Bukunya kecil, ringan, dan nggak terlalu tebal. Saya temukan di bagian khusus buku diskon di American Book Centre di Den Haag, sekitar tahun 2007. Karena memang saya paling hobby baca memoir/otobiografi/kumpulan surat atau diary, apalagi yang udah didiskon dan kondisinya masih mint, jadi saya angkut buku ini.Buku ini jadi memorable buat saya justru karena isinya yang sederhana dan apa adanya. Malah, sampai sekarang buku ini masih memegang rekor buku yang saya selesaikan tercepat (selain buku anak-anak). Saya cuma butuh satu kali trayek kereta api NS ( Netherlaands Spoorwagen) Rotterdam-Leiden-Rotterdam yang totalnya kurang lebih 1 1/2 jam ditambah 1 jam lagi.
84, Charing Cross Road adalah kumpulan surat antara Helen Hanff ( sampai sekarang saya masih bingung gimana pelafalan namanya ...:-P ), seorang penulis naskah drama yang tinggal di New York, dengan Frank Doel, pemilik toko buku bekas di London. Tepatnya ya di 84, Charing Cross Road itu. Sederhana banget, kan? Korespondensi antara pemilik toko buku sama pembelinya. Tapi, harap diingat, settingnya pasca Perang Dunia II. Jadi, jauh banget dari era internet, e-bay, amazon.com, craigslist, kijiji, marktplaats, dan sebangsanya. Setahu saya, di masa itu yang paling canggih baru sistem belanja lewat katalog yang tentunya masih serba manual.
Helene Hanff mulai berkorespondensi dengan Frank Doel tahun 1949. Di surat pertamanya, Helene memesan beberapa buku ( yang waktu itu pun sudah susah dicari!) ke Frank yang baru memasang iklan di harian New York Times. Surat pertama Helene ini singkat dan to the point, mirip kalau kita kirim konfirmasi pesanan barang ke e-bay dan temen-temennya itu. Ternyata, itulah awal korespondensi mereka selama 20 tahun selanjutnya!
Makin lama, surat-surat antara Helene dan Frank jadi makin personal. Bukan lagi sekedar surat pesanan dari konsumen ke toko buku favoritnya. Mereka mulai bertukar informasi pribadi. Helene masih sendiri ( dan kayaknya tetap sendirian buat seterusnya), tapi Frank sudah berkeluarga ( malah sudah menikah 2 kali). Nggak cuma Frank, tapi semua staff toko buku di 84, Charing Cross Road itu juga akhirnya ikutan surat-suratan sama Helene. Mereka terkesan dengan style surat-surat Helene yang witty ( penulis, sih!). Biarpun intinya cuma pesan buku, tapi gaya bahasa Helene sangat ramah. Kayak nulis e-mail ke temen baik. Apalagi, saking terkesannya sama servis yang diberikan Frank cs karena selalu sukses menemukan buku-buku yang dicari Helene, juga karena dia memang baik hati, sesekali Helene mengirimkan bingkisan makanan buat staf-staf toko buku itu. Tahun '49 itu, Eropa memang masih belum sepenuhnya recover dari PD II, supply makanan juga masih belum lancar. Helene beberapa kali kirim makanan kaleng, malah sesekali ditambah telur segar! Waktu itu lagi jadi makanan mewah banget di negerinya Ratu Elizabeth gara-gara perang.
