! Gue nunggu di B& N aja, ya?
4. Gracie: Luv you, dear.....we'll turn ourselves into gossipers sans frontieres, won't we? :-P You owe me that visit to the students quarter, by the way.....
5. Ima : Totally understand kenapa sampai 2 kali ke Big Apple....because I feel the same way....
6. Kak Ruri: Please hold on to your dream, and you know which one in particular......





