Wednesday, October 6, 2010

Danielle Steel Bukan Romance

Dari semua penghuni lemari-lemari buku saya, deretan novel karya Danielle Steel adalah yang paling sering dicela sesama bookoholics. " Lho, kamu baca Danielle Steel? Suka romance juga ternyata?" Hhhh.....sampai situ aja udah cukup diskriminatif sebenernya.Sampai sekarang saya juga masih belum ngerti kenapa novel-novel romance kesannya masih ditempatkan dalam 'kasta rendah', bahkan sama sesama bookoholic sendiri. Padahal, speaking of romance, banyak lho novel genre romance yang berbobot! Tapi, itu nanti cerita lain lagi....

Sekarang saya mau cerita tentang novel-novelnya tante cantik ini.

Tahun 2006, saya pernah ikutan satu milis buku. Waktu itu forum memang belum populer.*Apa saya yang kurang gaul, ya?* Suatu kali, ada salah satu anggota yang minta saran tentang novel-novel Danielle Steel yang rencananya mau dia jadikan penelitian skripsinya. Reaksi pertama, permintaannya ini langsung dicela beberapa anggota lain. Pada sibuk kanan-kiri nyaranin buku-buku lain yang menurut mereka lebih berbobot.


Saya justru salut karena dia paling nggak udah cukup jeli mengambil penulis kontemporer buat penelitian skripsinya. Dengan semangat 45, saya sampaikan opini saya tentang Danielle Steel dan beberapa novel yang bisa dia jadikan pilihan buat observasi awal.*Sayangnya dia nggak jadi neliti novel-novel Danielle Steel karena takut sama kemungkinan dikerjain di ruang sidang....oh come on, girl!Di ruang sidang kita yang jadi expert!*

Saya memang paling 'gatel' dan keganggu kalau ada kritikus yang bilang novel-novel Danielle Steel itu murni romance. Maksudnya romance di sini a la putri-putri Disney gitu, yang tinggal tidur ratusan tahun sebelum ditemukan sama pangeran ganteng (yang tampangnya sama semua....poligami kali pangerannya, ya?) and they live happily ever after.... sedangkan para princess-nya Danielle Steel adalah perempuan-perempuan cerdas dan mandiri dari berbagai jaman, yang selalu siap fight demi mengejar kebahagiaan dan impiannya.

Dalam novel-novelnya, Danielle Steel memang gelisah terhadap posisi perempuan di masyarakat, terutama tentang persamaan hak dengan lawan jenisnya. Nggak cuma hak publik, tapi juga hak privat. Kalau cuma lihat plot ceritanya, oke, memang agak Disney-ish- karena seperti tagline-nya Tante Danielle, "....and I believe in happy endings..." tapi yang lebih penting, 'putri-putrinya' Danielle Steel- yang mayoritas profesinya lawyer (banyak banget nih yang ini!), pengusaha sukses, eksekutif muda, jurnalis tangguh, dokter, banker, sutradara- nggak pernah 'tidur' sebelum mencapai impiannya.

Kekuatan utama novel-novel Danielle Steel bukan pada plot, tapi pada tema dan latar. Steel juga sangat memperhatikan detail, apalagi di banyak novelnya, dia mengambil periode sejarah yang beragam sebagai latar. Saya belajar revolusi Rusia dari 'Zoya', relokasi warga keturunan Jepang di AS pasca Pearl Harbor dari 'Silent Honor', resistensi warga keturunan ras Aria di Eropa terhadap Hitler dari 'The Ring" dan "Echoes", diskriminasi warga kulit hitam di AS dari "Full Circle", belum lagi beberapa novelnya yang mengambil latar belakang Perang Dunia I dan II. Kelebihan Steel adalah dia mampu menjadikan latar belakang historis itu lebih personal. Misalnya, dalam 'Zoya', dia ceritakan gimana keempat anak perempuan Tsar Rusia biasa menandatangani surat-surat pribadi mereka dengan inisial OTMA, huruf awal nama mereka berempat- Olga, Tatiana, Marie, dan Anastasia. Waktu saya cross check di buku-buku sejarah, ternyata fakta ini memang benar.Di novel 'Wanderlust', Steel juga pernah cerita tentang Jenderal Rommel- salah satu jenderal andalan Hitler yang terkenal dengan Afrikakorps-nya- yang hobi fotografi, sampai-sampai saat memimpin  perang pun dia tetap membawa beberapa kamera berikut lensa-lensanya. Belum lagi cerita mengenaskan tentang orang-orang kaya di New York yang pada bunuh diri saat Great Depression tahun 1930, atau tentang kaum ningrat Rusia yang harus bekerja kasar atau jadi supir taksi di berbagai kota besar di Eropa, waktu mereka harus mengungsi dari Rusia karena situasi yang memanas saat revolusi. Itu diceritakan di 'Zoya'.

