Monday, November 15, 2010

Watch at your own risk: "127 Hours"

Saya ini paling penakut kalau harus nonton film horor. Apalagi yang setannya nggak keliatan model-model poltergeist gitu. Dan definisi film horor buat saya nggak cuma terbatas yang penuh setan, hantu, tuyul, dan teman-temannya. Tapi, film yang full adegan penyiksaan, atau yang full penderitaan apalagi pembunuhan, juga termasuk film yang saya coret. Saya inget, saya pernah susah tidur selama hampir 3 minggu setelah nonton Life is Beautiful karena kebayang terus sama kamp Nazi-nya. Biarpun saya tahu persis, buat ukuran film bertema holocaust, display yang ada di film itu nggak seberapa. Lucunya, kalau soal bacaan, saya justru paling hobi baca ghost stories, true crime, dan survival. Dan, saya paling suka baca segala macem literatur tentang Hitler, Nazi, dan Holocaust!Kedengeran agak aneh, tapi begitulah adanya. Mungkin nggak terlalu aneh juga sih. Soalnya, salah satu temen saya yang raja horor dan film-film lain yang saya nggak mau nonton, justru sering ketakutan kalau baca bukunya.

Nah, sekarang ini, di Toronto ada satu film 'aduhai' yang mau premier di bioskop-bioskop komersial. Kenapa saya bilang 'aduhai', karena waktu tayang di Toronto International Film Festival 2010, bulan September kemarin, 911 sampai harus dipanggil karena ada beberapa penonton yang pingsan, atau mengalami gejala-gejala nervous dan claustrophobic yang lain. Makanya, menjelang tayang di bioskop-bioskop komersial, koran gratisan Metro Toronto sampai khusus bikin artikel survival kit nonton film ini. Judul filmnya : 127 Hours.

Memang ada apa sih sama film ini?

Melihat 'aftermath'-nya seheboh itu, saya otomatis langsung menyatakan diri WO sebelum tahu ini film tentang apa. Sama kayak waktu saya baca kalau Paranormal Activity bikin Stephen King ketakutan.Plot film ini cukup sederhana. Tentang Aron Ralston, seorang pendaki gunung yang terperangkap sendirian selama 127 jam itu ( hmmm....berapa hari, ya?). Ngomong-ngomong, ini kisah nyata, lho.... Tangannya tertindih batu besar, dan akhirnya dia harus mengamputasi sendiri tangannya pakai pisau gunung sebagai satu-satunya alat. Anastesi? Forget it! Konon, adegan amputasi ini yang bikin penonton pada pingsan, atau minimal claustrophobic, deh. Soalnya, sang sutradara- Danny Boyle- memang sengaja bikin adegan 'sakral' itu sedekat mungkin sama aslinya, nyaris as is, karena pada kenyataannya, Ralston butuh waktu 45 menit buat mengamputasi tangannya. Jadi, memang sengaja adegannya dibuat berjalan lambat. Karena Boyle udah cukup bikin saya merem beberapa kali pas nonton Slumdog Millionaire, makasih deh buat yang satu ini.....Saya serahkan saja pada ahlinya

Mungkin satu-satunya 'sisi terang' dari film ini adalah pada kenyataannya, Ralston selamat dan sampai hari ini masih nggak kapok jadi petualang. Tentunya dibantu tangan palsu. Fakta ini juga yang disarankan ke semua calon penonton buat diingat-ingat, yang diharapkan bisa mengurangi kehebohan aftermath-nya.

Survival kit yang dibikin METRO Toronto  gak tanggung-tanggung. Nggak kalah sama survival kit orang yang mau naik gunung beneran! Mulai dari saran bawa barf bag ( buat yang kepaksa muntah), squeeze ball( buat yang claustrophobic), smelling salts (buat yang gampang pingsan), tablet anti pusing dan anti mual, sampai lampu senter kecil ( buat yang mau kabur dari ruang bioskop biar ga kesandung-sandung). Yang terakhir itu saya banget. Belum lagi sederetan warning ajaib yang udah mirip sama warning di antrian roller coaster. Kalo bisa jangan nonton sendirian. Ibu hamil disarankan jangan nonton. Yang punya penyakit jantung sama asma hati-hati. Pastikan HP ga low batt biar sewaktu-waktu bisa nelepon 911. Astaga.....

Kalo hari-hari ini saya liat ada ambulans parkir di depan bioskop-bioskop kayaknya saya bisa nebak deh ada kejadian apa.....

Jadi, siapa yang mau nonton.....? 

Saya nanti nunggu ceritanya aja....

3 comments:

  1. ahhhh masa ga berani sihhhh??? *sok berani* kalo takut mah ya gampang aja.. ga usah pake survival kit segala... tutup aja matanya pake jari-jari tangan :P trus kalo penasaran (atau rugi ga nonton padahal udah beli tiket) ya jari tangannya tinggal direnggangin dikiiiiiit aja supaya masih bisa ngintip...

    huehehehehehehe... :P

    ReplyDelete
  2. yg pasti film bagus sih, tapi ya gak beda jauh sama loe deh gie :D

    ReplyDelete
  3. @Pitse, kalo di Jakarta paling enggak gue bisa ngungsi ke kamar adik gue....dia nggak pernah takut sama yang beginian karena biasa liat mayat dan sesi amputasi dan kawan-kawannya....nah di sini kan eike tinggal sendiri....masa mau ngungsi ke apartemen tetangga...? Inget-inget tuh....ibu hamil disarankan jangan nonton....jadi kalo penasaran tunggu si bebe keluar dulu ya....kali-kali dia juga pengen nonton. Tapi leading man-nya lumayan ganteng, euy....*mulaipenasaran*

    @Marcel, kalo gue ada di Jakarta, paling-paling lu sama si Will yang gue rayu-rayu buat nonton bareng....nonton aja gih, Cel....jadi gue bisa dapet laporan pandangan mata :-P

    ReplyDelete