Sebagai bookoholic, Helene sangat berkarakter. Dia punya habit yang unik: termasuk 'jarang' beli buku! Tapi, Helene rajin pinjam buku dari perpustakaan. Taste-nya juga sangat spesifik. Dia paling nggak suka baca fiksi. Favoritnya buku-buku filosofis, diary, dan puisi. Dalam salah satu suratnya, dia pernah ngomel-ngomel sama Frank ( kayaknya cuma sekali itu deh Frank gagal nyari buku pesanan Helene) karena cuma ngirimin versi singkat ( concised) diary-nya Samuel Pepys, anggota parlemen slash playboy aristokrat asal Inggris yang memang dianggap 'mbah'-nya diarists. (Sampai sekarang juga nemuin edisi lengkap diary-nya Samuel Pepys yang sampai belasan buku itu susahnya setengah mati!) Helene cuma beli buku yang dia betul-betul suka ( dan sudah pernah dibaca). Tapi, dia bisa baca satu buku berkali-kali! Satu lagi kebiasaan Helene yang tergolong langka bahkan 'dosa besar' buat umumnya bookoholic: nggak semua buku disimpen. Di apartemennya yang kecil, dia cuma punya satu rak buku. Tiap musim semi, isinya dipilih-pilih. Yang udah jarang dibaca dikasih ke temennya yang butuh. * kalo ada lagi bookoholic yang kayak gini saya dengan senang hati jadi keranjang sampah*
Frank sangat paham selera Helene. Nggak jarang, dia juga menawarkan buku-buku yang dia temuin sebelum dipajang di toko bukunya. Sebagai sesama bookoholic, Frank juga mencoba menawarkan sesuatu yang baru buat Helene. Misalnya, menyarankan beberapa novel yang nilai filosofisnya tinggi. Di surat-surat terakhir, Helene malah jadi ngefans sama Jane Austen, gara-gara dikirimin Frank novel "Pride and Prejudice". Malah, di surat yang paling akhir, Frank lagi berusaha nyariin set novel kompletnya Jane Austen buat Helene.
Helene dan Frank nggak pernah ketemu langsung. Tapi, Helene-lah best customer di 84, Charing Cross Road. Sampai-sampai kalau ada teman Helene yang lagi liburan di London dan mampir ke toko buku itu, semua staf pasti ngajak mereka makan malam. Frank meninggal tahun 1969 karena infeksi pasca operasi usus buntu ( sedih banget waktu baca surat yang ditulis salah satu karyawannya buat Helene). Nggak berapa lama, toko bukunya ditutup.
Helene sendiri akhirnya kesampaian pergi ke London tahun '70-an. Satu-satunya kota impian Helene. Di sana, Helene ketemu sama istri dan anak tunggal Frank, plus sebagian besar mantan karyawannya. Helene bahkan sempat pergi ke 84, Charing Cross Road, sendirian masuk dari satu ruang ke ruang lain di gedung bekas toko buku yang udah kosong itu.
Waktu saya sendiri berkesempatan pergi ke London tahun 2008, saya sempetin juga cari 84, Charing Cross Road ini dan bikin bingung temen-temen saya.Memang sih, sampai sekarang di jalan itu berderet toko-toko buku baru dan second. Saya juga tau toko bukunya Frank udah lama almarhum. Tapi penasaran aja, pengen juga ngerasain intimacy antara Helene dan Frank. Ternyata, alamatnya memang masih ada. Tetap 84, Charing Cross Road. Tapi, si toko buku sekarang sudah jadi ....Pizza Hut! Satu-satunya keaslian yang masih ada cuma lampu kuno di atas pintu depan....
Gw doain, gie.. supaya lu mewarisi sifat helen, yaitu cuma punya 1 rak buku.. dan bagi-bagiin buku yang jarang dibaca ke temennya yang lain.. yaitu gw.. :P
ReplyDeleteLho, rak buku gue emang cuma satu, Pitse....satu rumah! wkwkwk....
ReplyDeletePitse, di sini kan gue beberapa kali beli buku dari e-bay. Beberapa penjualnya ada yang attach 'personal touch' di paketnya. Ada yang kirim kartu yang message-nya, "Thank you for helping us make a little extra room in our bookshelves", ada yang kirim foto keluarga, atau seenggaknya kartu yang ada tulisannya "Enjoy these lovely books!". Seneng juga terima personal gesture yang manual begini setelah kebiasaan sama yang serba digital. Biarpun belum sampe ngirim-ngirimin makanan kayak Helene...hihihi...
ReplyDeleteGara gara nonton find the mister right 2. Gua sampe nyari ulasan ini
ReplyDeleteGara gara nonton find the mister right 2. Gua sampe nyari ulasan ini
ReplyDeleteGara gara nonton find the mister right 2. Gua sampe nyari ulasan ini
ReplyDeletetidak sengaja nonton find the mister right 2 jadi penasaran dan cari ulasannya.
ReplyDeleteGw akhirnya penasaran dengan ini buku, soalnya jadi inspirasi banyak orang buat bikin film, kayak film love book, btw seru ulasannya...keren..
ReplyDelete