Danielle juga jago mengangkat isu-isu penting dari lingkungan yang lebih domestik. Topik favoritnya memang tentang posisi perempuan. Dalam hal ini, Danielle jeli dan kritis mengangkat isu-isu yang justru masih jarang dibahas. Misalnya, "The Long Road Home" dan "Malice" mengangkat isu child abuse di kalangan masyarakat ekonomi atas dan berpendidikan tinggi yang biasanya tersembunyi dengan rapi. "Journey" dengan sangat cerdas mengangkat kasus kekerasan non fisik dari suami terhadap istrinya, sesuatu yang masih sangat sangat jarang dibahas dan seringkali terlupakan karena memang nggak ada bekas yang kasat mata. Di novel "Lightning"- menurut saya ini salah satu novel Danielle yang paling kritis- Danielle mengangkat beban mental dan sosial yang harus ditanggung perempuan penderita kanker payudara, dengan fokus kelas menengah ke atas dan terpelajar.

Nggak selamanya 'jagoan' Danielle perempuan. Di novel "Daddy", yang diangkat justru perjuangan seorang ayah menjadi single parent setelah ditinggalin istrinya begitu saja. Di novel "Family Album", Danielle dengan jeli memotret kehidupan satu keluarga di Beverly Hills tahun 1960-an sampai 1970-an, dengan segala kompleksitasnya. "Family Album" bisa dibilang novel Danielle yang paling padat isu, mulai dari masalah feminisme, homoseksualitas, drugs sampai unwanted pregnancies ada semua di situ.

Yang saya kurang suka dari Danielle, biasanya "princess"-nya yang canggih-canggih itu berjodoh sama laki-laki yang beda umurnya 15-30 tahun lebih tua!Ini satu misteri dari Danielle yang belum bisa terpecahkan oleh saya. Kenapa ya beda umurnya mesti sekian belas atau malah sekian puluh tahun lebih tua? Kalo mesti ada jarak, 5-7 tahun aja kan udah cukup sebenernya....*kata Tante Danielle: suka-suka yang nulis, dong...*

Dari gaya penulisan, Danielle punya kecerdasan memilih kalimat-kalimat awal yang sangat captivating, alias mampu mengikat pembaca. Seorang teman yang kebetulan editor pernah bilang, toleransi pembaca itu cuma sampai 10 kalimat pertama, jadi memang 10 kalimat pertama itu sangat penting. Keunikan Danielle yang lain, dia sangat suka memakai kata "and" yang sebetulnya kata penghubung di awal kalimat. Sampai sekarang, saya belum lihat lagi penulis yang berani pakai jurus dekonstruktif seperti ini. Menurut saya, ini justru trademark-nya Danielle. Biarpun saya kebayang di awal-awal dia pasti berantem panjang sama editornya.

Beberapa tahun belakangan ini (kalo nggak salah sejak akhir tahun 2004), memang ada perubahan di novel-novel Danielle Steel. Saya menduga ghostwriter-nya ganti. Novel-novel Danielle yang terbaru lebih concised. Pace-nya masih tetap cepat. Pilihan tema dan isunya tetap smart dan setting tetap jadi keunggulan utamanya. Tapi, dialog antar tokoh-tokohnya jadi lebih irit kata. Detail- terutama detail fisik-juga nggak serigid dulu. Secara keseluruhan, format penulisan yang lebih to the point ini memang perkembangan positif. Di sisi lain, saya sering kangen sama gaya penulisan Danielle yang lama, yang betul-betul bisa membawa pembaca 'hadir' dalam setting-nya.

Selama ini, saya selalu baca novel-novelnya Danielle dalam edisi asli. Kalau boleh jujur, saya sedih banget baca edisi terjemahan Indonesianya. Pertama, dari sisi jumlah halaman aja udah nggak logis. Danielle nggak pernah nulis kurang dari 300 halaman, spasi rapat, fontsize normal. Logikanya, edisi terjemahan Indonesia harusnya lebih panjang, apalagi saya lihat fontsize-nya dua kali lebih besar. Tapi, terjemahan Indonesianya bisa cuma kurang dari 200 halaman!Pernah sekali saya coba baca, dan saya bener-bener sebel karena terjemahannya sampai mengubah cerita. Makanya saya selalu insist, kalau mau coba baca novel Danielle Steel, BACALAH EDISI ASLINYA!

9 comments:

  1. nah itu dia.. selama ini gw baca yang versi indonesia, gie.. dan baru-baru ini aja berhasil download ebook dengan bahasa aslinya.

    yang pertama gw baca si leap of faith itu, dan menurut gw ga seru banget :P kayanya itu buku terbitan baru ya?

    gw baru tau lho.. ada ghostwriternya segala.. ini gimana sih? berarti yang bikin bukan danielle-nya dong??

    begimana tuh??

    ReplyDelete
  2. Iya Pitse, Leap of Faith memang termasuk yang baru, tahun 2000 something. Memang di situ si tante ga bawa 'causes' yang lumayan kuat...lagi pengen refreshing aja kali ya? :-P Buat dirimu, coba deh 'Lightning','Zoya','Wanderlust', atau 'Echoes'. Kalo mau yang isunya lebih domestik, coba 'Accident','Changes','Journey', atau 'Family Album'.EDISI ASLI, yaaaa.....terjemahannya rusak berat soalnya!

    Oh, ghostwriter itu dugaan gue, Pitse ( hmmm...sekalian klarifikasi nich) Setau gue, rata-rata penulis top punya ghostwriter. Tapi biasanya nama mereka baru di-publish setelah si penulis meninggal. Misalnya yang dibahas panjang di wiki itu ghostwriter-nya Alexander Dumas.

    Gue pernah baca artikel menarik di Femina jaman baheula, tentang penulisan novel. Di negara-negara yang produktif nerbitin novel ( and other reading materials), yang nulis satu novel nggak cuma satu orang tapi satu tim. Jadi ada researcher-nya, ada expert staff-nya, ada linguist-nya, and so on....ide awal tetep dari penulis ( yang namanya nongol di cover), draf awal dibikin bareng-bareng, baru nanti editing ( sebelum sampe ke editor) dan draft approval dari penulis. Gue nggak tahu kalo di Indonesia, tapi di beberapa negara, ini praktek jamak banget, terutama buat penulis yang bukunya banyak ( ya kayak si Tante Danielle).

    Hmmm....jadi kepikiran...apa ini salah satu alasan kenapa dalam bahasa Inggris, penulis disebut "author", bukannya "writer". Mungkin ada hubungannya sama kata "to authorize"? *agakngacotapiworththinkin*

    ReplyDelete
  3. kalau novel pertama Danielle Steel yang Going Home, menurut anda gimana?

    ReplyDelete
  4. Wow tugas dari dosen saya brought me here lah
    Saya suka cara kamu menyampaikan opini kamu disini, kamu terlihat menggebu-gebu dan sangat bersemangat..
    Btw, kira2 buku karya Danielle Steel ini bisa dicari dimana ya kalo online?
    Well saya sedikit pesimis klo mau cari di toko fisik di akhir tahun 2015 ini..

    ReplyDelete
  5. Wow. Hai kak! Makasih loh sudah nulis ini. Susah juga nyari tentang Danielle Steel (dalam bahasa) hehe. Saya sebenernya enggak pernah dengar nama beliau, soalnya saya lebih suka baca buku yang penulis2nya terdengar familiar heheh, ga banget yah._. .
    Tapi kebetulan sekali, pas saya sedang mengemaskan ruangan yang lamaaa sekali ga tersentuh di rumah saya dan membongkar rak bukunya, saya ketemu salah satu buku Steel terbitan 20 tahun lalu! Maklum ini rumah lama yang ditinggali keluarga turun menurun :D . Judulnya A Perfect Stranger. Ga ada disebut-sebut di artikel atas, jadi kayaknya bukan karya terbaik ya? .
    Saya bukan orang yang terlalu memperhatikan gaya penulisan, jadi menurut saya terjemahannya pas saja sih. Dan intinya, saya akui Danielle Steel emang hebat banget :''' bahkan jika ini bukan karya terbaik. Gimana dengan karya terbaiknya ya? Heheh.

    Sekali lagi, makasih ya buat infonya. :) membantu saya lebih mengetahui ttg beliau dan semangat buat cari buku-bukunya!

    ReplyDelete
  6. coba deh baca Kaleidoscope, mantap 😎

    ReplyDelete
  7. Thurston house jg kece ceritanya. Mksh ya buat bahasannya

    ReplyDelete
  8. Danielle steel ini nomer 1 di daftar author favorite aku. N aku ga tau klo ternyata versi indonesianya bisa jadi beda jln cerita sama aslinya. Mgkn hrs nyari nih versi asli, buat pembanding...

    ReplyDelete